Prof. Dr. M. Quraish Shihab: Kritik Terhadap Sistematika Al-Quran

10 February 2016



Oleh: Prof. Dr. M. Quraish Shihab

     Al-Quran oleh sementara orang dinilai sangat kacau dalam sistematikanya. “Betapa tidak,” kata mereka,”belum lagi selesai satu uraian, tiba-tiba ia melompat ke uraian yang lain yang tidak berhubungan sedikitpun dengan uraian yang baru saja dikemukakan. Lihatlah, misalnya surah al-Baqarah. Keharaman makanan tertentu seperti babi, ancaman terhadap yang enggan menyebarluaskan pengetahuan, anjuran bersedekah, kewajiban menegakkan hukum, wasiat sebelum mati, kewajiban puasa dan hubungan suami-istri dikemukakan al-Quran secara berturut dalam belasan ayat surah al-Baqarah.” Kritik juga ditujukan bahwa tidak sedikit uraian yang berulang, bahkan tak jarang terjadi kontradiksi dalam uraian-uraiannya. Kritik semacam ini sudah lama terdengar dan tanggapan terhadapnya sudah pula dikemukakan oleh al-Khaththabi (319-388 H) dalam bukunya BayanI’jaz al-Qur’an.

     Ayat-ayat al-Quran turun sedikit demi sedikit selama dua puluh dua tahun, dua bulan dan dua puluh hari. Terkadang yang turun belasan ayat, terkadang hanya beberapa ayat, bahkan pernah hanya satu ayat. Berapapun ayat yang turun selalu Rasulallah menyampaikan kepada penulis-penulis wahyu berdasarkan petunjuk Allah yang disampaikan oleh malaikat Jibril bahwa ayat yang baru saja diterimanya merupakan lanjutan dari ayat A yang sebelumnya telah turun, atau ayat tersebut merupakan awal dari suatu surah dan lanjutannya belum lagi turun.

    
Sumber Foto al-Quran: Google
  
     Dari sini, terlihat bahwa penyusunan ayat-ayat al-Quran sebagaimana terlihat sekarang tidak didasarkan pada masa atau tahapan turunnya, tetapi disusun oleh Allah berdasarkan “pertimbangan-Nya” atau lebih tepat dikatakan “berdasarkan keserasian hubungan ayat-ayat dari surahnya”.

     Memang kita tidak memperoleh penjelasan langsung dari Nabi Muhammad SAW tentang pertimbangan peletakan ayat demi ayat. Namun, diyakini bahwa pasti ada hikmah dibalik itu. Persis seperti petugas protokol dalam dalam upacara resmi yang menempatkan para tamu di tempat-tempat tertentu bukan berdasarkan waktu kehadiran mereka di arena upacara, melainkan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu.

     Para ulama al-Qur’an berusaha memahami apa gerangan rahasia di balik sistematika perurutan setiap ayat al-Quran. Bahkan, mereka juga berusaha memahami rahasia susunan kata demi kata dalam al-Quran dan banyak di antara mereka yang memberikan penjelasan secara cukup rasional. Pakar al-Qur’an Ibrahim bin Umar al-Biqa’I (1406-1480 H) mengungkapkan hubungan tersebut dalam karya monumentalnya Nadzm al-Durur fi Tanasub al-Ayat wa al-Suwar yang terdiri dari dua puluh jilid. Dalam bagian berikutnya, penulis akan mengutip sebagian penjelasan ulama tersebut. (bersambung) [bq]

Sumber: Prof. Dr. M. Quraish Shihab. Vol 30 Tahun 2009. Kritik Terhadap Sistematika Al-Quran. Mata Air
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang