Syukuran 4 Tahun Santri Foundation & Selametan Santrijagad

7 February 2016

Oleh: Zia Ul Haq

Hawa dingin yang dibawa oleh hujan petang itu, Jumat (5/2/2016) menambah syahdu suasana syukuran empat tahun Santri Foundation dan selametan Perpustakaan Santrijagad. Hadir dalam kesempatan ini Budi selaku direktur Santri Foundation, Jaya, Zia, Geko, Baqi, Faqih, Ali, Sya’roni, Hanif, dan Baharuddin (Ba-ank). Sayang sekali, Syofwandi alias Bams sebagai lurah komunitas tak bisa hadir karena sedang berjuang menaklukkan skripsi di Kampus Jaket Kuning sana.

Agenda malam itu dimulai dengan wirid tahlil, dipimpin oleh Zia. Para hadirin nampak begitu khidmat melantunkan ayat-ayat suci dan kalimat-kalimat dzikir. Hingga cahaya ketenteraman meliputi lingkaran para jejaka ini. Selepas doa, acara dilanjutkan dengan kultum (kuliah tujuh minggu, dicicil) yang diisi oleh Sya’roni, pemuda yang menahbiskan dirinya sendiri sebagai Imam Besar Jomblowan –seumur hidup.
Tahlilan
Dalam penyampaiannya, Sya’roni mengutip keterangan Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam kitab Bada-i’u Dzuhuur. Bahwa setelah penciptaan Nuur Muhammad, makhluk yang diciptakan oleh Allah kemudian ialah al-Qalam (Pena), lalu kemudian Lauh (Lembaran). Dua makhluk inilah yang mencatat segala kejadian yang ditakdirkan oleh Allah dan tersimpan dalam ‘Perpustakaan Tuhan’ berupa Lauhul Mahfuudz.

Maka sejatinya, seluruh perpustakaan yang ada di muka bumi adalah tiruan bagi Perpustakan Tuhan itu. Di mana di dalamnya terdapat berbagai catatan tentang pengetahuan maupun kebijaksanaan, rekaman sejarah maupun penemuan-penemuan, yang semuanya bisa menjadi bekal bagi perbaikan hidup manusia.

Bukan suatu kebetulan ayat pertama yang diwahyukan kepada Baginda Nabi Muhammad ialah perintah “Iqra’ –bacalah!”. Bagaimanapun rupa-rupa penafsiran terhadap kalimat Iqra’, intinya ialah tentang aktivitas membaca. Apa saja yang dibaca. Dan dalam pembacaan itu, ada sosok-sosok yang dipilih oleh Allah sebagai pembimbing dalam pembacaan ayat-ayat Tuhan, baik ayat yang terucap maupun terbentang, qauliyyah maupun kauniyyah.

Maka ruh spiritualitas, ketuhanan, penghambaan, pengetahuan, dan bimbingan kenabian haruslah menjadi semangat yang melandasi seluruh perpustakaan di muka bumi. Khususnya perpustakaan kecil yang sedang dirintis oleh Komunitas Santrijagad ini. Selain menjadi tempat berjajarnya buku-buku di rak, tapi juga harus menghidupkan wacana-wacana dan memiliki nilai manfaat bagi pengelola maupun lingkungan sekitarnya.

Mewakili jajaran pengurus Santri Foundation, Budi menyampaikan sambutannya. Ia menghaturkan banyak terima kasih atas kehadiran para tamu malam itu. Kemudian ia memaparkan apa itu Santri Foundation dan sejarah kelahiran dan perkembangannya. Awalnya, ide tentang beasiswa ini muncul dari anak-anak Sintesa, organisasi mahasiswa Universitas Indonesia asal Tegal. Muncul ide untuk mengupayakan beasiswa bagi siswa Tegal yang tak mampu untuk melanjutkan sekolah atau kuliah. Namun dengan berbagai pertimbangan, termasuk sebab sudah menjamurnya program beasiswa bagi sekolah umum dan kampus, maka ide beasiswa ini pun dialihkan.

Wilayah pesantren yang belum tersentuh gerakan beasiswa pun digarap. Maka berdirilah Santri Foundation. Gerakan ini melihat kalangan santri sebagai kaum marjinal di tengah dunia pendidikan Indonesia, terutama dalam hal bantuan beasiswa. Padahal kaum santri di pesantren sama-sama sedang menjalani proses pendidikan, bahkan lebih intens dibandingkan dengan persekolahan pemerintah. Apalagi bila menilik rekam jejak kiprah santri di masa lalu, sejak masa pra kemerdekaan hingga perjuangan republik, para santri menorehkan peran penting dalam perjalanan bangsa ini. Kaum santri, menurut Budi, tidak hanya ‘agent of change’ sebagaimana mahasiswa, tetapi mereka ialah ‘agent of positive change’.

Namun alangkah ironis, tidak sedikit para santri yang tak mampu melanjutkan proses belajar di pesantren karena kendala dana. Penyokong beasiswa berupa gerakan orang tua asuh pun langka, Kalaupun ada, masih sangat minim. Maka dengan semangat inilah, Santri Foundation memulai gerakan beasantrinya. Sejak empat tahun lalu, Santri Foundation membantu mengumpulkan donasi para dermawan, kemudian menyalurkannya dalam bentuk pembayaran uang syahriyah (SPP) setiap bulan. Selain itu, tiap Jumat Kliwon menyalurkan santunan kepada yatim piatu. Semuanya masih dalam lingkup Tegal. Harapan ke depan, gerakan beasantri ini bisa meluas dan berkembang, tidak hanya menggarap beasiswa tetapi juga permodalan wirausaha santri.

Sebagai media penyalur kreativitas dan aktivitas pegiat Santri Foundation, lahirlah brand ‘Santrijagad’ sebagai nama website, merk kaos, bookstore, hingga kedai. Nama ini juga dijadikan sebagai nama komunitas diskusi dan literasi yang kemudian muncul, Komunitas Santrijagad. Untuk membantu koordinasi, ditentukanlah satu tempat sebagai sekretariat. Karena menurut Budi, setiap ide harus punya ruang untuk bertahan hidup. Mulanya markas ini berlokasi di Slawi, namun stagnan, ‘tanah’-nya kurang subur untuk menanam ide komunitas. Kemudian mulai awal tahun ini pindah ke Yomani, berupa kedai jajan dan perpustakaan umum sederhana. Selain sebagai markas koordinasi dan lokasi diskusi komunitas, tempat ini juga menjadi ruang publik bagi siapa saja yang ingin nongkrong sambil baca buku.

Santri Foundation adalah pondasi yang mengakar dimana program beasantri menjadi fokusnya, sedangkan Santrijagad menjadi bangunan batang, ranting dan daun yang merindang menaungi setiap pegiatnya. Santri Foundation menjadi pengokoh, sedangkan Santrijagad menjadi saluran kreativitas dan pemberdayaan ide riil. Komunitas ini, selain sebagai wadah diskusi hal-hal idealis, ke depannya juga bercita-cita menjadi kelas publik tempat para lulusan pesantren –dan masyarakat umum- belajar berketerampilan. Semisal membatik, produksi jajan, pengolahan sampah, dan hal-hal pragmatis lain.

Setelah Budi tuntas berkisah, nasi pun tanak dan hidangan opor ayam digelar untuk disantap bersama-sama. Seusai makan, obrolan berlanjut ke pembahasan ‘masa depan’ Perpustakaan Santrijagad. Sya’roni mempertanyakan banyak hal. Apa yang perlu diperbuat agar menumbuhkan minat baca masyarakat, bagaimana manajemen perpustakaan yang ideal dan efektif, serta komoditas penunjang apa yang akan ditawarkan warkop Santrijagad?

Ba-ank, alumni ilmu perpustakaan jebolan UI , mencoba menjawab semua pertanyaan tentang manajemen pustaka. Faqih, sebagai penduduk pribumi Yomani, menjabarkan pembacaannya tentang potensi dan kondisi wirausaha panganan di wilayah itu. Hanif, kepala sekolah yang sedari tadi anteng, mulai menyampaikan pandangannya tentang bentuk usaha yang masuk akal dan bisa segera dieksekusi. Jaya, moderator acara ini, mengabarkan berita baik tentang adanya investor yang siap menggelontorkan modal. Secara umum, agenda syukuran dan selametan malam itu diakhiri dengan rembug usaha yang sangat hangat. Tarik ulur ide dan perdebatan tentang jenis usaha pun tak terhindarkan.
Bincang Pustaka & Rembug Usaha
Akhirnya, jam setengah sebelas malam, acara dipungkasi dengan beberapa kesimpulan penting. Pertama, Santri Foundation akan tetap fokus kepada program beasiswa dan permodalan santri, serta terus berupaya mengembangkannya secara profesional. Kedua, Santrijagad adalah anak kandung Santri Foundatin yang bergerak sebagai komunitas budaya, diskusi dan literasi. Ketiga, anggota Komunitas Santrijagad dipersilakan berkreasi dan meniti usaha di lingkungan komunitas, memanfaatkan fasilitas komunitas, serta membuat jaringan usaha seaktif mungkin. Namun harus ada pemisahan manajemen yang jelas antara komunitas budaya dan bidang usaha. Kelima, jenis usaha yang akan digarap kedai Perpustakaan Santrijagad akan dimulai dengan pemanfaatan potensi daerah berupa singkong untuk diolah menjadi panganan komersial, dan akan dieksekusi dalam tempo sesingkat-singkatnya. Insyaallah. [Zq]
Share on :

1 comment:

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang