Akhlaq Abah Guru Sekumpul

14 March 2016

OLEH: HABIB AHMAD AL-AHDAL*

Saya di sini tidak menceritakan cerita-cerita yang ajaib yang terjadi pada Abah Guru. Karena para waliyullah itu pasti jauh daripada sifat ujub, sum'ah, takabbur, riya, syirik dan lain sebagainya. Dan para waliyullah umumnya, dan Abah Guru Sekumpul khususnya, beliau tidak pernah merasa memiliki suatu karomah, karena kemuliaan dan kebesaran hanya milik Allah. Kecuali mereka dalam keadaan kepepet dan itupun atas izin Allah juga, disebabkan Allah sangat menyayangi mereka, maka dari itu Allah langsung yang menjaga mereka dan melindungi mereka.
Habib Ahmad al-Ahdal dan Abah Guru Sekumpul bermusyafahah di Kubah Datuk Kalampayan (Syeikh Muhammad Arsyad al-Banjari)
Yang mau saya ceritakan di sini bukan masalah karamah seperti yang di atas tadi, akan tetapi ini adalah sesuatu yang melebihi daripada karamah-karamah tersebut, yakni yang dinamakan istiqomah.

Sehubungan dengan istiqomah, saya melihat Abah Guru mengajar dengan istiqomahnya. Sewaktu beliau terbaring sakit di rumah, dan terbaring lemah di kasur beliau masih tetap mengajar. Ada lagi, pada waktu tangan dan kaki beliau bengkak, waktu itu ada rombongan habib sekitar 20 orang lebih yang datang dan beliaupun menjamu para tamu habaib tersebut, seolah-olah beliau tidak merasakan sakit sedikitpun di tangan dan kaki beliau pada waktu itu. Namun setelah tamu pergi berlalu, beliau baru kesakitan, dan menundukkan wajah beliau serta memegangi tangan beliau dengan menyebut nama; Allaaah, Allaaah, Allaaaah.

Dan ada lagi waktu Abah Guru mau ke majlis, ada orang yang mau minta air untuk didoakan sama beliau, padahal Abah Guru sendiri tak mengenal siapa orang tersebut. Dan di waktu tengah malam seperti biasa beliau bangun dan beliau sampai menangis berdoa bahkan terisak-isak, sampai-sampai beliau jatuh sakit. Lalu besoknya adik beliau, Hajjah Rahmah, dan istri beliau melarang orang-orang untuk minta air secara langsung kepada beliau karena khawatir akan kesehatan beliau. Karena setiap ada orang yang mau minta air, pasti diberi sama beliau.

Namun malamnya beliau selalu menangis di tengah malam yang sunyi  untuk mendoakan si fulan/ fulanah yang minta air tadi siang tersebut. Bahkan ada juga yang sampai beliau sakit karena mendoakan orang yang minta air tadi. Padahal namanya saja beliau tidak tahu.

Ada lagi pas sewaktu malam saya terkejut mendengar beliau menangis dengan terisak-isak berdoa, sampai wajah beliau basah dengan air mata. Saya mendengar sedikit doa beliau pada waktu itu. Subhaanallaah! Kalau tidak salah khilaf seperti ini doa Abah Guru Sekumpul;

“Yaa Allaaah, ampuni dosa-dosa murid-murid ulun, keluarga ulun, anak bini ulun, anak-anak angkat ulun, jiran-jiran ulun, dan semua ummat muslimin wa muslimat dimanapun mereka berada namun hati mereka mencintai ulun dan keluarga ulun. Yaa Allaah, ampuni jua dosa-dosa orang-orang yang tidak menyukai ulun, orang yang memusuhi ulun, orang yang menyakiti hati ulun. Ampuni jua dosa-dosa mereka semua, dan sampaikan kepada kekasih Engkau yakni Baginda Nabi Muhammad untuk memberi syafaatnya terhadap mereka semua. Karena biarpun mereka membenci ulun, akan tetapi ulun ridho dengan mereka. Jadi ulun berharap semua yang ulun sebutkan tadi, terutama diri ulun ini, matikan dalam keadaan husnul khotimah ya Allah, dan ulun mohon masukkan kami semua di dalam surga firdaus Engkau bighairi hisaaab. Dan terhadap orang yang membenci diri ulun ini tolong turunkan rahmat Engkau terhadap mereka, biar mereka bisa juga merasakan kenikmatan surga Engkau, dan biarkan ulun bersahabat dengan mereka di surga nanti. Karena ulun ridho terhadap mereka.”

Doa ini masih panjang padahal, yang ini saja sudah membuat hati saya bersangatan malu setiap berhadapan dengan Abah. Maka saya melihat langsung bagaimana kondisi Abah pada waktu berdoa itu. Waktu itu Abah dalam keadaan sakit keras. Pada saat itu yang bikin saya terharu menitikkan air mata, beliau sama sekali tidak berdoa untuk kesembuhan diri beliau, sama sekali beliau tidak menghiraukan penyakit beliau dan berdoa untuk kesembuhan beliau. Hanya mendoakan anak muridnya selamat dunia akhirat. Ridho dan ikhlas serta kecintaan yang tulus kepada anak muridnya dan orang-orang Islam itulah yang mendasari Abah Guru  mendoakan seperti itu . Saya  berani menjadi saksi di Yaumil Akhir nanti tentang kejadian yang penah saya lihat dan saya alami ini.

*Penulis adalah anak angkat Abah Guru Sekumpul (KH Zaini Abdul Ghoni) Martapura, diasuh dan dibesarkan oleh Abah Guru Sekumpul. Sumber artikel: Kaef Al Adzami.
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang