Habib Jindan: Menjadi Murid Kebanggaan dan Membanggakan Guru (Bagian Ketiga-Habis)

3 March 2016

OLEH: HABIB JINDAN BIN NOVEL JINDAN

Diceritakan bahwa Imam Hasan As-Syadzili kedatangan seorang yang ingin belajar ilmu kimia merubah benda menjadi emas. Ilmu ini sudah lama punah. Imam mengiyakan dengan syarat setiap batal wudhu harus melakukan shalat sunnah. Setahun kemudian ketika sedang menimba air terasa berat dan didapati air tersebut berubah menjadi emas!. Karena sudah istiqomah untuk berwudhu shalat sunnah maka dituang lagi, di tarik lagi. Didapati emas lagi, dibuang lagi terus hingga kembali menjadi air “Ini yang saya mau!”.
 
Murid tadi menemui Imam As-Syadzili meminta dikembalikan seperti semula, maka berkata sang Imam “Cukuplah. Dirimu pun sudah mejadi emas hingga hatimu pun menjadi emas!” Berkat keberkahan dekat kepada orang mulia, bagi murid emas dan tanah adalah sama!
 
 
Habib Jindan bin Novel Jindan
 
Lihat. Cinta Habib Munzir kepada gurunya yaitu Al-Habib Umar bin Hafidh begitu besar hingga kalau di suruh lompat terjun pun beliau akan lompat. Bagi Habib Munzir kalau Habib Umar menyuruh melakukan A ya harus A bukan a kecil tapi A besar. Saya buka sedikit,dulu ketika Habib Munzir sering memajang fotonya dan Habib Umar di jalan jalan, Habib Umar berkata kepada saya untuk menyampaikan jika pada kedatangan kita berikutnya jangan tempel foto di jalan umum, sekedar pengumuman tanpa foto. Biarkan itu (pengumuman dan foto, red) milik para orang politik, berlaku hingga sekarang. Ini penyerahan seratus persen terhadap gurunya, seperti mayat di hadapan gurunya.
 
Dulu di awal perjalanan dakwah, Habib Munzir sering keluar kota berhari hari hingga banyak problem berupa sakit, tumpukan hutang dll, maka datang surat dari Habib Umar melarang keluar kota dan perintah rinci lainnya tidak boleh begini, harus begini dlsbnya. Tidak boleh pinjem sama siapapun. Banyak perintah berat dengan adanya surat tersebut, saya tahu isi surat tersebut karena bacanya bareng di kamar saya. Habib Munzir syok dengan keadaan tersebut, sampai berkata “Kalau ane tahu hati Habib Umar akan seperti ini, ane gak mau jadi ulama mending jadi tukang sate!”.
 
Sayyidina Umar bin Khattab pernah berkata “Andaikata aku tidak pernah dilahirkan ke dunia, andaikata ibuku mandul, andaikata aku dilahirkan sebagai seekor kambing maka akan lebih ringan. Hanya makan minum gemuk disembelih maka selesai, tidak harus memikul tanggung jawab besar di hadapan Allah.”
 
Saya bilang “Ya munzir, mau bagaimanapun berat dan ringannya, Habib Umar guru kita. Kita tidak faham saat ini tetapi ke depan bakal faham.” Ternyata betul! Urusan jadi beres, hutang selesai, dakwah hingga jadi seperti sekarang dlsbnya. Kalau bukan karena surat Habib Umar tidak bakal seperti ini dan semua itu pun butuh pengorbanan, mau makan pun susah karena sudah gak boleh pinjam, terkadang ke majelis naik taksi, kadang saya yang jemput, berkat taat dan kepatuhan. Lambangnya bukan banyaknya massa dlsbnya, tetapi dengan ridhonya Habib Umar terhadap beliau simaklah bait bait syairnya, beliau Habib munzir lakukan dengan penuh pengorbanan. Intinya jangan pernah melepaskan diri dari syaikh dalam keadaan apapun.
 
Belasan tahun lalu, pernah satu saat, Habib Umar bercerita kepada saya ada seorang murid Habib Umar, seorang teman kami berdakwah di Jazirah Arab, sukses memiliki banyak jamaah, selesai majelis ditunggu banyak mobil jamaah yang minta dinaikinya. Macam macam fasilitas. Tetapi ia lupa dan berkata bahwa semua ini adalah hasil dari jerih payahnya, dari keringatnya, bukan hasil dari gurunya. Menisbatkan kesuksesan kepada dirinya lupa kepada gurunya yaitu Habib Umar. Ketika ia melepas diri dari Habib Umar maka hilanglah sudah semua hal yang dianggap miliknya. Tidak ada lagi macam macam fasilitas yang menunggunya, mobil mobil muridnya hanya berlalu begitu saja tidak memperdulikan hanya sekedar “Oh ada ustad.” Maka celaka orang yang dekat dengan syaikh tapi tidak beradab! 
 
Semoga kita menjadi murid yang membanggakan guru dan juga menjadi kebanggaan guru kita. Aamiin.
 
Allahuma soli ala sayidina muhammad nabiyil umiy wa alihi wa shobihi wa salim. [bq]
 
Sumber: islamuna.info #google-nya aswaja

Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2016 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang