Endang Supadmi : Kesenian Sudah Menyatu dengan Tubuh Saya

29 March 2016

Menjadi guru seni merupakan panggilan hati. Di samping itu, darah seni memang mengalir di dalam keluarga perempuan kelahiran Solo ini, baik kakak atau saudara beberapa ada yang berkecimpung di dunia seni. Namun, kecintaannya pada seni tumbuh secara otodidak.


Sistem feodalisme yang dialami Bu Endang sewaktu kecil membuat tidak semua orang boleh belajar menari. Hanya anak-anak pejabat setempatlah yang diberi akses untuk berlatih menari. Pendopo tempat menari di dusun tempat beliau tinggal dijaga ketat oleh pagar kawat . Bu endang kecil memulai belajar menari dari balik pagar kawat saat anak-anak pejabat dusun berlatih menari dengan guru tari yang di datangkannya dari keraton. Namun, pelan-pelan secara ototidak beliau mampu mengikuti gerakan-gerakan guru tari yang dilihatnya dari balik pagar kawat sana. Sampai suatu waktu, guru tari melihat bakat menari bu endang kecil dan menawari bu endang kecil untuk belajar menari. Pada waktu itu usianya masih setingkat usia TK. Sejak saat itulah beliau sering ditampilkan dalam pentas-pentas kesenian.

Tidak hanya seni tari, seni karawitan yang digelutinya pun berawal dari kesenangannya melihat orang-orang bermain karawitan dari jarak jauh. Kemudian ketika orangnya pergi dia mencoba-coba sendiri, sampai akhirnya mampu memainkannya. Pencapain beliau sekarang ini dimulai dari rasa keingintahuan yang tinggi. Sehingga, beliau bersemangat untuk mempelajarinya dengan segala keterbatasan beliau sampai beliau mampu menguasai bidang tersebut.

Bakat seninya mulai mendapat perhatian serius ketika beliau masuk jurusan seni di IKIP Semarang. Setelah beliau lulus beliau langsung bertugas mengajarkan kesenian di SMA N 1 Tegal hingga sekarang.

Penyuka warna hitam ini percaya bahwa warna hitam memiliki sifat teduh yang bisa dipadukan dengan warna apa saja. Bisa menyatu dengan siapa saja. Sama halnya dengan karakter pribadi beliau yang tidak pernah membeda-bedakan untuk bergaul dengan siapa saja. Kalau kita punya karakter yang kuat, bergaul dengan siapa saja tidak akan menjadi masalah buat kita. Menurutnya, orang-orang yang pilah-pilih dalam bergaul adalah orang yang tidak punya pendirian yang kuat.

Apa yang dilakukan beliau yang dengan sabar dan telaten mengajarkan, membimbing dan mengenalkan kesenian kepada anak-anak muridnya di SMA N 1 Tegal adalah agar supaya kesenian itu tetap hidup. Beliau punya harapan yang sangat besar kepada anak-anak muridnya supaya suatu saat nanti ada anak-anak muridnya yang meneruskan perjuangannya.

Kesulitan yang dialami beliau ketika mengajarkan kesenian kepada anak-anak muridnya adalah kesulitan membagi waktu. Selain itu juga, terkadang jerih payah beliau melatih anak-anak muridnya tidak mendapat apresiasi yang setimpal dari berbagai pihak. Namun, justru itulah yang menjadi pacuan dan semangat untuk terus maju. Dulu apresiasi dan kepercayaan sangat sulit dirasakan. Tetapi, dengan berbagai prestasi yang beliau peroleh bersama anak-anak muridnya, perlahan-lahan apresiasi kepada bidang kesenian mulai berdatangan. Meski tidak seapresiatif terhadap bidang lain.

Hal yang paling membahagiakan buat beliau adalah ketika anak-anak muridnya bisa mempelajari dan menguasai apa yang diajarkan. Terutama, anak-anak muridnya yang belajar kesenian dari nol sampai akhirnya menjadi bisa menguasai apa yang beliau ajarkan. Lelah, letih dan halangan-halangan lain tidak menyurutkan langkan beliau mengajarkan kesenian. Beliau berkata,“Tari dan musik sudah menyatu dengan tubuh saya.”

“Seni itu lebih disiplin dan lebh pasti ketimbang matematika. Jika di matematika mengenal pembulatan, di dalam kesenian tidak demikian. Misalnya saat kita menari bersama-sama ketika kita dan partner kita salah pada hitungan yang telah di tentukan sebelumnya, maka tarian kita akan menjadi kacau akan akan saling bertabrakan satu sama lain. Begitupun juga  ketika mengepaskan ketukan pada irama musik.” Papar beliau.

Pada tahun 2001, Bu Endang bersama murid-murid beliau mengkreasikan sebuah seni tari yang diberi nama Wayang Orang-Orangan ( WOO). Beliau menuturkan,” Orang-orang mengira kalau WOO itu adalah hasil karya saya. Padahal itu bukan, WOO itu hasil karya asli dari anak-anak murid saya di SMA N 1 Tegal. Saya hanya mematangkan saja hasil karya dari anak-anak itu. Dulu, sewaktu sekolah mengadakan Malam Kenangan setiap siswa di bebaskan mengkreasikan apa saja untuk di tampilkan di perhelatan akhir tahun ajaran itu. Tapi sebelum itu harus melewati proses audisi. Nah, waktu itu lah saya melihat beberapa anak-anak muridnya menampilkan WOO itu.  Dengan berbagai perbaikan sana-sini akhirya WOO ini menjadi kaya sekarang ini.

Tidak hanya itu, Beliau juga mengkreasikan sebuah tarian yang diberi nama Tari Retnatanjung dan Minalodra. Retno itu artinya permata. Orang kalau berbicara tentang kemewahan pasti menggunakan symbol permata. Lha, di Tegal pinggiran lautnya tersimpan benda berharga seperti permata. Sedangkan, Tanjung adalah daratan yang menjorok kelaut. Mina itu ikan, lodra ‘bergelora’ untuk menggambarkan kehidupan nelayan yang bersentuhan dengan laut. Perjuangan nelayan bercengkerama dengan ombak serta bermain-main dengan pancing, jala, awan, mega, dan burung-burung di lautan. Badai yang bagi orang lain menakutkan bagi nelayan menjadi sahabat. Selain itu juga, tari kreasi beliau bisa mewakili identitas Tegal sebagai Kota Bahari.  Tarian ini pertama kali dipentaskan di PAI untuk diikutlombakan lomba cipta tari Jawa Bali. Model yag membawakan tari retnotanjung dan mina lodra adalah pamong atau guru seni tari yang merupakan karib beliau sendiri.

Beliau menambahkan, " Mengkreasikan sebuah tarian itu sendiri sebenarnya bisa dilakukan oleh siapa saja, hanya perlu konsistensi untuk bisa meningat gerakan-gerakan yang diciptakan. Banyak orang yang mampu mengkreasikan sebuah tarian namun itu cuma sesaat saja ketika di ulang dia lupa geraka-gerakan yang diciptakannya itu. Konsistensi setiap gerakan adalah hal yang paling utama ketika kita ingin mengkreasikan sebuah tarian."

Harapan beliau, Tegal jangan sampai kehilangan budayanya karena budaya itu identitas sebuah bangsa. Bukan hanya tari, melainkan juga bahasa seperti dialek Tegal sendiri. Ketika sebuah bangsa tidak memiliki budaya secara otomatis bangsa itu juga tidak punya identitas. Aristoles mengatakan bahwa suatu bangsa dilihat dari bagaimana budaya manusianya.

Beliau berpesan kepada semua anak-anak muda di Tegal agar tetap melihara dan jangan malu dengan budaya Tegal, budaya kita sendiri. Sekarang ini budaya Tegal sedang berkembang. Dulu semenjak 80an sampai 2000-an budaya di Tegal berjalan di tempat karena kurang adanya dukungan dari pemerintah. Namun, sekarang banyak gerakan bawah tanah untuk memajukan budaya Tegal. Penandanya banyak penyelenggarakan festival dan pengiriman duta wisata ke luar kota. Misalnya ada pekan seni, ada karnaval pesisiran, festival teater jawa bali. Pemerintah juga mempersilakan siswa dan remaja untuk menampilkan budaya atau seninya di PAI. Selain itu, setiap tahunnya juga beliau dan anak-anak muridnya mendapat undangan untuk menampilkan kesenian di anjungan di Taman Mini.

Namun, dari semua itu hal yang terpenting menurut beliau ketika kita berkecimpung di dunia seni sebagai seorang muslim adalah tetap berusaha menampilkan seni yang tidak keluar dari norma-norma yang ada, khusunya norma agama.(akhmad Syofwandi)

Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang