Islam itu Agama Kerja bukan Agama Fatalis

23 February 2016

OLEH: PROF. DR. MAHMOUD HAMDI ZAQZOUQ

Mereka yang mencermati ayat-ayat al-Qur'an akan segera meyakini bahwa Islam adalah agama "kerja" yang mendorong umatnya untuk berkarya. Bekerja adalah keniscayaan hidup. Tanpa bekerja, kehidupan akan berhenti. Oleh karenanya, dalam banyak ayat al-Qur'an, ditemukan perintah untuk beriman seringkali didampingi oleh, dan dilanjutkan dengan perintah amal shaleh. Dan amal shaleh yang diperintahkan Allah dalam al-Qur'an itu sebenarnya mencakup semua amal keagamaan dan keduniaan sekaligus, yang dilakukan untuk mencari ridho Allah dan memberikan kemanfaatan bagi peradaban umat manusia. 

Perintah beramal-bekerja dan berkarya-itu sendiri sangat jelas dan gamblang dalam Islam. Perhatikan misalnya firman Allah swt. dalam Q.S at-Taubah [9]: 105.: 

Dan katakanlah, " Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu." 

Bahkan betapa tingginya apresiasi Islam terhadap kerja dan kaya itu, umat islam tetap diperintahkan melakukannya pada hari Jum'at yang sebenarnya menjadi hari besar mingguan Islam, sebagaiamana firman Allah swt: 

" Apabila telah ditunaikan shalat ( Jum'at ), maka bertebaranlah kamu sekalian di muka bumi; dan carilah karunia Allah." ( Q.S. al-Jumu'ah [62]: 10.)

Apresiasi islam terhadap kerja dan karya juga dapat ditangkap dari anjuran Rasulullah saw. untuk beramal meskipun pada saat terakhir kehidupan seseorang, atau bahkan sesaat sebelum berakhirnya kehidupan di dunia yang fana ini, " Jika hari kiamat datang dan di tangan salah seorang dari kalian sebutir biji ( Bibit Pohon ) yang bisa ditaam, maka hendaknya ia menanamnya," demikian sabda Nabi saw. ( H.R Ahmad dalam Musnad-nya, jilid 3, hal.184 )

Keharusan bekerja dalam islam seperti digambarkan diatas membuat Nabi saw. pernah menolak keinginan beberapa orang yang bermaksud menggunakan waktu mereka hanya beribadah dalam masjid, sementara kehidupan mereka-kebutuhan sandang dan pangan- dibebankan di atas pundak orang lain. Sebaliknya, Rasulullah saw. memuji mereka yang hidup dari hasil usaha dan keringat mereka sendiri, "Tangan pekerja," sabda Rasulullah, "Adalah tangan yang dicintai Allah dan Rasul-Nya."

Dalam al-Qur'an, Nabi Muhammad saw. adalah teladan dan panutan, uswah dan qudwah bagi umatnya. Sejarah hidup Beliau telah memberikan keteladanan sebagai seorang pekerja keras; bekerja dengan perencanaan yang matang. Beliau selalu mempersiapkan dan merencanakan hal-hal yang diperlukan sebelum melakukan suatu tindakan dengan tetap berpegang pada asas kausalitas. Setelah itu, barulah bertawakal dan menyerahkan diri kepada Allah.

Bertawakal kepada Allah swt., dengan demikian, tidak meninggalkan kerja dan ikhtiar dan mengabaikan hukum sebab akibat. Tawakal yang benar adalah langkah lanjutan setelah dilakukannya persiapan, perencanaan dan usaha. Sikap tawakal inilah sebenarnya yang mengingatkan seorang muslim kepada Tuhannya dan menumbuhkan etos-kekuatan spirituil-yang membuat seseorang tidak cepat putus asa menghadapi tantangan dan kesulitan. Dengan kata lain, sikap tawakal lebih merupakan energi positif yang mampu mendorong seseorang untuk bekerja keras, bukan mental negatif yang mengajak kepada sikap fatalis.

Fatalisme adalah sebentuk sikap mental yang lahir dari pengabaian atas hukum sebab-akibat (Kausalitas) dan keenganan berusaha dan bekerja sambil berangan-angan Allah akan melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Sikap seperti ini tentu saja sangat ditolak oleh Islam. Allah swt. tidak akan menolong mereka yang tidak mau menolong dirinya sendiri, pertolongan dan bantuan Allah akan diberikan kepada mereka yang mau bekerja dan berusaha, sebagaiamana firman-Nya:

"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada mereka sendiri."  (Q.S. ar-Ra'd [13]:11)

Karena pemahaman yang benar terhadap Islam dalam menghargai kerja dan amal shaleh, Umar bin Khattab pernah mengusir mereka yang tidak mau bekerja dan hanya beribadah dalam masjid, sementara orang lain sibuk dan menyediakan keperluan mereka. Menurutnya, sikap fatalis dan tidak mau bekerrja bukanlah sikap tawakal yang diinginkan dalam Islam. " Sesngguhnya langit tidak akan menurunkan hujan emas dan perak." demikian ungkapan ironis Umar yang ditujukan kepada mereka yang mengharapkan sesuatu tanpa usaha. 

Sesungguhnya, pemahaman tawakal yang benar dari sahabat agung yang menjadi Khalifah ke-2 ini tidak lain berlandaskan sebuah Hadits Nabi yang menyatakan bahwa, "Kalaulah kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Dia akan mengaruniakan kepada kalian rezeki sebagaimana burung-burung diberi rezeki; mereka berangkat pagi hari dengan perut yang kosong dan kembali pada sore hari dengan perut terisi." Hadist Ini jelas mengandung perintah untuk bekerja sebagaimana halnya kawanan burung yang bergegas keluar dari sarangnya setiap pagi dalam keadaan lapar untuk mencari makanan. Dengan "kerja" seperti itulah mereka dapat kembali ke sarang pada sore hari dalam keadaan perut sudah terisi. [Akhmad Syofwandi]

*Sumber: Buku Islam di Hujat Islam Menjawab; Tanggapan atas Tuduhan dan Kesalahpahaman. Terjemah dari kitab Haqa'iq Islamiyyah fi Muwajahat Hamalat at-Tasykik.

Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang