M. Quraish Shihab: Al-Quran Memuaskan Para Pemikir dan Orang Kebanyakan

20 February 2016

Oleh : M. Quraish Shihab

Jika Anda membaca suatu artikel, maka Anda boleh menilainya sangat dangkal sehingga tidak sesuai dengan selera pemikir dan ilmuwan. Boleh jadi juga sebaliknya, sehingga ia tidak dapat dikonsumsi oleh orang kebanyakan.

Al-Quran tidak demikian. Bisa jadi seorang awam akan merasa puas dan memahami ayat-ayat al-Quran sesuai dengan keterbatasannya, tetapi ayat yang sama dapat dipahami dengan luas oleh filosof dalam pengertian baru yang tidak terjangkau oleh orang kebanyakan. Perdengarkanlah kepada orang kebanyakan ayat 78-82 dalam surah Yasin. Sungguh jelas maksud kandungan ayta-ayat tersebut dan lurus maknanya. Tetapi, persilahkan seorang filsuf mendengarkan dan mengalisisnya, maka Anda akan memperoleh suatu uraian yang sangat mendalam lagi luas.



Marilah kita dengarkan uraian filosof al-Kindi tentang kandungan ayat tersebut seperti dikutip oleh Abdul Halim Mahmud dalam bukunya Tafkir al-Falsafi fi al-Islam.

Menurut al-Kindi, ayat ini menegaskan bahwa:

Pertama, keberadaan kembali sesuatu setelah kepunahannya adalah bisa atau mungkin terjadi, karena menghimpun sesuatu yang telah terpisah-pisah lebih mudah daripada mewujudkannya pertama kali. Walaupun bagi Allah tidak ada istilah “lebih mudah atau lebih sulit”.

Kedua, kehadiran atau wujud sesuatu dari sumber yang berlawanan dengannya bisa terjadi, sebagaimana terciptanya api dari daun hijau (yang mengandung air). Ketiga, menciptakan manusia dan menghidupkannya setelah kematian sama mudahnya dengan menciptakan alam raya yang sebelumnya tidak pernah ada. Keempat, untuk menciptakan dan atau melakukan sesuatu betapapun agungnya ciptaan itu, bagi Tuhan tidak diperlukan adanya waktu atau materi, dan ini berbeda dengan makhluk yang selalu membutuhkan keduanya. Ini bisa di pahami dari firman-Nya,”Jadilah, maka jadilah ia.”

Anda jangan menduga bahwa hanya itu yang dapat ditarik dari ayat ini. Kalau filosof memahaminya demikian, maka ilmuwan memiliki pemahaman yang lain. Istilah “al-syajar al-akhdar” menurut sementara mereka adalah “zat hijau daun” atau yang dikenal dengan chlorophyll.

Begitulah pemahaman mereka. Ini terjadi melalui proses fotosintesis, yaitu proses penggabungan secara biokimia dengan menggunakan cahaya matahari sebagai sumber energi antara karbondioksida dan air oleh tumbuh-tumbuhan untuk membentuk zat hidrat arang.

Nah, penjelasannya yang demikian itulah yang dimaksud oleh ayat dalam surah Yasin tersebut. Melalui tumbuhan berwarna hijau, makhluk dapat memperoleh api atau energi. Memang sel-sel tumbuhan ibarat seperti pabrik yang membuat makanan tumbuhan. Pabrik ini menggunakan penangkap energi sinar matahari sebagai kekuatan. Tumbuhan menggunakan energi yang disimpannya untuk tumbuh. Tumbuhan juga dimakan binatang. Karena itu, beberapa energi yang disimpan dalam tumbuhan diteruskan ke binatang dan manusia.

Demikianlah, kemahakuasaan Allah dan demikian pula informasinya kepada Nabi Muhammad. [bq]

Sumber: Mata Air Edisi 34 Tahun 2010. Halaman 9. Prof. Dr. M. Quraish Shihab. Al-Quran Memuaskan Para Pemikir dan Orang Kebanyakan.
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang