Habib Munzir: Meneladani Akhlaq dan Kepribadian Rasulullah SAW

2 March 2016

Dikisahkan dalam Shahih al-Bukhari, ada seorang faqir yang sangat merindukan dapat mengundang Rasulullah SAW ke rumahnya. Namun, harapan itu hanya terpendam dalam hatinya karena merasa tidak ada sesuatu yang layak disuguhkan bagi Nabi apabila beliau bersedia datang.
 
Suatu hari, si faqir mendapatkan sedekah berupa makanan yang sangat istimewa, bubur daging yang sangat lezat.
 
 
 
 Habib Munzir al-Musawwa (alm) bersama Presiden SBY saat itu (2012/1431H)
di Lapangan Monas pada acara Maulid Nabi.
 
Mendapat sedekah itu, tidak sedikitpun terpikir olehnya untuk memakannya meskipun dalam hidupnya tidaklah mudah menikmati makanan selezat itu. Hanya Rasullullah yang terbersit dalam benaknya. Ia bermaksud mengundang beliau datang ke rumahnya. Si faqir sudah membayangkan alangkah bahagianya bila Nabi bersedia datang ke rumahnya dan ia suguhkan makanan istimewa itu. Wajahnya berseri dan senyum pun terus menghiasi bibirnya. Hatinya tak henti-hentinya menyebut Nabi.
 
Langkahnya pun diayun menuju kediaman Nabi. Namun terasa sangat berat. Malu. Merasa tak pantas. “Pantaskah seorang nan teramat faqir seperti aku mengundang Nabi, Rasulullah, manusia pilihan, sebaik-baik makhluk, untuk mendatangi rumahku, yang hanya berbentuk gubuk kecil dan sempit?” Pertanyaan semacam it uterus muncul dan berkecamuk dalam benaknya. Namun, kerinduan dan harapan agar rumahnya disinggahi manusia paling mulia tak dapat menyurutkan langkahnya, terlebih lagi ia merasa, “Sekarang saatnya mengundang Rasulullah, karena sudah tersedia makanan yang istimewa.”
 
Tibalah si faqir di hadapan Nabi. Ia mengutarakan niatnya dihadapan Rasulullah, yang penuh kasih sayang. Dengan senyum yang menentramkan hati siapa pun, Nabi menyambut undangan si faqir itu dengan wajah yang berseri-seri.
 
Setelah tiba di rumah si faqir, Nabi pun duduk dengan beberapa sahabat yang turut mendampingi.
Dengan setengah tergopoh-gopoh si faqir menyuguhkan bubur daging yang sudah tersedia sedari sebelumnya ke hadapan Nabi agar beliau berkenan menikmatinya. Dengan wajah berseri-seri Nabi pun mengulurkan tangan beliau yang suci untuk mencicipi hidangan yang sudah tersedia. Namun tiba-tiba seorang sahabat berbisik kepada beliau, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya makanan yang ada di hadapan Tuan berasal dari sedekah, yang diharamkan untukmu.”
 
Si faqir yang mendengar bisikan sahabat kepada Rasulullah SAW itu, wajahnya memerah karena menahan malu dan sangat terpukul, mengira bahwa Nabi tidak akan bersedia menyantap hidangan yang telah ia suguhkan.
 
Melihat wajah si faqir yang memerah itu, Nabi tersenyum. Hatinya tak mampu melihat kekecewaan umatnya. Beliau kemudian berkata kepada sahabat itu, “Wahai sahabatku, sesungguhnya makanan ini benar sedekah bagi si Fulan. Adapun apa yang diberikan si Fulan (yang fakir) ini kepadaku, ini adalah hadiah yang terbaik untukku.”
 
Pada kesempatan yang lain, Nabi diberi hadiah sebuah pakaian yang terbuat dari sutra yang indah oleh seorang petani. Meskipun tergolong dari kalangan kurang mampu, petani itu bertekad dan berkeinginan keras untuk dapat menghadiahkan pakaian yang indah dan pantas buat Nabi. Ia tidak mengetahui bahwa sutra haram hukumnya dikenakan oleh kaum laki-laki.
 
Meskipun pakaian itu haram dikenakan, Nabi sama sekali tidak ingin mengecewakan orang tersebut. Keesokan harinya, Nabi meminta kepada salah seorang sahabat untuk mengembalikan pakaian sutra itu kepada petani tadi dan menyampaikan pesan beliau kepadanya.
 
Sahabat yan diutus Nabi segera pergi menemui sang petani, yang kala itu sedang berada di kebunnya.
Menyaksikan kedatangan utusan Nabi dengan membawa bungksan yang berisi pakaian yang diberikannya kemarin, petani itu merasa terkejut dan menduga-duga bahwa Nabi tidak berkenan dengan hadiah pemberiannya. Hatinya mulai dihinggapi kesedihan dan perasaan malu, karena mengira bahwa pemberiannya tidak disukai oleh Rasulullah SAW, padahal ia telah lama ingin memberikan sesuatu yang dapat menggembirakan hati Rasulullah SAW.
 
Setelah utusan itu tiba, dihadapannya, petani itu langsung bertanya, “Apakah, Rasulullah mengutusmu untuk mengembalikan hadiah pemberianku karena beliau tidak berkenan terhadap hadiah itu?”
 
“Wahai Fulan, sesungguhnya Rasulullah SAW menyampaikan salam kepadamu dan mengirimkan pesan bahwa beliau sangat senang dengan hadiahmu. Namun beliau mengatakan tidak biasa memakai pakaian seindah dan semewah ini. Itulah sebabnya beliau berpesan, jika saja engkau tidak keberatan, Rasulullah SAW ingin sekali mengenakan pakaian yang engkau pakai.”
 
Mendengar pesan Nabi tersebut, hati sang petani takjub dengan keindahan dan kerendahan hati Rasulullah. Matanya berkaca-kaca namun senyum bahagia terlihat jelas dari bibirnya.
 
Demikianlah ketinggian akhlak Nabi. Hati beliau penuh dengan cinta buat umatnya dan semua makhluk Allah. Bahkan saking cintanya kepada umatnya, di akhir hayatnya Nabi memohon agar setengah pedihnya sakaratul maut dari semua umatnya hingga akhir zaman, beliau yang menanggungnya. Sebagaimana ditegaskan oleh Sayyidah Aisyah, istri Nabi, kepada Muadz bin Jabal, ketika ia bertanya bagaimana Nabi wafat. Aisyah berkata, “Wahai Muadz, seandainya engkau menyaksikan bagaimana susah payahnya dan beratnya Rasulullah di saat-saat beliau menjelang wafat, pastilah engkau tidak akan pernah lagi merasakan adanya kenikmatan sepanjang hidupmu.”[bq]
 
Sumber: Al-Kisah No. 05/7 – 20 Maret 2011 Halaman 86-87 (Disampaikan saat maulid Nabi di Lapangan Monas, tahun 2012 M/1431 H)

Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang