Ngaji: Ngalap Aji, Tak Sekedar Ngalap Ngerti

22 February 2016

OLEH: ZIA UL HAQ

لا يكون المريد مريدا حتى يجد في القرآن كل ما يريد - ويعرف النقصان من المزيد - ويستغني بالمولى 
من العبيد - ويستوي عنده الذهب والصعيد

“Tidaklah seorang murid (orang yang menghendaki kebaikan akhirat) benar-benar menjadi seorang murid sehingga ia bisa temukan di dalam al-Quran apa yang ia kehendaki, mengenali kekurangan sebagai anugerah, merasa cukup dengan Sang Tuan daripada hamba, serta sama baginya antara emas dan kerikil.”


Kalimat di atas adalah salah satu mutiara dalam bab penutup Risalah Adabu Sulukil Murid karya Sayyid Abdullah bin Alawi al-Haddad (1044-1132 H). Istilah ‘murid’ secara letterlijk (lughowi) berarti ‘orang yang menghendaki’, sedangkan secara istilah, ‘murid’ berarti orang yang menghendaki dan menapaki jalan menuju keridhaan Tuhan. Penggunaan istilah ‘murid’ yang posisinya sebagai ‘pelaku’ yakni ‘orang yang berkehendak’, memiliki makna bahwa harus ada peran aktif dari si murid untuk mencapai tujuannya.

Mungkin kita bisa paham dengan satu atau dua kali membaca rangkaian kalimat di atas, namun tentu terjadi efek yang berbeda-beda di antara kita.

Orang semacam saya yang tidak punya pengalaman apa-apa tentang laku spiritual mungkin bisa memahami pernyataan al-Haddad di atas sebagai deskripsi karakteristik seorang pelaku spiritual sejati (murid). Kemudian menjabarkannya dengan pendekatan empiris dan membedahnya dengan pisau analisis. Sehingga untaian kalimat tersebut hanya menjadi muatan kognitif di dalam memori dan penalaran saya, atau yang disebut dengan: ‘pengetahuan’.

Berbeda halnya dengan Anda yang sudah berpengalaman melalui sekian banyak tempaan zaman. Tidak hanya menadah curahan pengetahuan dari guru-guru selama sekian tahun, tetapi juga merangkak dan sejengkal demi sejengkal menapaki jejak-jejak yang pernah ditapaki pula oleh para pendahulu. Serta telah melakoni begitu banyak kepayahan fisik maupun psikis yang tak terlukiskan. Nah, bagi Anda yang telah mengalami hal-hal tersebut, bisa jadi kalimat al-Haddad di atas tidak sekedar menjadi kalimat informatif, tetapi lebih terasa sebagai kabar gembira sekaligus hantaman keras yang menggetarkan jiwa. Inilah dampak dari apa yang disebut dengan: ‘pengalaman’.

Mungkin dengan membaca kalimat al-Haddad di atas, kemudian merenunginya beberapa saat, saya bisa maju ke depan mimbar dan berorasi berparagraf-paragraf dengan tunjangan ayat-ayat al-Quran maupun Hadits Rasulillah. Sebaliknya, mungkin ketika Anda yang membacanya, Anda justru tergagap dan kelu lidah, tak bisa berkata-kata, sangkin hebatnya gemuruh di dalam dada Anda, hingga terisak lirih dan mulai berurai air mata.

Ibarat bunga, pastinya ceramah panjang lebar yang saya sampaikan tidak ada sepersepuluh persen sarinya dari isakan tangis Anda. Kumbang yang paham tentu akan lebih ramai mengerubungi Anda ketimbang saya. Begitulah seharusnya, beda jauh antara yang karbitan dengan yang matang sebab endapan nilai sekian lama.

Apa yang saya lakukan dengan menganalisa secara tekstual dan upaya Anda berupa lelaku bertahun-tahun mungkin bisa sama-sama disebut sebagai proses belajar. Namun belum tentu bisa sama-sama disebut ‘ngaji’.

Beberapa malam lalu, di dalam lelap, ada seseorang berwajah cerah yang tidak saya kenal menyampaikan teguran secara berulang-ulang dengan begitu gamblang. Katanya;

“Ngaji itu ngalap aji. Zaman sekarang banyak orang yang hanya mengisi kepalanya dengan pengetahuan tetapi tidak mendapatkan aji.

Setelah terjaga, saya mulai mengorek-ngorek apa salah saya kok ditegur sedemikian pahitnya. Wah, jangan-jangan saya termasuk endas groak yang hanya memahami ‘ngaji’ hanya sebagai mengisi kepala dengan berbagai macam pengetahuan?!

Lalu apa itu Ngaji? Konon, Ngaji merupakan bentuk kata kerja; memperoleh Aji. SedangkanAji merupakan serapan dari Bahasa Kawi yang berarti kemuliaan, keluhuran, atau hal yang tak bisa dinilai dengan materi, priceless.

Berbeda dengan istilah Bahasa Indonesia; “Mengkaji”, berasal dari kata dasar “Kaji” yang merupakan serapan dari Bahasa Melayu, memiliki makna ganda; ‘pelajaran (agama)’, dan ‘penyelidikan’ tentang sesuatu. Sehingga akan sangat kontras perbedaannya antara ‘mengaji’ dan ‘mengkaji’. Kata ini lebih cenderung ke tataran pengetahuan, penelaahan, penelitiaan, dan semacamnya. Kata ‘kaji’ yang beranak turun menjadi ‘kajian’ maupun ‘pengkajian’ini mulai populer digunakan di era Orde Baru, satu masa yang menandai dirinya dengan pemisahan antara yang ‘relijius’ dan ilmiah sekuler. Sehingga secara terang-terangan pada akhirnya ‘pengajian’ digunakan oleh kegiatan-kegiatan bernuansa agama, sedangkan ‘pengkajian’ dipakai oleh badan-badan riset keilmiahan. Kemudian akhir-akhir ini banyak kegiatan keagamaan –khususnya yang digelar anak-anak muda- menggunakan istilah ‘kajian’.

Entahlah, repot sekali bangsa ini. Oke, daripada mumet, kita kembali ke ‘Ngaji’ alias ‘ngalap aji’ yang berakar dari Bahasa Kawi.

Sayangnya saat ini, aktivitas Ngaji yang identik dengan proses pendidikan di berbagai tempat -dicurigai- hanya didominasi dengan tuangan-tuangan kognisi. Yakni upaya agar seorang peserta didik tahu dan mengerti terhadap suatu hal namun buta terhadap realita dan lumpuh bagaimana mempraktekkannya. Atau mungkin dia tahu dan bisa namun tidak paham kemana arah tujuannya dan untuk apa hal-hal tersebut. Yang ia tahu semua itu diperuntukkan hanyalah untuk: perolehan nominal nilai di lembar raport hari ini, dan nominal rupiah di slip gaji esok nanti.

Belum lagi aktivitas tersebut dibumbui dengan nafsu unggul-mengungguli, kalah-mengalahkan, dan saling bersaing. Sehingga rentan menimbulkan benih superioritas (congkak) bagi yang dianggap berprestasi dan inferioritas (minder) bagi yang dianggap bodoh. Itupun dengan penilaian yang tidak fair. Padahal dalam konsep ngaji, kedua hal tersebut (tinggi hati dan rendah diri) sangat menghambat proses menuju kemuliaan, bahkan cenderung licin dan fatal.

Ketika proses pendidikan hanya berfokus pada pemahaman literer terhadap apa yang dibaca dan diterangkan dalam bentuk tulisan-tulisan, sama sekali tidak akan mengantarkan menuju Aji. Semua itu hanya akan tercapai dengan adanya tuntunan dan teladan. Di sinilah posisi penting seorang guru sebagai teladan. Teladan dalam pemahaman, pun teladan dalam kelakuan. Guru apapun, siapapun, dimanapun. Di sinilah pentingnya proses antara guru dan murid, entah itu di sekolah, majelis, madrasah, pesantren, kursus, atau institusi apapun.

Jadi, ngaji seperti apa yang sebenar-benarnya ngaji? Entahlah, saya kira Anda lebih paham. Yang jelas, ngaji tidak hanya berupa pengetahuan dari lembaran-lembaran buku yang diolah dengan penalaran akal.Tetapi juga pemahaman mendalam dari apa yang dialami bersama guru, teman-teman, keluarga, alam sekitar, atau bahkan keheningan malam. Dan semua itu tentu tidak ditujukan untuk perolehan materi semata, apapun bentuknya. Melainkan untuk mencapai hal yang justru tidak dapat dibandingkan dengan nilai materi semahal apapun, yang kita sebut sebagai: ‘kemuliaan’.

Ngaji adalah pencapaian kombinasi kompetensi yang dalam ranah pendidikan disebut dengan kognisi-afeksi-psikomotor. Karena Ngaji dimulai dengan menanam kerendahhatian di hadapan siapapun, kemudian menyelami pemahaman dari apapun. Lalu diejawantahkan dalam bentuk persaudaraan sesama hamba, demi mencapai suatu keayeman dalam menghamba, sebagai proses menuju kemuliaan di hadirat Tuhan, muara segala hamba.Ngalap Aji Ing Ngarsa Gusti. Wallahu A’lam. []
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2016 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang