Bersedihlah Ketika Temanmu Berhutang

23 February 2016

Suatu hari seorang pria berkunjung ke rumah temannya. Setelah bertemu, sang teman bertanya kepadanya:
"Angin apa yang membawamu kesini?"

"Aku membutuhkan uang empat ratus dirham," jawabnya.

Sang teman segera mengambil uang sebanyak empat ratus dirham dan menyerahkannya kepada temannya itu. Setelah temannya pergi, ia pun menangis. Tangisan pria itu diketahui oleh istrinya.

"Kenapa engkau menangis? Apakah engkau keberatan memenuhi permintaannya ?" tanya sang istri

"Bukan, bukan. Aku menangis karena menyesal, kenapa selama ini aku tidak mengetahui keadaannya, sampai-sampai ia datang menemuiku untuk berhutang padaku.." jawabnya.

Dalam kisah diatas kita dapat hikmah bahwa teman yang baik selalu ingin melihat temannya berbahagia. Ia akan berusaha membahagiakan temannya dengan apapun yang ia mampu. Dalam sebuah Hadits Rasulullah saw bersabda:

"Tidaklah sempurna iman salah seorang di antara kalian sebelum ia dapat menginginkan untuk saudaranya segala sesuatu (kebaikan) yang ia inginkan untuk dirinya. (H.R Bukhari)

Demikianlah sifat mukmin sejati, bukan ia yang tidak peduli dengan nasib saudaranya. Perhatikan kisah di atas, pria itu menangis hanya karena menyesal kenapa ia lengah tentang keadaan temannya sehingga temannya mendatanginya untuk meminjam uang. Ia merasakan betapa berat beban rasa malu yang ada dalam hati temannya itu. Ia mengerti betapa sulit permasalahan yang dihadapi temannya itu. Mutharrif bin Syakhir, " Jika salah seorang di antara kalian menginginkan sesuatu dariku, tulis aja di selembar kertas. Aku tidak ingin melihat rasa hina di wajahnya karena harus meminta kepada seseorang."

Lain halnya dengan kita, kita jarang, teman yang datang, dengan beban rasa malu yang luar biasa dihati, untuk berhutang, tetapi kita tidak mewujudkan hajatnya itu. Padahal kita mampu. Marilah kita belajar menempatkan diri kita seandainya berada di posisinya, bagaimana kiranya perasaan kita. [akhmad syofwandi]

*Sumber: Buku Akhlak Para Wali; Kisah-Kisah yang Menggetarkan Jiwa Sepanjang Masa, Habib Novel bin Muhammad Alaydrus.
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang