Hukum Akal

3 March 2016

Definisi Hukum (secara umum)
اثبا ت امرلامراونفيهءنه
Tetapnya suatu perkara atas perkara yg lain/Lepasnya suatu perkara atas perkara yang lain.

Definisi Akal :
نور لطيف روحا ني تد رك به الفس العلو م الضرورية والنضرية ومحله القلب ونوره في الد ما غ وابتدا ئه من حين نفخ الروح فيالجنين واو ل كما له البلوغ
Sinar latif ruhani (sinar ruhani) yang dapat menemukan pengetahuan yang sulit maupun yang mudah.Tempatnya adalah Hati dan pancarannya di otak, pertama kali tumbuhnya adalah ketika ruhani manusia ditiupkan (oleh malaikat jibril) ke dalam janin (kandungan ibunya) dan mulai sempurna ketika dia menginjak usia baligh.( khoridatul bahiyyah hal 31 )
Jika di lihat dari pendefinisian ‘Hukum dan pendefinisian Akal di atas dapat diambil suatu kesimpulan tentang Definisi Hukum akal yaitu :
Definisi Hukum Akal ( Hukum Aqli ):
Telah berkata Sayyidiy Syeikh Abdullah  bin Muhammad Al _Harariy Al’ Abdari :
"Bahwasanya apapun yang ditemukan oleh akal (hukum akal) itu tidak keluar dari tiga perkara. Yakni  Adakalanya Wajib, Mustahi, atau Jaiz ".
Menurut Definisi yang lain : 
Menetapkan perkara pada perkara yang lainnya/melepaskan suatu perkara atas perkara lainnya serta tidak menunggu penganalisaan dari sering terjadi (hukum adat) dan tidak menunggu atas penetapan asy-syar'i (hukum syar'i). ( khoridatul bahiyyah hal 23)
Fakta Hukum Akal
Hukum Akal tidak menunggu dari seringnya terjadi, seperti pada Hukum adi (adat),juga tidak menunggu kepada adanya yang menetapkan seperti pada Hukum syar'i yang di tetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya (Al-qur'an & Al-hadist). Akal menemukan dan membenarkan adanya Tuhan (sang pencipta) sebelum adanya Risalah yang di bawa oleh para Nabi dan setelah para Nabi di turunkan dengan Risalahnya, akal menyaksikan dan membenarkan hal tersebut yang di Alqur'an disebut dengan Allah SWT.
Faktanya menemukannya si akal terhadap perkara cuma menemukan atau menghadapi tiga macam perkara saja yaitu 1. Perkara yang wajib (pasti) 2. Perkara yang mustahil 3.Perkara yang jaiz (mumkin). Dan ini mutlak berlaku bagi siapa saja manusia di planet bumi ini yang masih memiliki akal, baik mereka mengakui atau tidak mengakui tentang hal ini. Kecuali mereka yang akalnya sudah tidak berfungsi lagi alias Gila.
Rincian Hukum Akal :
Wajib adalah sesuatu yang tidak ditemukan akal tidak adanya. sebaliknya yang di temukan oleh akal hanya adanya saja . Seperti Wajibnya Benda bertempat dan berwaktu dan Wajibnya Benda itu bergerak atau diam.
Mustahil adalah sesuatu yang tidak ditemukan akal adanya. Sebaliknya, yang ditemukan oleh akal tidak adanya saja. Seperti Mustahilnya suatu benda tidak  bertempat dan berwaktu. 
Jaiz adalah sesuatu yang ditemukan akal adanya dan tiadanya secara silih berganti. Seperti Jaiznya manusia hidup di dunia atau meninggal dunia.
Klasifikasi Hukum Akal
Wajib aqli dhoruri yaitu wajib yang tidak usah di pikir-pikir lagi bagi akal untuk menemukannya. Seperti kita mengetahui wajibnya suatu benda bertempat dan berwaktu. 
Wajib aqli nadhori yaitu wajib yang harus dipikir secara seksama untuk kita mengetahui perkaranya secara benar. Seperti kita harus berfikir tentang adanya sang pencipta.
Mustahil Dloruriy yaitu suatu perkara yang di temukan mustahilnya oleh akal tanpa melalui berfikir sebagaimana contoh Benda bergerak dan diam secara bersamaan.
Mustahil nadzori yaitu yang untuk menemukan mustahilnya melalui proses berfikir sebagimana mengetahui mustahilnya Allah ta’ala bertempat dan berwaktu, naik atau turun , duduk, berdiri , berwajah dan lain sebagainya, dari persamaan dengan perkara yang baru (alam semesta). Akal tidak secara tiba – tiba memustahilkan sebelum melalui proses berfikir dan melihat beberapa dalil aqli.
Jaiz Dloruri  yaitu perkara yang untuk menemukan bolehnya tanpa melalui proses berfikir sebagaiman Benda sedang bergerak. akal mengesahkan tiadanya bergerak pada benda tersebut.
Jaiz nadzori yaitu perkara yang ditemukan kebolehanya, melalui proses berfikir terlebih dahulu, artinya dibutuhkan pemikiran dengan dalil aqli yang menunjukan kebolehanya. Misalnya; Jaiz disiksanya seorang mukmin yang ta’at. Maka itu kalau di niisbatkan pada allah ta’ala adalah jaiz.  Akan tetapi setelah akal melihat dalil syara’ maka akal menemukan mustahil hal itu terjadi, karena janji Allah swt. terhadap keselamatan orang yang beriman dan ta’at kepada-Nya. 
Pernyataan Hukum Wajib di sini yang di maksud adalah wajib menurut Hukum akal seperti wajibnya suatu benda bertempat dan berwaktu, wajib barunya alam semesta, wajib Wujud Allah ta’ala. Bukan wajib menurut kaidah Hukum Syar’i seperti wajibnya sholat 5 waktu, wajibnya puasa di bulan Ramadhan, wajib membayar zakat dan sebagainya. Dan bukan juga wajib menurut kaidah hukum Adat (adi) seperti wajib kenyang karena makan, wajib api membakar, wajib air mengalir ke tempat yang lebih rendah dan sebagainya.
Pentingnya mempelajari Hukum Akal
Alqur,an telah mensinyalir pentingnya penggunaan Akal ini seperti dalam surat Albaqoroh 164 :
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاخْتِلاَفِ االلَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنزَلَ اللّهُ مِنَ السَّمَاء مِن مَّاء فَأَحْيَا بِهِ الأرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخِّرِ بَيْنَ السَّمَاء وَالأَرْضِ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
" Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang berakal".
Al-Baqoroh ayat 190 :
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآَيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ
" Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal".
Dan Hadist Rasulallah saw
تفكرو ا في خلق الله ولاتفكرو افي الله فا نكم لن تقد روا قد ره
“ Berfikirlah tentang makhluk ALLAH dan jangan sekali-kali berfikir tentang Dzat Allah, karena sesungguhnya kalian sudah tentu tidak akan dapat mencapai hakikatnya ”.( H.R al-Ashbihani dan Abu asy-Syaikh yang bersumber dari Ibnu Abbas )
Di dalam praktek kehidupan sehari-haripun kita tidak mungkin terlepas daripada Hukum. Baik itu hukum syar'ii, hukum aqli (akal) dan Hukum adi (adat). Jika tidak mempelajari dan memahami masalah Hukum (syar'i, aqli dan adi ) ini dengan benar, akan terjadi pembolak-balikan hukum seperti hukum Aqli jadi hukum adi, hukum syar,i jadi hukum aqli dan begitu sebaliknya. Jika di dalam kehidupan sehari-hari saj kita akan mengalami kebingungan, ketersesatan dan kebimbangan apabila kita tidak memahami dengan benar tentang tiga macam hukum ini, apalagi di dalam hal-hal yang prinsip seperti memahami Aqidah, sudah kepastian kita-pun akan keliru memahami aqidah yang benar.
*Sumber : https://daarulmajaadzib.wordpress.com/2010/09/23/pengertian-hukum-aqli/
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang