Prof. Dr. M. Quraish Shihab : Hubungan Kata Demi Kata dalam Surah Al-Quran

13 February 2016

Oleh: Prof. Dr. M. Quraish Shihab

Perhatikanlah kesatuan logis dan keserasian yang menggumkan dalam paparan al-Quran menyangkut siapa yang haram dikawini, seperti termaktub dalam surah al-Nis’ ayat 22-23. Ayat tersebut –dalam satu redaksi—menuturkan secara rinci, menyeluruh, lagi tidak mengabaikan sesuatu. Disamping itu, ayat tersebut disusun dengan amat sistematis disertai syarat dan kondisinya serta petunjuk menyangkut siapa yang haram dikawini.

Tak dapat disangkal bahwa menyusun urutan semacam ini bagi ilmuwan merupakan suatu olah nalar yang tidak mudah, apalagi bisa disusun secara spontan, sebagaimana halnya keadaan wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad. Hal ini karena uraian ayat di atas berkaitan dengan tiga belas kelompok yang berbeda.


Perhatikanlah bagaimana ayat di atas menguraikan kelompok-kelompok tersebut secara berurutan ke bawah: ibu, anak perempuan, saudara perempuan, anak saudara laki-laki, anak saudara perempuan, kemudian anak perempuan saudara perempuan yang memiliki hubungan keakraban langsung, kemudian perempuan yang menyusukan, lalu saudara perempuan sesusuan dan setelah itu disusul dengan keharaman mengawini mertua, menantu, dan saudara istri.

Diamati pula, bagaimana ayat di atas menyampaikan runtutan kelompok-kelompok tersebut dengan mendahulukan penyebutan laki-laki dari perempuan, dan menyebut hubungan kekerabatan dengan suami sebelum menyebut hubungan kekerabatan dengan istri, sambil mendahulukan yang lelaki.

Dalam al-Quran suraj al-An’am ayat 83-86, Allah menyebutkan nama 18 nama, tetapi terlihat bahwa penyebutan nama-nama mereka disusun bukan atas dasar masa kehadiran mereka di pentas kehidupan, juga tidak atas dasar keutamaan dan derajad mereka.

Ayat tersebut, menurut Ibrahim al-Biqa’i adalah dalam rangka menjelaskan anugerah Allah kepada “Bapak Monoteisme” Ibrahim. Anugerah tersebut disamping sebagai hujjah juga merupakan pemberian dari Allah yang berwujud dalam sosok putra-putrinya. Yang pertama disebut adalah putera yang tidak terpisah dengannya, yaitu Ishaq dan putra yang lain, yaitu Ya’qub, karena Ya’qub merupakan ayah yang melahirkan anak cucu pembawa ajaran-ajaran Ilahi. Di sini, Nuh disebut agar tidak timbul kesan bahwa anugerah tersebut diperoleh mereka dengan melupakan orang tua, apalagi Nuh adalah leluhur kesepuluh yang paling mulia. Karena beliaulah manusia pertama yang melarang penyembahan berhala.

Nah, setelah selesai penyebutan nama-nama mereka yang berkuasa atau menguasai dan mengalahkan penguasa, maka yang disebut sesudah mereka adalah yang dikuasai atau dikalahkan oleh penguasa masanya. Zakaria dan Yahya dibunuh oleh penguasa masanya, sedangkan Isa dan Ilyas diselamatkan oleh Tuhan dan diangkat ke sisi-Nya.

Demikianlah, terlihat hubungan keserasian dalam penyebutan nama-nama tersebut. [bq]

Sumber: Prof. Dr. M. Quraish Shihab. Edisi 32 Tahun 2009. Hubungan Kata Demi Kata dalam Surah Al-Quran. Mata Air
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang