Prof. Dr. M. Quraish Shihab : Sistematika Al-Quran (Bagian Kedua)

13 February 2016

Oleh : Prof. Dr. M. Quraish Shihab

Penilaian baik buruk suatu sistematika uraian berkaitan erat dengan tujuan yang ingin dicapai oleh penyusunnya. Sebelum melakukan penilaian terhadap sistematika perurutan ayat-ayat al-Quran terlebih dahulu harus diketahui apa misi dan tujuan al-Quran.

Al-Quran bukanlah suatu kitab ilmiah seperti kitab ilmiah yang dikenal dalam dunia ilmu pengetahuan. Misi al-Quran adalah dakwah untuk mengajak manusia menuju jalan yang terbaik. Ini misalnya dijelaskan dalam surah al-Isra’ ayat 9.


Di sisi lain, al-Quran enggan memilah-milah pesan-pesannya agar tidak timbul kesan bahwa satu pesan lebih penting dari pesan yang lain. Allah yang menurunkan al-Quran menghendaki agar pesan-pesannya diterima secara utuh. Karena itu, al-Quran mengecam orang Yahudi seperti tersirat dalam surah al-Baqarah ayat 85.

Ayat-ayat al-Quran merupakan serat yang membentuk tenunan kehidupan seorang Muslim serta benang yang menjadi rajutan jiwanya. Karena itu, seringkali pada saat al-Quran berbicara tentang suatu persoalan menyangkut satu dimensi atau aspek tertentu, tiba-tiba ayat lain muncul berbicara tentang aspek atau dimensi lain yang secara sepintas terkesan tidak saling berkaitan. Bagi yang tekun mempelajarinya akan menemukan keserasian hubungan yang amat mengagumkan, sama dengan keserasian hubungan yang memadukan gejolak dan bisikan-bisikan hati manusia, sehingga pada akhirnya dimensi dan aspek yang terkesan kacau menjadi terangkai dan terpadu indah bagai kalung mutiara yang tidak diketahui dimana ujung dan dimana pangkal.

Salah satu tujuan al-Quran dengan memilih sistematika demikian adalah untuk mengingatkan manusia –khususnya kaum Muslim—bahwa ajaran-ajaran al-Quran adalah satu kesatuan terpadu yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Kalau sebelumnya pernah dikemukakan contoh tentang serangkaian ayat surah al-Baqarah, maka itu disebabkan al-Quran ingin ingin agar umatnya melaksanakan ajarannya secara terpadu. Tidaklah babi lebih dianjurkan untuk dihindari daripada keengganan menyebarluaskan ilmu. Bersedakah tidak pula lebih penting daripada menegakkan hukum dan keadilan. Kemudian, wasiat sebelum mati dan menunaikannya tidak kalah daripada berpuasa pada bulan Ramdhan. Sementara itu, puasa dan ibadah lainnya tidak boleh menjadikan seorang lupa pada kebutuhan jasmaniahnya, walaupun itu adalah hubungan seks antara suami-istri. Demikian terlihat keterpaduan ajaran-ajarannya.

Al-Khaththabi menulis,”Tujuan bergabungnya berbagai persoalan dalam satu surah adalah agar setiap pembaca surah ini dapat memperoleh sekian banyak petunjuk dalam waktu yang singkat tanpa harus membaca seluruh ayat-ayat al-Quran. Allah bermaksud menguji hamba-hamba-Nya menyangkut ketaatan dan kesungguhan mereka melalui aneka ragam petunjuk-Nya.”

Tetapi, benarkah ayat-ayat serta uraian-uraiannya tidak saling berhubungan? Tidak! Para pakar al-Quran membuktikan adanya hubungan yang serasi dalam uraian al-Quran. Dalam istilah ilmu al-Quran, keserasian tersebut dibahas dalam bidang “ilm al-muhasabbah”. Keserasian dapat dilihat pada:

1 Hubungan kata demi kata dalam satu ayat.
2 Hubungan antara kandungan ayat dengan fashilah (penutup ayat).
3 Hubungan dengan ayat dan ayat berikutnya.
4 Hubungan mukadimah satu surah dengan penutupnya.
5 Hubungan penutup satu surah dengan mukadimah surah berikut.
6 Hubungan kandungan surah dengan surah sesudahnya.

  (bersambung) [bq]

Sumber: Prof. Dr. M. Quraish Shihab. Edisi 31 Tahun 2009. Sistematika Al-Quran (Bagian Kedua). Mata Air
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2016 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang