Semalam Bersama Kyai Budi Harjono

22 February 2016

OLEH: M. BUDI MULYAWAN

Semarang sangat basah kali ini. Hujan sangat deras mengguyur Tembalang sedari sore dan langit mendung senantiasa. Waktu menunjukan pukul 22.00 WIB dan kami kru Santrijagad segera bergegas dari markas geng Sipri di dekat Undip menuju Pondok Al Ishlah Kyai Amin Budi Harjono untuk menimba ilmu sekaligus ngangsu rasa dari beliau. Sebelumnya kami memang sudah janjian sedari hari Sabtu siang ketika kami berangkat dari Tegal. Motor yang dikendarai Iqbal melaju kencang bersama Budi melewati kebun-kebun nan gelap dan jalanan berkelok khas perbukitan Tembalang. Sekitar setengah jam motor sampai ke lokasi dan masuk ke gang dimana rumah Kyai Budi berada.

Situasi saat itu nampak gelap akibat jam istirahat. Sebuah rumah sederhana berderet bersama kompleks bangunan pondok dan kami segera mengetuknya. Kyai Budi muncul dari dalam dan kemudian menyambut kami dengan sambutan hangat khasnya, bersalaman dan memeluk kami yang sudah lama tidak bertemu. Terakhir kami mampir ke rumah beliau adalah ketika menyerahkan cinderamata berupa bingkai batik yang merupakan request untuk dokumentasi proses batik. Kyai Budi senang melakukan yang menurutnya pengumpulan titik-titik budaya orkestra bernama Indonesia.

"Iqbal Dari Santrijagad Melakukan Wawancara Kepada Kyai Budi"
Kyai Budi langsung mempersilakan kami duduk, menyuguhkan bungkusan rokoknya dan membuatkan kami kopi hitam istimewa. Pertama-tama tentu saja kami pun saling bertanya kabar dan kesehatan. Kyai Budi Nampak dengan sarung batik sogan yang selalu dikenakannya kemanapun. Di kanan kiri ruangannya bertumpuk buku, terbang jawa, bahkan caping. Ya, Kyai Budi sedang menggagas bagaimana supaya Indonesia mengenal konsep besar caping, sebuah konsep luhur nan adiluhung bangsa ini supaya tidak lupa asalnya pertanian. Beliau blusukan ke desa-desa membesarkan hati para petani yang hidupnya menjaga benteng pertanian sekaligus sebagai dakwah. “Pertanian adalah jati diri bangsa kita dan jangan pernah meninggalkan ini” Tegas beliau.

Kyai Budi lalu bercerita tentang karya-karya  tulisnya yang sudah terbit menjadi buku. Termasuk juga menerangkan rencana karya berikutnya untuk membedah caping gunung secara historis, filosofis, maupun religusitasnya. Sedari dulu Kyai Budi sangat mengapreasiasi dunia kepenulisan. Beliau senang dengan literasi kearifan lokal yang sebisa mungkin diangkat oleh generasi muda. Terutama tentang produk budaya, peradaban suatu wilayah. Entah itu produk apapun seperti tulisan, manuskrip, kerajinan, sastra, bahkan batik.

Beliau yakin semua tentang produk-produk ini kalau diteruskan akan menjadi transendens. Hanya saja harus menggali sedemikian rupa agar kita semua tidak terjebak kepada bentuk. “Bentuk punya batas dan orang yang mandeg pada bentuk akan menjadi kaum materialis, Tuhan harus kita temukan dibalik bentuk-bentuk itu. Itulah guna memaknai secara dalam, yaitu untuk menemukan Tuhan dibalik ciptaannya” Katanya. Setelah itu Kyai Budi memaparkan secara detail konsep yang sedang dijalankan tentang caping gunung. Caping adalah symbol transendens. Dari bentuknya saja kita bisa melihat makin keatas suatu hal itu harus bisa menuju kepada penciptanya, Allah swt.

Kami dari Santrijagad memberikan cinderamata ke beliau berupa buku berjudul serpih. Terima kasih banyak kepada Mbak Shuniyya Ruhama yang telah memberikan rembug batik ke Kyai Budi sehingga sampai ke tangan beliau dan malam ini kami diberikan undangan kesempatan memaparkan sedikit tentang beberapa terbitan Santrijagad Press yaitu rembug batik dan serpih karangan Budi Mulyawan. Kedua buku ini pun dipresentasikan sementara Kyai Budi menyimak sekaligus memberi saran dan masukan untuk perbaikan dan kepenulisan selanjutnya.

"Budi Mulyawan, Rembug Batik, dan Kyai Budi"
Kyai Budi menerangkan, adalah suatu konsekuensi bahwasanya siapa yang mengejar spiritual terkadang dia punya resiko lemah di material. Kita bisa melihat tukang bata tidak bagus rumahnya juga ada contoh lain tukang kayu tidak indah kediamannya sebab dalam dunia kepelayanan sosial kita harus pasrah kepada Allah sebagai khalifah. Bukan dengan transaksional dan mempertimbangkan untung rugi saja. Begitu juga dengan menulis atau perjuangan sosial, tidak melulu tentang finansial.

“Mengapa kamu selalu bicara tentang uang? Apakah kamu tidak tahu bahwa di dalam dadamu, sakmlarat-mlarat awakmu terselip harta karun yang wujudnya adalah cinta?!!!” Teriak Kyai Budi di sebuah majelis Jakarta bertahun-tahun yang lalu.

Kyai Budi kemudian berkisah merespon literasi budaya tentang bagaimana pendapat Prof. Damarjati tentang budaya jawa. “Ketika kita menekuni budaya jawa maka selamat datang di rimba raya symbol”. Ini terjadi di ruang apapun kita menekuni budaya jawa, entah musiknya, wayangnya. Welcome to the jungle. Akan terjadi banyak lapisan penafsiran dari awam sampai ke tahap ma’rifat.

Setelah membahas banyak hal teknis dan tetek bengek tentang dunia literasi maka sesi berikutnya menjadi sesi yang sangat kami tunggu-tunggu yaitu bagaimana ngaji dan menyervis rasa di Kyai Budi, semacam terapi review untuk melihat dunia dengan lebih indah. Tentu saja menggunakan satu kata abadi yaitu cinta.

“Cobalah sekali-kali kita berbicara dengan pohon” Pembicaraan sesungguhnya sebetulnya baru dimulai dan kami pun tercengang tak menduganya.

“… Dari rasa ke rasa. Sebagai manusia kita harus punya kesadaran bahwa semua yang ada di alam ini adalah satu kesatuan. Pohon yang hidup pun punya kesadaran, bernafas, menyimak kita, pasrah rejeki, namun sayang kita sering menebangnya. Cobalah rasakan rasa sakit ketika pohon ditebang, ini makhluk hidup hanya saja berbeda cara ibadahnya”

Kesadaran alam seperti ini akan menyebabkan cinta dan kasih. Bahkan saya ingin menciptakan sebuah novel dengan tokohnya bukan manusia, bukan hewan atau fabel tetapi tokohnya adalah pohon. Saya ingin menceritakan kisahnya dari mulai tumbuh sampai merindang, diterpa badai, melakukan pembuahan. Bukankah semua itu proses kehidupan?” Lanjutnya.

Kami semakin tercengang, mengaitkan bagaimana Nabi Sulaiman. Ini artinya para Nabi punya perasaan dan jiwa yang begitu lembut terhadap alam raya. Termasuk Nabi Yunus yang pasrah di dalam perut ikan.

Iqbal menanyakan satu hal yang teramat urgent “Mengapa cinta sering dianalogikan dengan wanita?”. Kyai Budi kemudian menjawabnya “Wanita adalah anugerah cahaya ilahiyyah. Sebuah analogi yang teramat mudah dijangkau akal manusia karena keindahan wanita adalah pemberian Tuhan yang sangat berharga. Itu mengapa banyak ahli sufi yang menggunakan analogi wanita sebagai tanjakan menuju kepada Tuhan.”

“Dalam Analogi Syeh Jalaluddin Rumi wanita sering disimbolkan dengan bumi dan pria dengan langit maka wanita menumbuhkan ketika pria memberinya hujan, sebagaimana hati bisa menumbuhkan iman jika ada hujan ilmu. Di dunia ini semua punya pasangannya masing-masing. Maka dari itu ketika orang lain menderita kita harus membahagiakannya sebab ada semacam anyaman sosial, agar kita bisa saling menutup kesedihan saudara-saudara kita.

“Di luar sana barangkali Aristoteles bercerita tentang teori tetapi disini kita sudah praktek lebih maju disini. Bagai orang arab yang hidup ditanah gersang diberi simbol surga berupa air yang mengalir dan pepohonan produktif yang rindang. Orang sana memimpikan surga tapi kita diweruhke, diberi langsung surga bernama Indonesia ini, bagaimana kita tidak bersyukur? Cara menyukurinya adalah dengan membangun Indonesia dawuh Habib Luthfi Bin Yahya”

"Kyai Budi dan Iqbal"
Pelan-pelan Kyai Budi mengajak kami untuk fokus kepada satu titik dalam kehidupan. Satu titik keberadaan dithowafi, suasananya, tulisannya, rasanya maka dengan itu bisa bertafakkur. Di dalam diri kita adalah bagian dari luar, begitu pula bagian luar adalah bagian dalam dari diri kita. Tubuh dan luar beda tapi adalah satu kesatuan. Layla Majnun adalah analogi yang tepat untuk ini dimana cinta di dalam hati Majnun telah begitu universal dan semuanya telah berubah menjadi Layla.

“Nyeri rindu tak boleh hilang sebab karena itulah cinta terus berpijar. Tafsir caping gunung sendiri mengarah kepada caping adalah tudung dan manusia lampunya. Maka nyalakan api cinta dalam dirimu. Sehingga ketika bagi orang lain musibah adalah derita dan bagiku adalah kebahagiaan. Orang yang bertauhid sejati hatinya akan selalu segar karena tak pernah ada belenggu. Selalu merdeka sebab segala sakit hanyalah gema dari cinta.

“Karena cinta kepahitan menjadi kemanisan. Cinta menjadi kebaikan mutlak. Kita tak perlu ngoyo berjuang kemana-mana cukup percikan api cinta. Sepercik api cinta mengubah arang menjadi bara. Bagai musik dalam dirimu, maka kepasrahanlah yang membuat dia yang memainkan. Kita manusia hanya bisa ikhtiar dan setor sedikit, maka biarkanlah Tuhan yang menjalankannya.” Kata beliau dengan mata berkaca-kaca.

Kata terakhir yang kami ingat adalah jika hatimu telah bening dan cinta ada disana, hanya air putih saja akan bisa memabukkan sebab kalau dirasa itu adalah kado dari langit. Sayur yang disuguhkan ke kita akan terbayang sawah dan jerih petani dan saat itu kita hanya bisa bengong.

Bertemu Kyai Budi selalu membuat kami speechless. Dari dunia paparan dan kata-kata lalu terus merasuk ke hati, mengolah rasa. “Diamlah dan dengarkan Dia berbicara lewatmu” pesannya dari Syeh Jalaluddin Rumi mengakhiri pembicaraan kami. Waktu menunjukan pukul 02.00 dinihari dan kami harus pulang. Kami pun berpamitan dan Kyai Budi menghadiahkan kepada kami sarung batik yang sering dipakainya. Terima kasih dan sampai jumpa, semoga Kyai Budi Harjono diberi kesehatan dan umur panjang senantiasa. Sepanjang perjalanan pulang kami tidak banyak bicara, merasakan betapa deretan pohon, rumput atau setiap tanaman begitu hidup dan berbisik. [BM]
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2016 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang