Pemuda Sampah; Mengenal Gerakan Pemuda Peduli Lingkungan Tegal

2 February 2016

OLEH: ABDULLAH MUBAQI

Siang yang cerah ketika anak-anak muda ini berkumpul di Markas Santrijagad. Mereka sedang mengobrolkan penanggulangan sampah yang diupayakan oleh Gerakan Pemuda Peduli Lingkungan (GPPL) Balapulang Wetan, Tegal. Sebagai moderator, Zia menyampaikan pengantar bahwa ada satu lagi kebutuhan dasar manusia setelah sandang pangan dan papan, yakni nyampah. Perilaku nyampah ini merupakan kebutuhan purba, maka ditemukanlah fosil sampah dapur yang disebut Kjoken Modinger. Namun di zaman modern ini, material sampah sudah jauh berbeda dengan zaman moyang kita. Mulai dari plastik, karet, hingga logam, jelas menjadi sampah yang sulit diproses secara alami oleh tanah dan akhirnya menimbulkan masalah lingkungan. Nah, hal terakhir inilah yang perlu diobrolkan bersama tentang penanggulangannya.


“Waktu itu sekitar bulan Juli, Ramadhan tahun 2015 saya pulang dari Jogja. Di rumah, kegiatan saya monoton," terang Fajrul Falah Farhani selaku narasumber pada obrolan ini. Ia melanjutkan, "Dalam diri saya timbul kegelisahan, seperti ada yang salah. Saya merasa tidak berguna. Terlebih sewaktu di kampus, saya menjadi aktifis yang kegiatannya membutuhkan mobilitas tinggi. Saya harus menemukan masalah nih. Akhirnya pada hari ketiga kepulangan, saya memutuskan jalan-jalan keliling kampung. Pada saat berkeliling itulah, saya menemukan masalah. Sampah-sampah menumpuk di sungai. Di bawah jembatan yang tak sengaja saya lewati. Kondisi ini begitu memprihatinkan. Ditambah lagi, tak jauh dari tumpukan sampah, air sungai digunakan untuk mencuci," jelasnya panjang lebar.

“Kegelisahan yang muncul melihat kondisi sungai yang memprihatinkan itu, saya tulis di media sosial. Terutama di Facebook. Ada di antara komentar-komentar di status itu yang menyambut kegelisahan saya dengan sambutan positif. Akhirnya pada tanggal 14 Juli 2015, saya dan teman-teman berkumpul di Masjid membicarakan solusi. Dari hasil perkumpulan itu, kami mendatangi kelurahan, kantor desa, menanyakan “Apakah dari pihak kelurahan sudah melakukan tindakan terhadap sampah-sampah di sungai?” Dan ternyata memang belum ada tindakan. Mendengar jawaban kelurahan, saat itu juga, kami meminta fasilitas gerobag sampah. Tetapi jawaban yang kami terima justru sebuah tawaran tantangan. “Ya silahkan, para pemuda bisa melakukan apa?” Dari situlah kemudian lahir GPPL, Gerakan Pemuda Peduli Lingkungan.”

“GPPL ada bertujuan untuk menyadarkan masyarakat terhadap lingkungan sekitarnya. Mengajak masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan, terutama di sungai. Dengan tujuan itu, kami membutuhkan fasilitas-fasilitas. Untuk memenuhi kebutuhan itu, kami membuat proposal yang diajukan ke tokoh-tokoh masyarakat, perusahaan-perusahaan di sekitar Balapulang Wetan. Kami juga baru tahu, kalau di perusahaan-perusahaan itu ada dana CSR (corporate social responsibility) untuk lingkungan yang terkena dampak perusahaan. Hasilnya nihil, tidak ada perusahaan yang meng-acc proposal yang kami ajukan. Hanya saja, dari tokoh-tokoh masyarakat desa, terkumpul dana 3 juta. Dana itu kami gunakan untuk membeli dua gerobag untuk di tempatkan di dua RW yang lokasinya berdekatan dengan sungai.”  

“Selanjutnya, kami sering ngobrol dengan pihak BLH. Dari obrolan dengan BLH, kami tahu bahwa dana CSR bisa cair jika GPPL memiliki nomor akta notaris berkomunitas. Dengan segera, kami membuat akta notaris berkomunitas. Dan Alhamdulillah, GPPL saat ini sudah mengantongi nomor akta notaris. Setelah berakta notaris, kegiatan-kegiatan selanjutnya ketika mengajukan proposal ke perusahaan-perusahaan, kami mendapatkan dana CSR itu.” 

“Untuk pencapaian kami, belumlah maksimal. Hanya saja sungai-sungai saat ini tidak lagi sampah sebanyak dulu. Itu artinya, sudah mulai tumbuh kesadaran dari masyarakat. Selain itu, kami pernah mengadakan penyuluhan dengan mendatangkan pembicara dari BLH dan Puskesmas Balapulang untuk menyampaikan pentingnya membuang sampah pada tempatnya juga bahayanya jika membuang sampah di sungai. Alhamdulillah masyarakat menyambut penyuluhan itu.”

“Karena memang belum sepenuhnya masyarakat tersadarkan, juga karena anggota-anggota kami 75 % berada di luar kota. Dengan keadaan yang seperti itu, kami melakukan diskusi via medsos. Dari diskusi itu, ada usulan membuat Bank Sampah. Kami melakukan sosialisai Bank Sampah melalui kegiatan PKK yang diikuti warga ibu-ibu. Lagi-lagi para warga menyambut dengan baik ide itu. Tanpa pikir panjang, kami merealisasikan ide Bank Sampah. Awalnya berjalan baik, tetapi pada kelanjutannya, Bank Sampah ini mendapatkan masukan dari warga. Warga berkeinginan sampah yang dibawanya ke Bank Sampah langsung mendapatkan hasil. Tidak harus menunggu untuk ditukarkan ke pengepul. Karena kami menyetorkannya ke Pengepul setiap satu minggu sekali.”

“Sementara itu, di desa Suniarsih, ada Keio, mahasiswa Ehime University Japan yang sedang mengikuti pertukaran pelajar dengan IPB. Keberadaan Keio di Tuwel sedang melakukan program Bank Sampah. Kami tahu dari Mas Zia sewaktu beliau share di Facebook. Kami langsung mendatangi dan memintanya datang ke GPPL untuk melihat hasil pergerakan kami. Ternyata di Kab. Tegal sendiri baru ada 83 Bank Sampah. Dengan adanya GPPL, maka ada 84 Bank Sampah di Kabupaten Tegal. Lha, pada tanggal 21 Februari nanti, kami meminta teman-teman dari Santrijagad untuk turut meramaikan kegiatan kami dalam rangka memperingati Hari Bebas Sampah Nasional.”

    Kendaraan-kendaraan masih saja membuat kebisingan di jalan raya, di depan markas Santrijagad. Tetapi kebisingan-kebisingan itu menjadi tak berarti di tengah-tengah diskusi. Ada suara yang lebih penting untuk dinikmati ketimbang sibuk menghujat kebisingan yang tak diinginkan itu. Tiba-tiba diantara lalu lalang, ada sepeda motor yang berhenti di depan markas. Pengemudinya turun dan ikut bergabung dengan kelompok diskusi. Lelaki dewasa berambut klimis dan rapi itu ternyata Pak Dedi. Dia pernah mengikuti diskusi santrijagad sewaktu masih bermarkas di Slawi. Ini kali, diskusi ke dua yang beliau ikuti.

“Sebelum saya meminta teman-teman memberikan gambaran lingkungan desa masing-masing, yang saya garis bawahi dari uraian Mas Fajrul adalah GPPL dalam waktu yang singkat, yakni Juli-Januari (setengah tahun)untuk melakukan aksi-aksinya. Nah sekarang, silahkan dimulai dari Dida dulu.” Sambung Zia setelah Pak Dedi menemu tempat duduknya.

“Di Penarukan baru ada pemindahan pasar. Di tempat lama, sudah ada TPS dan itu sudah dimanfaatkan warga sekitar. Hanya saja, belum ada kelola yang baik.” Ujar Dida. Berbeda dengan lingkungan desa Agung, Bandasari “Di desa kami sudah ada gerobag-gerobag yang mengangkut sampah. Gerobag-gerobag itu dikelola kelurahan. Tetapi TPS masih numpang ke desa tetangga.”

Masalah yang ditemukan dari gambaran teman-teman  tentang lingkungan desanya, pertama tata kelola sampah. Selain di Penarukan, di Sumur Panggang juga. Di Desa yang sempat diterangkan sejarahnya oleh Syamsul Arifin itu, memiliki tempat pembuangan sampah tetapi belum ada sistem kelolanya. Kedua, belum memiliki sarana untuk memaksimalkan tata kelola. Misalnya di Bojongsari itu, selain itu di Tuwel juga sama. Di desa yang salah satu penghuninya adalah Zia, sudah memiliki Bank Sampah tetapi belum memiliki TPS. Dan pemanfaatan Bank Sampahpun belum maksimal. Tragis lagi, di Jatibarang Brebes. Desa dari Mbak Yuniatun Nisa ini kondisinya seperti Balapulang Wetan sebelum disentuh GPPL. Belum memiliki TPS, belum ada tata kelola dan sampah-sampah menumpuk di sungai. “Sepanjang musim hujan ini, seringkali air sungai meluap dan desa kami terendam banjir. Sebab itu, sampah-sampah menghambat aliran air.” Tutur Mbak Yuni.

Terdengar lain ketika Geko memberikan gambaran desa Rancawiru Kidul. Pria yang bernama lengkap Ginanjar Eko Prasetyo ini menjelaskan bahwa di desa Rancawiru Kidul, tata kelola sampahnya masih tradisional. Sudah ada pemisahan jenis-jenis sampah. Sampah organik di pendam, sedangkan yang an-organik di bakar. Lain halnya dengan Yomani, Faqih mengatakan di Yomani baru 1 Minggu ini ada gerobak sampah. Sampah-sampah tiap rumah diangkut setiap 2 hari sekali ke TPS. Per rumah, dengan sistim cimitan dikenai biaya Rp 500 untuk membayar si pengangkut sampah.” Berbeda lagi dengan desa Kaliwungu. Warga desa Kaliwungu masih memanfaatkan blumbang sebagai TPS. Pengelolaan sampahnya di serahkan kepada alam. Sampah organik, bisa diuraikan. Sedangkan yang an-organik, terkubur. Jadi dulu ketika anak-anak desa Kaliwungu bermain yang perlu mengali tanah, menemukan harta karun yang bernama sampah an-organik.

Acara sharing selesai. Langit Yomani tampak lesu, awan-awan mendung perlahan diarak angin ke langit Yomani. Ruangan tempat diskusi berlangsung, agak gelap. Faqih yang duduk dekat Saklar, menggapainya untuk menjadi on. Lampu menyala. Diskusi pun tak tampak redupnya. Semakin menyala ketika dilanjutkan ke sesi tanya jawab. Zia, Sang Moderator yang moderat ini, mengawali sesi ini dengan pertanyaan, GPPL sedekat ini (sebab baru 6 bulan vroh. Berarti kan belum jauh), apakah sudah melakukan terobosan baru atau hanya mengumpulkan lantas membuangnya saja ke TPS? Lalu anggota-anggota dari GPPL kan pemuda. Tentu belum memiliki penghasilan yang tetap. Bagaimana GPPL menjaga semangat anggotanya. Sebab beberapa komunitas bubar ketika ditabrakkan dengan yang namanya kebutuhan? Fajrul Falah Farhany masih segar meski hari itu baru pulang dari BLH dan sudah mengeluarkan amunisi-amunisi GPPL dari awal diskusi. Ya, bagi pemuda aktifis, lelah sudah menjadi karibnya. Tentu sebab berkarib, lelah tahu kapan harus bermanja-manja dengan Fajrul.

“Yang baru terlakukan oleh GPPL adalah mengelola sampah an-organik. Sedangkan sampah-sampah organik, kami baru sebatas mengumpulkan dan membuangnya. Sampah-sampah an-organik kami kelola melalui Bank Sampah. Hanya saja ya itu, warga menginginkan hasil nyata secara langsung dari adanya Bank Sampah. Mereka meminta sampah-sampah yang ditukar dengan bahan sembako di Bank Sampah. Sebab itu, saat ini, kami sedang mematangkan konsep itu. Bagaimanapun juga, itu aspirasi warga. Harapan kami dengan kami mewujudkan aspirasi mereka, mereka bertambah semangat untuk peduli dengan lingkungan. Untuk apresiasi terhadap anggota, kami tidak melupakannya. Selalu ada feed-back dari kami sebagai wakil rasa terimakasih kami. Sejauh ini, kami baru bisa memberikan sertifikat atau piagam penghargaan dengan ditandatangani kelurahan dan BLH. Apresiasi ini yang kami gunakan untuk menjaga semangat para anggota.” Jawab Fajrul.

Akhirnya yang ditunggu-tunggu mulai juga. Sya’roni yang pada sesi sharing hanya diam, kali ini turut berbicara. Sepertinya “bom” di kepala dan dadanya tak lagi bisa ditahan. Melihat gelagat ini, Zia dengan senang mempersilahkan Sya’roni memulai “meledakkan” dirinya di markas baru Santrijagad. “Yang ingin saya sampaikan, awal kali yang dilakukan kepada masyarakat adalah penyadaran yang menyenangkan.” Dengan intonasi yang khas santri salaf, Sya’roni melanjutkan “Biasanya yang menyenangkan itu identik dengan yang hijau-hijau. Lha mumpung, ini hari adalah harlah NU, silahkan dihijau-hijaukan sampah-sampah itu. Saya yakin, semua sampah bisa di-hijau-kan. Yang hijau-hijau identik dengan uang, perempuan dan jabatan. Tetapi di ruang GPPL yang paling mungkin adalah di-uang-kan. Misalnya di Malang ada Asuransi Sampah. Sedangkan untuk alur dimulainya gerakan ini, saya yakin teman-teman disini sudah paham dan akan paham ketika sudah membuat wadah, lalu mengaktifkannya. Tetapi yang perlu diperhatikan adalah apabila ada dari daerah lain, membuat wadah yang sama seperti GPPL, GPPL harus ikut mengawalnya.” Pungkas Sya’roni.

“Alur Pergerakan kami, mungkin sama seperti struktural organisasi ke atas, yakni kami meminta ijin ke kelurahan ke kecamatan dan ke BLH. Dari itu, proposal kami pun selalu sepengetahuan ke tiga instansi itu. Sehingga selain mendapatkan status resmi dari nomor akta notaris, juga dari tiga instansi itu. Dalam perjalanan gerakan ini, kami sudah melakukan study banding ke Jogja. Kami mendatangi desa Wisata Lingkungan, Sulaman dan desa Handayani. Di Desa Handayani yang menggerakkan 1 RW, di masing-masing rumahnya ada empat plastik untuk empat kategori sampah. Organik kering, organik basah, an-organik kering, an-organik basah. Dan pengelolaannya sudah menghijaukan. Artinya bisa diuangkan. Sampah organik dibuat kompos, kotoran dibuat biogas, an-organik di jual. Untuk GPPL sendiri belum sejauh itu pengelolaannya. Tetapi ada gambaran ke arah itu. Untuk saat ini, bagi kami, kebutuhan primernya adalah menyadarkan warga terlebih dahulu sedangkan untuk penglolaan yang menghijaukan itu kebutuhan sekunder.”

“Oia, katanya sempat meminta dana ke anak-anak TPQ?” celetuk Zia spontan, seperti ketiban ingatan yang selama diskusi dicari-cari dalam diamnya. “Sebetulnya sumber dana kami dari iuran anggota, tokoh masyarakat, perusahaan-perusahaan, dan pemerintah. Kejadian itu, ketika awal kali GPPL melakukan gerakannya. Saat itu kami mengajukan proposal ke salah satu tokoh masyarakat, beliau seorang Ustadz. Dengan inisiasi beliau, beliau menariki setiap santrinya RP 1000. Padahal ada 500 santri. Praktis terkumpul Rp 500.000.” jawab Fajrul. Tetiba Sya’roni menjadi sering meledakkan dirinya. Dengan menyitir pernyataan KH. Said Aqil Siradj, Sya’roni menyampaikan bahwa hilangnya keberkahan dari instansi-instansi pendidikan pesantren salah satunya dengan adanya proposal itu. Fajrul menangkap dengan baik arah pembicaraan Sya’roni, “Iya, untuk awal-awal ini kami membutuhkan surat sakti yang bernama proposal itu. Harapan kami ke depan, kami tidak lagi meminta tetapi justru memberi. Menjadi pihak yang diajukan proposal bukan yang mengajukan proposal.” Jelas Fajrul.

Jam Handphone menunjukkan pukul tiga sore lebih tiga puluh menit. Merasa sudah melenceng dari ketentuan waktu yang disepakati, Zia menggiring diskusi ke simpulnya. Pak Dedi, yang datang ditengah-tengah diskusi, memulai simpul segerombolan anak muda yang sedang membicarakan sampah. “Saya bangga berada di sini. Saya hanya orang yang senang dengan santri. Terlebih ketika orang-orang sibuk membuang sampah, kalian justru memikirkan cara memanfaatkan sampah. Saya pernah berkunjung ke Pesantren Attaufiqiyah, Wonopringgo, Pemalang. Pesantren itu bersih sekali. Ketika disana, ada rasa tentram ketika melihat lingkungan yang bersih. Ditambah lagi, kebersihan kan sebagian dari Iman. Pada hal lain, kebersihan itu menarik, menawan, dan memikat.” Pak Dedi menutup simpulnya dengan salam. Tali simpul di serahkan ke Agung. Agung sangat mengapresiasi gerakan GPPL yang dalam waktu enam bulan sudah melaksanakan agenda-agendanya. Agung juga berharap, komunitasnya bisa mencontoh GPPL. Berbeda dengan Agung, Syamsul Arifin memberikan kesimpulan yang sama dengan ledakan-ledakan Sya’roni, yakni penyadaran yang menyenangkan. Sedangkan Sya’roni meminta pembicaraan sore itu tidak hanya berhenti pada kesimpulan saja. Tetapi harus ada follow-up (tindakan lanjut)nya.

Geko dengan latar belakang pengajar anak-anak SMP, menyimpulkan sekaligus mengingatkan bahwa gerakan penyadaran yang dilakukan oleh GPPL diusahakan sampai ke akar-akarnya. Jangan melupakan anak-anak, yang nantinya juga menjadi penerus warga. Sementara Baqi, dengan merujuk konsep haji dari caknun, menyimpulkan bahwa GPPL itu madu bagi masyarakat. Jadi kedepannya, jika ada halangan apapun, GPPL harus tetap berjalan.

Sementara Faqih yang sedari tadi menyimak kesimpulan teman-teman, mengeluarkan “bisa”nya. “Justru saya mendukung sekali, jika GPPL tidak didukung pemerintah. Itu artinya gerakan penyadaran yang dilakukan oleh GPPL, sepenuhnya mengena ke masyarakat. Bukan karena embel-embel ‘formalitas” instansi pemerintah tetapi karena mata hati warga terbuka “ternyata ada pemuda yang masih mencintai tempat lahirnya.” Faqih melesatkan “anak panah” ke jantung GPPL.  “Tidak ada yang sia-sia dalam penciptaan Tuhan.” Pungkas Faqih dihela-hela “degup jantung” GPPL yang tertikam “anak panah”-nya.

Perempuan dari Jatibarang, Brebes, turut terkena giliran untuk memberikan tali simpul yang menguatkan eksistensi GPPL. Dengan diawali ucapan terimakasih sebab sudah dipersilahkan hadir di diskusi, Yuni melanjutkan bahwa GPPL telah mengajarkannya untuk menjadi warga yang baik di desanya. Dan berharap, dia bisa menerapkan di desanya apa-apa yang telah lebih dahulu oleh teman-teman GPPL lakukan. Sedangkan Zia, mengawali ikatan simpulnya dengan mengamini yang lebih dulu dikatakan pak Dedi. “Saya setuju dengan Pak Dedi bahwa kebersihan itu menentramkan. Dengan adanya GPPL berarti ada tempat untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat. Semoga ke depannya GPPL lebih bisa mengajak warga dalam pergerakannya, menciptakan tempat-tempat yang menentramkan.”

Closing Statement dari Fajrul, memohon untuk didoakan agar GPPL bisa istiqomah dalam pergerakannya sehingga bisa menjadi percontohan Bank Sampah. Di akhir statemennya, Fajrul memotivasi teman-teman di diskusi kemarin. “Kalau punya keinginan, cita-cita, sekalian yang tinggi. Agar ketika jatuh, jatuhnya di tengah-tengah.”

Akhirnya langit Yomani turut berpartisipasi atau mungkin sedang mengamini harapan-harapan dalam diskusi yang sudah ditutup oleh Zia. Menyirami rumput-rumput yang sudah lama mengering. Rumput-rumput yang ditemukan keberadaannya dalam diskusi kami. Semoga hijau rumput-rumput kami. Aamiin. Selamat berjumpa di diskusi selanjutnya.[]
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang