Rasulullah Tidak Pernah Membunuh

3 March 2016

Rasulullah SAW dikenal sebagai pemberani tapi sekaligus pemaaf. Dalam peperangan beliau dikenal paling berani di antara para sahabatnya, beliau selalu berada di baris paling depan. Karena itulah hanya para sahabat pemberani juga yang berada di sisinya, karena harus berhadapan dengan musuh paling depan.
 
Meski begitu, Nabi Muhammad SAW dikenal pemaaf dan welas asih kepada orang lain. Bahkan Nabi tidak pernah membunuh orang lain, meski di dalam peperangan, yang haq baginya untuk membunuh musuh yang menyerangnya. Jadi, meski Nabi diliputi amarah memuncak, amarah karena membela hak Allah dalam peperangan, sifat welas asih tidak akan hilang.
 
 
Ilustrasi Perang Uhud
 
Ini misalnya terjadi ketika berlangsung perang Uhud. Saat itu pasukan kaum muslimin dalam posisi terpuruk dan kalah oleh serangan kaum Quraisy dari Makkah. Pada suatu kesempatan, Ubay bin Khalaf, seorang tokoh Quraisy, tengah mencari-cari Nabi Muhammad, sambil berteriak, “Di mana Muhammad? Jika dia masih hidup, niscaya aku yang akan mati!”
 
Ubay adalah veteran perang Badar yang pernah ditawan Nabi. Ia bebas karena membayar dengan sejumlah tebusan. Hal itu yang membuat dendamnya memuncak kepada Rasulullah. Ia memiliki kuda tunggangan yang dipelihara dengan sungguh-sungguh, sehingga tampak badannya kekar dan gagah. Kuda itu akan digunakannya kelak dalam peperangan untuk membunuh musuh bebuyutannya, Nabi Muhammad SAW.
 
Saat di perang Uhud, is sesumbar, “Aku mempunyai seekor kuda yang kuberi makanan beberapa takar gandum setiap harinya. Kelak aku pasti membunuhmu (Muhammad) jika aku mengendarainya.”
Nabi Muhammad menjawab, “Jika Allah menghendaki, pastilah aku akan membunuhmu.”
 
Ketika keduanya telah berhadapan di perang Uhud, Ubay segera memacu kudanya kea rah Nabi. Sejumlah sahabat menghadang langkahnya untuk melindungi Nabi, namun Nabi mencegahnya, “Tinggalkan aku sendiri!”
 
Beliau menghunus sebuah tombak yang dipinjamnya dari al-Harits bin Simma dan mengayun-ayunkannya sedemikian rupa, sehingga orang-orang menjauhi Nabi layaknya segerombolan capung lari bertebaran dari punggung seekor unta ketika punggung unta itu bergerak. Nabi Muhammad menatap tajam muka Ubay dan langsung maju. Dengan kesigapannya beliau berhasil mencengkeram leher Ubay hingga Ubay gemetar dan terjatuh dari kudanya.
 
Orang-orang yang melihat peristiwa itu langsung berkata, “Telah patah sebuah tulang rusuknya!”
 
Ubay kembali ke induk pasukan Quraisy dan berkata kepada yang lain, “Muhammad telah membunuhku.”
 
Mereka bertanya, “Lho kan tidak terjadi apa-apa denganmu?”
 
Ia menjawab, “Siapa pun akan mati bila tertimpa kejadian seperti yang aku alami, sebab Muhammad telah bersumpah ‘Aku akan membunuhmu (Ubay)’. Demi Tuhan jika Muhammad mengutukku, hal itu telah cukup mematikan diriku.”
 
Dalam perjalanan pasukan Quraisy pulang ke Makkah, ketika memasuki kawasan Sarif, Ubay 
meninggal dunia. [bq]
 
Sumber: al-Kisah No. 05/25 Feb. – 9 Mar. 2008 halaman 78-79
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang