Habib Ali al-Jufri: Peristiwa Setelah Dua Kabar Kematian

25 March 2016

OLEH: HABIB ALI AL-JUFRI
 
Aisyah RA melanjutkan kisahnya, “Sebelum itu kami mendengar ada sesuatu yang bergerak di balik pintu. Dan itu adalah Jibril. Jibril meminta izin Rasulullah SAW untuk masuk. Beliau mengizinkannya. Kemudian aku mendengar Rasulullah berkata kepadanya, ‘Wahai Jibril, Ar-Rafiqul A’la…, Ar-Rafiqul A’la…. Kami tahu bawha sangkaan kami adalah tepat.”
 
Habib Ali al-Jufri bersama Habib Munzir al-Musawwa (Alm.)
 
Kemudian aku bertanya kepada Rasulullah SAW, ‘Apa yang telah terjadi, wahai Rasulullah?’
Rasulullah SAW menjawab, “Itulah Jibril yang datang dan berkata: Malaikat maut telah berada di depan pintu dan meminta izin. Dan tidaklah malaikat maut meminta izin kepada seorang pun baik sebelum dan sesudahmu. Dan ia (Jibril) mengatakan: Allah menyampaikan salam kepadamu dan Dia telah merindukanmu.”
 
Maka, wahai orang-orang yang berakal, apakah perpindahan kepada Tuhan yang merindukannya merupakan suatu kematian? Bukan. Kehidupan yang sebenarnya adalah perpindahan kepada Allah, Yang Mahahidup.
 
Kemudian malaikat maut mengatakan kepada Rasulullah SAW, “Jikalau engkau berkenan, aku akan mencabut ruhmu untuk menemui Ar-Rafiqul A’la. Namun jika engkau tidak berkenan, aku akan biarkan mengikuti berlalunya masa sampai tempo waktu yang engkau inginkan.”
 
Rasulullah memilih Allah Ta’ala. Ya, beliau memilih Sahabat Yang Teragung. Kemudian malaikat maut pun masuk dan mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW. Ia berkata lagi, “Wahai Rasulullah, apakah kau mengizinkanku?”
 
Rasulullah SAW menjawab, “Terserah apa yang akan kau lakukan, wahai malaikat maut. Dan berlaku lembutlah sewaktu mencabut ruhku.”
 
“Hhhhhhhhh…….” Desis suara Rasulullah SAW menahan rasa sakit. Rasulullah kembali mengatakan kepada malaikat maut, “Berlaku lembutlah kepadaku, wahai malaikat maut.”
 
Perhatikanlah (meski dicabut dengan selembut-lembutnya pencabutan ruh yang pernah dilakukan malaikat maut), Rasulullah SAW pun merasakan sakitnya sakaratul maut. Maka bagaimana (yang akan dirasakan) oleh orang yang lalai dengan kematian dalam kehidupan mereka? Mereka tidak merenungi saat-saat ketika nyawa dicabut pada saat sakaratul maut.
 
Maka menanjak naiklah ruh mulia Baginda Rasulullah SAW, yang ditandai dengan sentakan kedua kaki beliau. Peluh pun bercucuran dari dahi Baginda. Peluh yang bagaikan butiran permata berbau kesturi. Rasulullah SAW menyapu peluhnya itu dengan tangannya dan kemudian meletakkan tangannya pada sebuah wadah di tepinya untuk menyejukkan tubuhnya.
 
Kembali suara berdesis dari lisan suci beliau, “Hhhhh…..” Lantaran rasa sakit yang beliau alami pada saat sakaratul maut. Beliau pun mengatakan, “Sesungguhnya maut itu amatlah berat. Ya Allah ringankan beratnya maut terhadapku.”
 
Maka para malaikat dari langit pun turun kepada beliau. Mereka berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya Allah menyampaikan salam atasmu dan Dia menyatakan bahwa sesungguhnya perihnya sakaratul maut 20 kali lipat (dalam riwayat lain 70 kali lipat) dari rasa sakit akibat pedang yang menusuk tubuh.”
 
Rasulullah SAW pun menangis dengan tangisan yang tiada tangisan lain yang lebih menyedihkan bagi kalian semua. Beliau berdoa, “Ya Allah, beratkanlah sakaratul maut ini atasku, tapi ringankanlah atas umatku.”
 
Wahai, bagaimana hati kita tidak tergetar dan semakin merasakan kerinduan kepada Rasulullah SAW? Bagaimana hati kita tidak terikat untuk senantiasa merindukan beliau? Bagaimana hati kita tidak tersentuh kala pribadi beliau diperdengarkan? [bq]
 
Sumber: al-Kisah No.05/7 – 20 Maret 2011 halaman 14-16
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang