Habib Munzir, Dai yang Berdakwah ala Rasulullah

4 March 2016

OLEH: ABDULLAH MUBAQI
Sore itu, saya membuka Youtube.com. Di ruang pencarian, saya sematkan salah satu nama Habib yang tak asing. Setelah muncul beberapa pilihan, saya klik salah satu yang berjudul Habib Munzir Al Musawa-Tausiyah Yang Menggetarkan Jiwa Di Malam Pergantian Tahun. Video berdurasi 10 menit lebih 54 detik itu begitu menarik. Mungkin karena ke-kuranggaul-an saya. Sebab ternyata, setelah saya perhatikan di awal video ini, tertera tanggal Majelis itu berlangsung, yakni; 31 Desember 2012. Hal itu berarti, 3 tahun lebih 2 bulan 3 hari silam.
Sebegitu menariknya, tanpa saya berpikir terlalu lama, video itu saya download via savefrom.net. Begitu selesai, saya saksikan via GOM Player. Video itu menampilkan sosok Habib Munzir al-Musawwa menghadap ribuan jamaah yang memenuhi lapangan Monas. Dengan suara yang menggelegar, beliau menyampaikan isi tausiyah yang memang benar-benar menggetarkan. Bagaimana tidak? Ketika tausiyah itu berlangsung, bunyi-bunyi letupan kembang api yang menandakan tahun telah berlanjut ke 2013, tak kalah menggegap gempitakan langit malam itu.
 Habib Munzir al-Musawwa 
salah satu murid Habib Umar bin Hafidz
“… Maka dihamparkanlah permukaan bumi beserta apa yang ada pada di diri kita, berupa penglihatan, pendengaran, lisan, tangan, kaki, pemikiran, sesekali bukan untuk bermaksiat kepadaNya, bukan untuk mencapai kemurkaanNya, bukan untuk memuliakan hal yang dihinakanNya. Tapi untuk memuliakan hal yang dimuliakan Allah, disaat manapun, diwaktu manapun, waktu adalah milik Allah, untuk Allah, kembali kepada Allah, dan setiap detik dalam hidupmu akan dipertanyakan oleh Allah dan pertanyaan itu pasti kepada setiap yang hidup.” Suara itu terdengar berat dan intonasinya menanjak naik, mengecilkan suara-suara letupan kembang api malam itu.
Sementara para yang hadir di depan panggung, malam itu, tertunduk. Kembang api sudah tidak lagi menarik untuk dilihat. Warna-warninya sudah kalah sebelum menyala. Mereka begitu khusyu mendengar suara dari atas panggung sembari ada yang sesenggukan.
Lantas apa yang menarik?
Jakarta sebagai kota besar, kota metropolitan, yang langitnya begitu gampang memanas tentu tidak mudah untuk para penduduknya tidak marah ketika ada sesuatu yang tidak berkenan dihatinya. Seringkali terdengar aksi tawur antar warga bahkan antar siswa. Tidak mudah, di Jakarta untuk melakukan yang disebut sabar. Terlebih lagi, menyangkut hal-hal yang berbau agama. Sering kita lihat beberapa ormas islam menyerbu tempat-tempat yang dianggapnya melanggar syariat Islam. Bahkan yang sekarang sedang nge-hits, yakni Kalijodo pun pernah menjadi sasaran ormas tersebut untuk berbuat anarkhi.
Lebih-lebih upacara pergantian tahun yang sudah menjadi pengetahuan kebanyakan orang, di sana banyak sekali pelanggaran-pelanggaran syariat Islam. Seperti yang diutarakan Habib Munzir dalam video tersebut, mereka yang melakukan upacara tersebut tidak sedikit yang meninggalkan sholat Isya, tidak sedikit yang mabuk, zina, dan maksiat. Maka bisa saja, hal itu menjadi alasan yang kuat untuk ormas-ormas Islam merangsek masuk ke tempat upacara dan melakukan anarkhi. Terlebih lagi, Habib Munzir yang sudah memiliki pengikut setia. Andaikata beliau berkenan, seluruh jamaah di Lapangan Monas digerakkan untuk beranarkhi-ria di tempat upacara pergantian tahun berlangsung.
Namun apa yang dilakukan oleh Habib Munzir berbeda. Beliau menggelar “upacara” tandingan di Lapangan Monas. Pemandangan ini begitu menyejukkan, menggembirakan bahwa di Jakarta, masih ada tokoh yang bisa dijadikan panutan dalam berdakwah. Video itu seakan menyatakan; berdakwah tidak harus dengan anarkhi, tetapi dengan cara-cara yang lebih santun. Terlebih lagi dalam video itu, Habib Munzir menggunakan metoda sindiran. Menyindir mereka, umat Muslim yang turut merayakan upacara pergantian tahun. Berikut beberapa kutipan sindiran beliau; “Kalau di masa dahulu, Rasul bersujud ditimpai kotaran unta oleh Quraisy, di masa sekarang umat melemparkan kotoran dosa ke wajah Muhammad. Siapa! Yang akan mensyafaati para pendosa ini kalau bukan Sayyidina Muhammad.”
Tidak hanya menyindir, beliau juga mengingatkan sebelum mendoakan mereka –umat Muslim yang merayakan upacara pergantian tahun—dengan memintakan ampunan dan memohonkan hidayah bagi mereka di tengah-tengah dzikir Allah yang dilangitkan para jamaah. Maka tepat, ketika teman saya, Zia Ul Haq, membuat tulisan yang mengibaratkan Habib Munzir laksana Oase di Ibu Kota.
Hal itu mengingatkan saya kepada peristiwa Rasulullah yang ditawarkan suatu pilihan oleh Jibril. Saat itu Jibril menawarkan kepada Rasulullah sebuah azab untuk umatnya yang menentang bahkan melukai Rasulullah. Rasulullah menolak tawaran Jibril. Beliau lebih memilih mendoakan yang melukainya. Beliau mendoakan dengan memohon ampunan dan memintakan hidayah untuk mereka kepada Allah. Alasan beliau begitu bijak; mereka yang menentang dan melukai beliau, yang demikian itu karena mereka belum tahu saja. Andaikata Rasulullah mengiyakan tawaran Jibril, maka tidak ada kesempatan lagi bagi yang melukai beliau itu untuk memiliki kemungkinan masuk dan mengikuti ajaran yang disampaikan Rasulullah.
Habib Munzir al-Musawwa, salah satu murid Habib Umar bin Hafidz itu, sudah wafat di tahun 2013. Meninggalkan jejak berupa Majelis Rasulullah. Tidak salah jika majelis itu diberi nama Majelis Rasulullah. Toh, tokohnya, yakni Habib Munzir al-Musawwa berdakwah, mengajarkan sekaligus mengingatkan kita kepada akhlaq Rasulullah. Allohumma sholli ala Sayyidina Muhammad. Wallahu a’lam bisshawab. [bq]
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang