Gharqat Al-Qulays: Kakbah Abrahah yang Kini Menjadi Tong Sampah

4 March 2016

OLEH: DZUL FAHMI

Abrahah bernama lengkap Abrahah ibn al-Shabah Abi Ma'sum, atau juga dikenal dengan panggilan Abrahah al-Asyram. Oleh  Raja Habasyah, al-Najasyi, ia dilantik menjadi gubernur di Yaman setelah berhasil menaklukkan Kerajaan Saba. Lantas mengapa ia ingin meruntuhkan Kakbah?


 Penduduk Yaman adalah orang Arab yang beragama haniif –agama yang dibawa oleh Nabi Ibrahim As. Mereka selalu berkunjung ke Mekkah untuk menunaikan ibadah di Kakbah. Karena Abrahah beragama Nasrani, maka ia tak menghendaki penduduk Yaman pergi ke Mekkah lagi. Ia lantas membangun gereja di Sana’a yang lalu diberinama al-Qulays. Ia memerintahkan Bangsa Arab untuk beribadah ke gereja yang dibangunnya itu.

Namun ternyata keinginan Abrahah tak sesederhana yang ia duga. Resistensi yang timbul dari Bangsa Arab, khususnya kaum Quraisy, sangat keras. Mereka menolak jika Kakbah yang selama ini mereka muliakan harus dialihkan ke Sana’a. Dikisahkan, bahwa salah seorang anggota suku Quraisy pergi ke Sana’a dengan penuh kemarahan kepada Abrahah. Kemarahan itu ia lampiaskan dengan masuk ke Gereja al-Qulaisy di malam hari. Lalu mengotorinya dengan membuang najis di dalamnya.

Mengetahui peristiwa itu, Abrahah murka. Ia lalu membuat perintah ekspedisi pasukan untuk berangkat ke Mekkah untuk balas dendam. Ia pun bersumpah akan turut serta dalam misi tersebut dan berjanji akan menyungkil batu-batu Kakbah satu per satu. Kemudian berangkatlah Abrahah bersama pasukannya ke Mekkah mengendarai gajah.

Abdul Muttalib, salah satu pembesar suku Quraisy, menyampaikan berita tersebut kepada seluruh penduduk Mekkah sambil menginstruksikan mereka pergi ke bukit-bukit. Mereka khawatir akan kejahatan yang ditimbulkan Abrahah beserta pasukannya. Sebelum meninggalkan Mekkah, bersama beberapa orang Quraisy, ia berdoa dan memohon kepada Allah agar menyelamatkan Baitullah dari serangan Abrahah dan bala tentaranya.

Dikisahkan pula, ketika pasukan Abrahah telah sampai di kawasan Mughammas untuk memasuki Mekkah, gajah-gajah mereka enggan bangun dan berjalan memasukki Mekkah. Anehnya, jika dipalingkan ke arah lain, gajah-gajah itu segera bergerak. Sehingga pasukan Abrahah harus memukul gajah-gajah mereka agar mau berjalan.

Dalam keadaan seperti itu, Allah kemudian mengutus  burung-burung yang masing-masing membawa tiga batu kecil. Dua batu di kedua kakinya dan satu batu di paruhnya. Burung-burung tersebut beterbangan melintasi kepala para pasukan Abrahah sambil menjatuhkan batu kecil yang dibawanya. Tak ada seorangpun yang terkena batu itu bisa selamat. Spontan, pasukan Abrahah kocar-kacir menyelamatkan diri. Dan Kakbah pun bisa terselamatkan.

Saya benar-benar penasaran dengan puing-puing sejarah peninggalan Abrahah itu. Oleh sebab itu, selama berjalan kaki menelusuri pasar tradisional yang terbentang dari Babul Yaman, hati saya dirundung perasaan tak sabar. Saya terus bertanya-tanya: Seberapa kokohkah Kakbah duplikat yang ingin dijadikan alternatif pengganti Baitullah di Mekkah itu? Bagaimanakah kondisi tempat itu saat ini? Dan pula segepok pertanyaan-pertanyaan yang lain yang terus melintas di kepala. Awalnya saya mengira lokasinya sangat dekat dari Babul Yaman. Ternyata tidak juga.

Saya baru tahu, bahwa ternyata pasar tradisional yang akrab dengan nama Pasar Buzz itu sangat luas. Kompleksnya juga berliku-liku. Lebih-lebih Desa al-Qulays yang saya tuju itu ternyata berada di kawasan dalam. Saya harus berjalan kaki menelusuri pasar dan beberapa perumahan warga. Hingga sampailah akhirnya pada kompleks yang dimaksud. Di sebuah papan pariwisata yang tertancap, bertuliskan ”Gharqat al-Qulays” dengan versi Arab dan latin. Ya, itulah Kakbah duplikat yang didirikan Abrahah.

Terbelalak. Saya nyaris tak percaya. Rumah ibadah yang konon megahnya luar biasa itu kini tak menyisakan sesuatu yang berharga. Kecuali hanya sumur raksasa yang di dalamnya dirimbuni semak belukar. Kini, sumur lingkaran berdiameter kurang lebih 15 meter itu hanya diberi pelindung pagar besi. Tingginya sekira satu meter. Saya merasa tak cukup menyaksikan sampai di situ. Hati saya masih penasaran dengan apa yang tersimpan di sumur itu.

Maka, saya memutuskan untuk memanjat ke pilar batu yang menjadi pondasi sumur tersebut. Ketika ujung jemari saya telah berhasil menyentuh atap besi. Tiba-tiba, ”wushhh”, semerbak aroma busuk menyeruak ke hidung. Amis, apek, dan –maaf– pesing. Ya, memang itulah aroma yang saya cium. Saya lantas tak ingin melanjutkan dan memilih turun untuk berpose mengambil gambar.

”Arena Tawaf” yang melingkari sumur tersebut juga kini telah beralih fungsi menjadi tempat parkir kendaraan. Ketika saya ke sana, terlihat beberapa pemuda yang sedang bermain bola di situ. Kesakralan tempat tersebut drastis hilang bersamaan dengan perjalanan waktu. Kini, Gharqat al-Qulays tak lebih merupakan salah satu puing sejarah yang bentuknya lebih menyerupai ”tong sampah”.


Saya semakin sadar bahwa Allah memberikan pelajaran dengan banyak cara serta peristiwa. Pada dasarnya, Dia ingin mengingatkan manusia agar memahami hukum alam yang sudah digariskan-Nya. Bahwa kebaikan akan terbalas kebaikan dan kejahatan akan terbalas kejahatan.  Kini, peristiwa yang tahunnya dikenal dengan sebutan Tahun Gajah –tahun di mana Rasulullah Muhammad dilahirkan– itu abadi di dalam al-Qur’an. Siapa pun bisa mengambil pelajaran darinya.

"Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?!. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia? dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat)” (QS. Al-Fîl : 1 - 5).

*Penulis adalah santri Universitas Al-Ahgaff, Yaman.
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang