Nabi Adam Turun ke Bumi Bukan Sanksi tapi Realisasi Janji

30 March 2016

  Tafsir al-Baqarah ayat 38  

قُلْنَا اهْبِطُوْا مِنْهَا جَمِيْعًا فَإِمَّا يَأْتِيَنَّكُمْ مِنِّيْ هُدًى فَمَنْ تَبِعَ هُدَايَ فَلاَخَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلاَهُمْ يَحْزَنُوْنَ

(البقرة :38)

“Kami berfirman: Turunlah kamu semua dari surga ! Lalu jika datang petunjuk-Ku kepada kamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada rasa takut mengatasi mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati” ( al-Baqarah : 38)



Pada ayat 38 ini Allah mengulangi perintah untuk turun ke bumi , sesudah perintah turun yang pertama pada ayat 36 ‘qulnahbithu ba’dlukum liba’dlin ‘aduw walakum fil ardli mustaqarrun wamata’un ila hiin’ (Turunlah kamu ! Sebagian kamu menjadi musuh  bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman sementara di bumi dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan).
Takrirul amri (pengulangan perintah) ini tidak semata-semata sebagai ta’kid (penguatan) terhadap perintah turun ke bumi, melainkan mengandung maksud (tujuan).  Para Mufassir berbeda pendapat dalam menjelaskan maksud dari  takrirul amri tersebut.

Salah satu pendapat  menyatakan :  takrir dimaksudkan untuk menjelaskan bahwa turun yang pertama berbeda dengan turun yang kedua. Turun pertama (ayat 36) adalah turun dari surga ke langit dunia, sedang turun yang kedua (ayat 38) adalah turun dari langit dunia ke bumi. Pendapat ini dipandang lemah secara linguistik (kebahasaan) dari  dua sudut pandang. Pertama, Seandainya turun yang kedua adalah turun ke bumi, tentu kalimat ‘walakum fil ardli mustaqarrun’ tentunya lebih tepat dirangkaikan pada perintah kedua bukan  pada perintah yang pertama. Kedua, Dlomir (kata ganti) pada kata ‘minha’ kembali kepada kata ‘jannah’ sehingga maknanya yang tepat adalah ‘dari surga’ bukan ‘dari langit dunia’ sebagaimana yang dinyatakan pendapat diatas.    

Pendapat lainnya mengemukakan bahwa  takrir ditujukan untuk menjelaskan dua isyarat yang berbeda. Perintah turun yang pertama mengisyaratkan bahwa,  Di bumi, manusia (Adam as dan keturunannya) berpotensi untuk saling bermusuhan satu sama lain. Sedang perintah turun yang kedua mengandung isyarat  bahwa manusia akan terbagi menjadi dua golongan yakni golongan muhtadiin (yang mendapat petunjuk) dan golongan dlalliin (yang tersesat).

Menurut al-Imam ar-Razi ada pendapat yang lebih kuat selain dua pendapat diatas. Pendapat ini mengatakan bahwa, Pengulangan perintah turun, dimaksudkan sebagai tahqiq lil wa’dil mutaqaddim (pengukuhan terhadap janji Allah dahulu) yaitu janji bahwa  Adam as diciptakan untuk diproyeksikan sebagai khalifah-Nya di bumi, sesuai yang tersurat dalam firman-Nya ‘inni ja’ilun fil ardli khalifah’.  Secara kronologis Imam ar-Razi menjabarkan : Manakala Adam as dan Hawa melakukan kesalahan mendekati pohon khuldi, mereka diperintahkan turun dari surga. Kemudian mereka bertaubat. Dan Allah menerima taubat mereka. Hingga terbersit dalam hati mereka, bahwa perintah turun berkaitan dengan kesalahan yang telah mereka lakukan. Dan konsekwensinya setelah bertaubat dan diterima taubatnya, perintah turun itu tidak akan dilanjutkan.  Maka Allah mengulangi untuk yang kedua kali, supaya Adam as dan Hawa memahami bahwa, perintah turun bukanlah sebagai sangsi atas kesalahan yang telah mereka lakukan, yang apabila kesalahan itu telah teratasi maka perintah itu dicabut kembali. Tetapi perintah turun itu adalah realisasi dari janji Allah untuk menjadikan Adam as sebagai khalifah di bumi. Oleh karenanya Adam as- sebelum diturunkan ke bumi- dibekali lebih dulu potensi berupa kemampuan mengetahui sifat, fungsi, dan kegunaan segala macam benda  yang tergambar dalam firman-Nya ‘ wa’allama adamal asma-a kullahaa’ Juga sebelum turun ke bumi,   Adam as beserta istrinya transit (singgah sementara) terlebih dahulu di surga agar mendapat pengalaman sebagaimana tersirat dalam firman-Nya ‘uskun anta wa zaujukal jannah’. Sehingga, dengan pengalaman itu, ia memperoleh gambaran bagaimana sebenarnya kehidupan yang akan dialaminya di bumi dan bagaimana seharusnya ia membangun bumi itu. Dengan kata lain melalui transit di surga, diharapkan Adam as dapat menciptakan bayang-bayang surga di bumi. Kemudian ketika turun Adam as dibekali empat karakteristik sebagai pedoman dalam menjalankan tugas kekhalifahan, sebagaimana dinukil Imam ar-Razi dan Imam an-Naisaburi dari Imam al-Hasan : 

قال الحسن : لما أهبط آدم عليه السلام إلى الأرض أوحى الله تعالى إليه يا آدم أربع خصال فيها كل الأمر لك ولولدك واحدة لي وواحدة لك وواحدة بيني وبينك وواحدة بينك وبين الناس أما التي لي فتعبدني لا تشرك بي شيئاً وأما التي لك فإذا عملت نلت أجرتك وأما التي بيني وبينك فعليك الدعاء وعلي الإجابة وأما التي بينك وبين الناس فأن تصحبهم بما تحب أن يصحبوك به

Berkata Imam al-Hasan : “Ketika Adam as diturunkan ke bumi, Allah ta’ala memberi wahyu padanya: Wahai Adam, ada empat karakteristik yang mesti kamu dan anak keturunanmu pedomani yaitu  hak-Ku, hakmu, hubungan antara Aku dan kamu, dan hubungan antara kamu dan sesamamu. Hak-Ku adalah kamu harus mengabdi kepada-Ku. Hakmu adalah Jika kamu bekerja (beramal), maka kamu mendapatkan upah (pahala). Hubungan antara Aku dan kamu adalah silahkan ajukan permohonan, maka akan Aku beri pengabulan. Dan hubungan antara kamu dan sesamamu adalah Pergaulilah  mereka dengan perilaku yang kamu cintai , yang kamu harapkan saat mereka mempergauli dirimu.

Demikianlah kodrat yang berlaku bagi Adam as. Kita semua adalah keturunannya dan tentu saja mengemban tugas yang sama sebagai khalifah. Bekal yang telah diberikan kepada Adam as juga telah diberikan pula kepada kita. Potensi pengetahuan sudah kita miliki. Pengalaman sudah  kita kuasai. Pedoman tugas kekhalifahan sudah kita pegangi. Kini saatnya kita realisasikan bayang-bayang surgawi di muka bumi. Hadana-Lah waiyyakum !

*Sumber : Buletin al-ghadier kempek
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang