Ketika Islam Dizalimi Oleh Umat Islam Sendiri

20 March 2016

OLEH: DZUL FAHMI

Jika memang benar bahwa Islam hari ini sedang 'dizalimi, maka pihak pertama yang layak disebut sebagai yang menzalimi Islam -sebelum menuduh Zionis-Yahudi atau Amerika Serikat- barangkali adalah kita, umat Islam sendiri.

Syaikh Muhammad Al-Ghazali dalam bukunya Al-Mahawir Al-Khamsah lil Qur'an al-Karim menulis kalimat yang singkat tapi cukup menghujam kesadaran kita bersama. Kata beliau :

إن المسلمين ظلموا دينهم مرتين ؛ مرة بسوء التطبيق، ومرة بالعجز عن التبليغ

"Sesungguhnya Islam dizalimi oleh pengikutnya dengan dua hal: pertama, keburukan dalam mengaplikasikan ajaran-ajarannya, dan kedua, ketidakberdayaan dalam menyebarkan ajarannya."
 Al-Mahawir Al-Khamsah lil Qur'an al-Karim, Muhammad al-Ghazali
Poin pertama (suu' at-tathbiq) langsung mengingatkan kita pada kisah yang pernah terjadi di zaman Nabi. Saat mengetahui seorang Sahabat memperpanjang bacaan surat secara berlebihan ketika menjadi Imam shalat, kanjeng Nabi Saw bersabda:

يأيها الناس إن منكم منفرين، فأيكم ما صلى بالناس فاليوجز، فإن فيهم الكبير و الضعيف وذا الحاجة

"Sesungguhnya di antara kalian ada yang membuat orang-orang lari dari agama. Ketika kalian menjadi Imam, maka persingkatlah. Karena di antara para makmum ada kaum tua renta, lemah, dan orang yang memiliki hajat."

Tentu saja tak ada yang salah dengan membaca Al-Qur'an dan berdiri lama dalam shalat. Keduanya adalah bentuk taqarrub ila Allah yang dianjurkan. Namun jika hal tersebut dilakukan tanpa mengindahkan batasan serta maqashid ibadah, keadaan justru berbalik menjadi fitnah. Dan Rasululullah saw dengan tegas melarang hal itu.

Itu yang jelas-jelas ibadah, lho ya. Lantas bagaimana dengan yang menjadikan fitnah, caci maki, serta adu domba sebagai 'sarana berdakwah'? Boro-boro mengajak non-muslim terpikat dengan Islam, yang ada malah perlahan-lahan orang Islam makin risih dan alergi dengan hal-hal berbau agama.

Sedangkan poin kedua (al-'Ajzu 'an at-tabhlig), tak lain adalah konsekuensi logis dari yang pertama.
Bagaimana kita mau menyampaikan keindahan Islam, jika diri kita sendiri gagal menjadi cermin keindahan Islam?

Debat kusir khilafiyah yang berujung pada permusuhan amat begitu digandrungi, di saat justru banyak umat Islam awam membutuhkan juru penerang akan hakikat agama ini. Begitulah keadaan yang sampai mendorong pemikir Islam kontemporer Mesir, Dr. Fahmi Huwaydi, menulis subjudul khusus dalam bukunya al-Islam fis as-Shin (Islam di Dataran China), dengan judul 'al-Muslimun ; Kaifa (Umat Islam; Ada Apa Denganmu)???
Al-Islam fis Shin, Fahmi Huwaydi
Buku yang terbit tahun 1980 ini seakan menjadi coretan keprihatinan hati Huwaydi, sepulang dari rihlah ilmiahnya meriset keadaan Islam di negeri tirai bambu tersebut. Awamisme yang mendominasi kaum muslim minoritas di China -yang hidup di tengah mayoritas kaum komunis-, sampai membuat Huwaydi tak ragu memprediksi: bahwa jika tidak segera berbenah dan mendapat 'asupan gizi' dari saudara seagamanya di seluruh dunia, Islam di China yang meskipun sudah ada selama lebih dari 10 abad lamanya, bukan mustahil bernasib seperti Andalusia: hilang tak berbekas. Minimal, kata Huwaydi, lenyapnya Islam di sana dimulai dari terkikisnya pemahaman keislaman, kendati aksesoris formalitas keislaman masih tetap terlihat. Tentu China hanyalah salah satu contoh yang disebutkan di sini.

Dan pada akhirnya, sembari berteriak lantang "Islam Dizalimi!" dengan tangan terkepal, tanpa sadar justru kita sendirilah yang sedang menzalimi agama kasih sayang ini.

Ya Allah, bimbinglah kami.

*Penulis adalah santri Universitas Al-Ahgaf, Yaman
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang