Khalifah al-Makmun; Melalui Puteranya, Cahaya itu Sampai

11 March 2016

Setelah menghadiri undangan perjamuan makan dari Ayahandanya, Pangeran Ali duduk di atas pembaringan beratap kain sambil memandangi orang-orang dan sungai yang terus mengalir. Dari kejauhan, Pangeran Ali melihat seorang kuli datang. Kuli itu menggunakan baju dari bulu putih yang sudah kumal. Ia membungkus kedua kakinya dengan kain perca untuk menahan sengatan panas yang membakar.
 
ilustrasi Khalifah al-Makmun
 
Pangeran Ali melihat, kuli itu mengeluarkan bungkusan yang berisi makanan yang tidak seberapa, hanya untuk menahan laparnya. Roti yang ditaburi garam, dan diberi sejenis bahan tumbuhan yang berbau harum, lalu memakannya. Usai makan, kuli itu membungkus kembali barang makanan yang yang ia bawa. Kemudian kuli itu, menggelar kain dan melaksanakan shalat dzuhur.
 
“Bawalah dia kemari, dan perlakukanlah dengan lembut,” ucap Pangeran Ali kepada pengawal yang berdiri di dekatnya.
 
Pengawal istana pun bergegas langsung ke kuli itu. “Bangun dan ikut saya,” tegasnya kepada kuli.
 
“Carilah orang lain, badanku sudah sangat letih.” balas Kuli.
 
“Tempatnya dekat,” pengawal mencoba untuk merayu Kuli itu.
 
“Tidak! Cari orang lain saja.”
 
Pengawal itu pun kebingungan. Pantang pulang bila tak menunaikan pesan pangeran. Akhirnya, pengawal itu pun memaksa Kuli itu ikut ke istana. Sampai di istana, Pangeran Ali langsung menggandeng tangan kuli itu dan membawanya masuk ke dalam kamarnya, tanpa disertai orang lain.
 
“Lihat ini, kamu telah mengetahui keadaan, dan kedudukanku. Namun, apa artinya kerajaan ini dengan segala kenikmatan dunia itu bagiku. Maka, berdoalah kepada Allah agar aku bisa hidup bersahaja di dunia serta senang di akhirat,” pinta Pangeran Ali.
 
“Wahai saudaraku tercinta, saya tidak punya kedudukan di sisi Allah untuk bisa aku panjatkan doa, hanya saja sebagian orang bijak berkata, ‘Barangsiapa takut terhadap sesuatu, maka ia akan bangun sepanjang malam. Karenanya, wajibkanlah terhadap dirimu setiap hari walaupun hanya sejenak untuk melakukan yang jelas bagiNya. Jika kamu mendahulukan yang demikian itu, maka dengan pertolongan Allah akan timbul suatu tekad yang kuat, dan akan selalu melakukannya. Kamu harus bertakwa kepada Allah, menaati dan menjauhi larangan-Nya.” Ucap kuli itu. Mendengar kata-kata kuli itu, Pangeran Ali berlinang air matanya, dan menangis sejadi-jadinya.
 
Kuli itu hidup sangat bersahaja di pedalaman Iraq. Setiap hari berjalan kaki, mencari pekerjaan untuk menghidupi Ibunya. Di malam hari ia tetap shalat malam.
 
Suatu pagi, Pangeran Ali pergi meninggalkan istana, naik perahu ke Basrah. Dan pengawalnya disuruh pulang. Sejak itu Pangeran Ali hidup layaknya gelandangan. Ia mengenakan pakaian yang kasar guna menutupi kulitnya yang bersih, lalu membeli talam yang bentuknya seperti kuli itu dan meletakkan di atas pundaknya. Dia bekerja sesuai dengan kemampuannya, dan membawa tulang belulang, yang dimakannya setiap hari dan roti kering yang sudah lama.
 
Di siang hari ia berpuasa dan tak pernah meninggalkan sholat. Putra Khalifah al-Makmun yang sangat disayangi itu hidup dan tidur dari masjid ke masjid, berjalan tanpa alas kaki meskipun terik matahari membakar dan kakinya pecah-pecah. Hal ini berlangsung bertahun-tahun, sampai ia jatuh sakit. Di saat ia merasa ajalnya akan tiba, maka ia tinggal di sebuah penginapan. Sebelum meninggal, ia memanggil pemilik penginapan itu.
 
“Berikan cincin ini kepada Gubernurmu, kalau ia sedang lewat.” Tak lama kemudian, Pangeran Ali meninggal. Di sertai iringan para pengawal, jasad Pangeran Ali dibawa ke istana kemudian dimandikan serta dikafankan kembali.
 
Sepeninggal putranya itu, Amirul Mukminin senantiasa gelisah, dan tidak tertarik lagi dengan kelezatan dunia. Sebelum meninggal, Khalifah al-Makmun bersedekah sebanyak seribu dirham, memerintahkan untuk melepas narapidana, menulis surat kepada semua gubernur dan pejabatnya, agar berbuat adil kepada rakyat dan menghentikan kezaliman. [bq]
 
Sumber: MataAir Edisi 27 Tahun 2009 Halaman 12
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang