Tafakur

18 February 2016

Oleh: M. Soffa Ihsan 
 
Dalam banyak kamus, fikr didefinisikan sebagai perenungan. Banyak ayat al-Quran yang menekankan arti penting fikr. Diantaranya terdapat dalam surah al-Nahl ayat 44, Ali Imran ayat 191, al-Baqarah ayat 266, Yunus ayat 24, al-Hasyr ayat 21 dan sebagainya.
 
 
 
Menurut Imam Ghazali dalam Kimiya’ al-Sa’adah, bertafakur menimbulkan perkembangan berantai, yaitu kesadaran (ma’rifah), kemudian sebuah keadaan (al-halah) dan akhirnya perbuatan (‘amal). Dalam kata-kata al-Kharaqani, “Orang yang shalat dan berpuasa dekat kepada manusia, sedangkan orang yang bertafakur lebih dekat kepada Allah.”
 
Bagi kaum sufi, obyek tafakur adalah Allah. Segala sesuatu yang lain dicampakkan dari pikiran. Tafakur para filsuf dilakukan dengan akal. Sementara, tafakur kaum sufi lebih banyak melibatkan dengan cinta. Bagi kaum sufi, tafakur adalah menempuh perjalanan spiritual di dalam hati, dilahirkan melalui zikir kepada Allah.
 
Dengan zikir, cahaya manifestasi Ilahi mulai menyinari rumah hati. Dengan cahaya ini, kesadaran hati dibangkitkan dan diubah menjadi pembimbing pada jalan hakikat. Ketika tafakur rasional terbentuk, tafakur yang berdasarkan hati tumbuh. Dalam tafakur rasional,motivasi dan daya dorongannya adalah akal, sedangkan dalam tafakur hati, motivasi dan gurunya adalah Allah. Khawjeh Abdullah Anshari mengajarkan bahwa berfikir menumbuhkan sikap pengendalian diri dimana hawa nafsu dikekang. Menurutnya, hati menempuh perjalanan seperti halnya hawa nafsu dan berfikir bagi hati menjadi bekal bagi perjalanan itu. [bq]
 
Sumber: M. Soffa Ihsan. Edisi 26 Tahun 2009. Tafakur. Halaman 57. Mata Air.

Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang