Habib Ali al-Jufri: Dua Kabar Kematian

10 March 2016

OLEH: HABIB ALI AL-JUFRI
 
Senin waktu shalat Subuh, 12 Rabi’ul Awwal. Rasulullah SAW menyingkap tabir kain dari pintu rumah beliau. Pandangannya mengarah kepada para sahabat. Tampak mereka tengah shalat dengan khusyu’ dan tunduk di hadapan Allah SWT, di bawah pimpinan Abu Bakar RA.
 
Segala puji bagi Allah, saat Rasulullah SAW memperhatikan para sahabatnya itu, masjid pun bercahaya dengan kemunculan beliau. Sampai sebagian sahabat mengatakan, “Hampir saja kami terlalaikan dari shalat kami ketika Rasulullah SAW muncul.”
 
 
 Habib Ali Al-Jufri
 
Abubakar RA hampir saja mundur dari pengimaman, sementara para sahabat yang lainnya hampir saja memalingkan pandangannya kepada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW menunjuk dengan tangan beliau, “Tetaplah di tempat kalian.” Kemudian beliau menutup kembali tirai di pintu masuk rumah beliau itu.
 
Para sahabat mengatakan, “Itulah saat terakhir Rasulullah SAW memandangi para sahabatnya.”
Abdullah bin Mas’ud RA, pembantu Rasulullah SAW, mengatakan, ketika Rasulullah SAW melihat mereka, beliau mengatakan, “Allah memelihara kalian, Allah memberkati kalian, Allah menguatkan kalian, Allah menolong kalian, Allah membantu kalian.”
 
Inilah salam persembahan dari seseorang yang merindukan para sahabatnya. Para sahabat pun memberi salam kepada Rasulullah SAW dan keluar dari masjid. Dikatakan, para sahabat bergembira saat mendapati Rasulullah SAW memperhatikan mereka dari pintu rumah beliau. Mereka menyangka kondisi kesehatan Rasulullah SAW telah berangsur pulih. Karenanya sebagian dari mereka kemudian beraktivitas lagi seperti sedia kala, dan mereka menyangka bahwa itu adalah rahmat Allah SWT terhadap mereka.
 
Aisyah RA berkata, “Rasulullah SAW meminta izin dari sekalian istri beliau untuk dirawat di rumahku, lalu mereka mengizinkan. Saat hari Senin itu, hari wafatnya Rasululla SAW, tiba, ruh beliau diambil di rumahku sedangkan beliau ada dalam dekapanku.”
 
Ia, Aisyah RA, berkisah, “Ketika kami semua sedang duduk, datanglah Fathimah sambil menangis. Cara berjalannya mirip cara berjalan ayahandanya, Rasulullah SAW. Kemudian beliau mendekap dan mengecupnya lalu membisikkan sesuatu di telinganya. Sesaat kemudian Fathimah mengangkat kepalanya. Ia menangis. Kemudian Rasulullah SAW memberi isyarat kepadanya, beliau ingin membisikkan lagi sesuatu kepada Fathimah. Fathimah mendekati ayahnya dan Rasulullah kemudian membisikkan lagi sesuatu kepada Fatihmah. Sesaat setelah itu Fathimah kembali mengangkat kepalanya dengan penuh rasa gembira yang merona di wajahnya. Aku tidak pernah melihat tangisan yang kemudian disusul dengan tertawa seperti itu.”
 
Aisyah RA pun bertanya kepada Fathimah RA, “Apa yang dibisikkan ayahandamu kepadamu?”
Fathimah RA menjawab, “Jangan engkau hiraukan hal itu, karena aku tak mau membuka rahasia ini selagi beliau masih hidup.”
 
Ketika setelah Rasulullah SAW wafat, Aisyah bertanya lagi tentang hal itu. Fathimah mengatakan, “Ya, ketika aku mendekati ayahku, beliau berbisik kepadaku, ‘Wahai Fathimah, sekali dalam setahun Jibril mendatangiku untuk membacakan Al-Qur’an kepadaku dan pada tahun ini ia telah mendatangiku dua kali. Dan Allah telah memberi pilihan kepada ayahmu, antara dunia dan Ar-Rafiqul A’la.’ Ayahku memilih Ar-Rafiqul A’la. Dan aku diberi tahu bahwa nyawanya akan dicabut pada hari itu. Lalu aku pun menangis. Kemudian beliau memanggilku lagi dan membisikkan kepadaku, ‘Apakah engkau suka bahwa engkau menjadi penghulu wanita sekalian alam dan menjadi orang yang pertama kali akan menyusulku?’ Aku pun bergembira dengan berita dari ayahku itu.”
 
Kematian adalah sesuatu yang menyedihkan. Bagaimana dengan kabar kematianmu ini, wahai Zahra?
Fathimah mengatakan, “Berita kematianku ini mempercepat pertemuanku dengan orang yang aku kasihi, dan inilah kehidupan yang sesungguhnya bagiku.” [bq]
 
Sumber: al-Kisah No.05/7 – 20 Maret 2011 halaman 13-14
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang