Majelis Maulid Burdah, Surabaya: Sarana Untuk Berbagai Hajat

23 February 2016

Jamaah majelis Burdah meyakini, dibacakannya qashidah ini akan membantu mempercepat dikabulkannya doa. Khususnya bagi orang-orang yang menderita sakit.
 
Di beberapa kota dikenal majelis Burdah, seperti Majelis Burdah di Kauman Krenda, Semarang, yang dipimpin Habib Ahmad al-Munawwar. Di Bandung, Majelis Maulid Burdah Masjid Assalam, yang dipimpin Habib Zaky Alkaff. Dan yang lebih tua adalah Majelis Maulid Burdah datang dari berbagai tempat di Surabaya, bahkan ada yang datang dari kota-kota sekitar Kota Pahlawan ini. Membludaknya jamaah ini, tidak lain, karena mereka membuktikan barakah doa yang diterima setelah membaca maulid Burdah.
 
 
 Habib Syech bin Muhammad Masyhur bin Husain bin Zainal Abidin Alaydrus
Putra Ketiga Habib Muhammad Masyhur Alaydrus, Penerus Majelis Burdah Surabaya
 
Kehebatan Maulid Burdah tidak lepas dari kisah sang penggubah. Sebelum menggubah qashidah Maulid ini, kaki Imam Bushiri lumpuh. Karena kerinduannya ingin “berjupa” dengan Nabi Muhammad SAW, ia naik haji ke Makkah dan berziarah ke makam Nabi di Madinah.
 
Pada malam harinya, dalam perjalanan itu, dalam tidurnya ia bermimpi bertemu Nabi Muhammad SAW. Dalam mimpinya, Nabi Muhammad SAW memberi burdah (kain selimut) untuk menutupi kakinya. Ketika bangun, Imam Bushiri merasakan sesuatu yang aneh pada tubuhnya. Kakinya, yang selama ini lumpuh, dapat digerakkan. Dan ia bisa berjalan sebagaimana orang lain.
 
Cahaya Penerang
 
Habib Muhammad lahir di Tarim al-Ghana’ (Tarim yang Subur), Hadhramaut, Yaman, tahun 1902 M. Ayahnya, Habib Husain bin Zainal Abidin Alaydrus, memberinya nama Muhammad Masyhur.
Pada waktu kecil, dia dididik pengetahuan agama oleh ayahnya. Menjelang dewasa, dia merantau ke Singapura beberapa bulan dan kemudian pindah ke kota Palembang, Sumatera Selatan. Di Kota Pempek ini, dia berguru kepada pamannya, Habib Musthafa Alaydrus, kemudian menikah dengan sepupunya, Aisyah binti Musthafa Alaydrus. Dari pernikahan itu, dia dikaruniai tiga anak lelaki dan seorang anak perempuan.
 
Setelah berumah tangga, bersama istrinya dia pindah ke Pekalongan, Jawa Tengah. Di Kota Batik ini, Habib Muhammad mendampingi Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alatas berdakwah. Beberapa tahun kemudian dia dan keluarga boyongan ke Surabaya, mengikuti dakwah para wali di Surabaya, Jawa Timur. Di antaranya, Habib Muhammad bin Ahmad al-Muhdhar, Habib Muhammad bin Idrus al-Habsy, dan Habib Abu Bakar bin Umar bin Yahya.
 
Di kota inilah Habib Muhammad memulai kiprahnya dalam dakwah dan membina Majelis Maulid Burdah Ketapang Kecil I No.6 Kawasan Ampel, Surabaya, hingga meninggal pada 22 Juni 1969/30 Jumadil Awwal 1389 H dalam usia 67 tahun (menurut hitungan tahun Masehi). Sesuai wasiatnya, ia dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Penggirian Surabaya, berdampingan dengan makam pamannya, Habib Musthafa Alaydrus. Dari tanggal wafatnya ini pihak keluarga menetapkan hari haulnya pada hari Kamis terakhir bulan Jumadil Awwal.
 
Mengapa Habib Muhammad mendapat julukan Habib Neon? Habib Syech al-Musawwa, sohibnya yang kini mengisi tausiyah menjelang pembacaan Maulid Burdah pada ba’da ashar, mengisahkan, pada suatu saat ada majelis ta’lim di kota Surabaya. Tiba-tiba listrik padam, sehingga keadaan sekitar masjid menjadi gelap. Namun tak dinyana ada seberkas cahaya terang seperti neon masuk ke dalam masjid.
 
Setelah semakin jelas, cahaya neon itu ternyata sinar yang memancar dari tubuh Habib Muhammad. Sejak itulah, masyarakat menggelari dirinya Habib Neon.
 
Gelar ini juga berarti bahwa dia adalah pembawa cahaya penerangan dalam ilmu agama. Ilmunya yang memancar melalui lidahnya telah menerangi ribuan hati umat yang menyimak taushiyah maupun nasihat-nasihatnya. Khususnya, penerangan hati itu mereka terima ketika mengikuti majelis Maulid Burdah pada malam Jum’at di rumahnya, Jalan Ketapang Kecil kawasan Ampel, Surabaya. Dakwahnya sekarang diteruskan Habib Syech, putranya yang ke tiga.
 
Di kampung Ketapang Kecil itu, ba’da ashar, taushiyahnya disampaikan oleh Habib Syech al-Musawwa, sohib Habib Neon yang masih hidup. Ba’da maghrib, barulah Habib Syech bin Muhammad Alaydrus memimpin pembacaan Maulid Burdah hingga selesai.
 
Habib Syech Alaydrus, yang oleh Habib Abdurrahman bin Syech Alatas, Asembaris, Jakarta, dijuluki sebagai salah seorang “Paku Bumi” di Jawa, meneruskan dakwah ayahnya. Banyak jamaah yang membawa air dalam botol ketika mengikuti pembacaan Maulid Burdah. Mereka menggunakan air yang didoakan itu sebagai sarana untuk berbagai hajat yang mereka inginkan. [bq]
 
Sumber: AlKisah No. 05/25 Feb.-9 Mar. 2006. Halaman 31-33

Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang