Salman al-Farisi: Kebijaksanaan Cinta

10 March 2016

Salman al-Farisi, pemuda asal Isafahan, Persia. Keturunan keluarga kaya. Penduduk Isafahan merupakan penduduk yang menyembah api. Suatu hari ia berhenti di sebuah gereja dan tertarik melihat mereka bersembahyang. Ia pun masuk agama Nasrani. Namun mendengar kabar itu, Ayahnya tidak setuju sebab itu, ia pun melarikan diri ke Syria bersama orang-orang Nasrani. Dengan begitu, Salman meninggalkan semua kenikmatan sebagai anak orang kaya.
 
Dari agama Nasrani ia pindah ke agama lain lagi sebelum akhirnya diberi saran oleh seseorang di Byzantium, “Kamu telah dekat ke sebuah masa ketika akan datang seorang nabi yang mengikuti agama Nabi Ibrahim secara murni. Ia akan hijrah ke tempat yang ditumbuhi kurma. Jika kamu dapat bersungguh-sungguh kepadanya, lakukanlah. Ia mempunyai ciri yang mudah dikenal. Yaitu tidak makan sedekah tapi bersedia menerima hadiah, dan di antara pundaknya terdapat tanda kenabian. Jika melihatnya, kamu akan mengenalinya.”
 
 Ilustrasi Salman al-Farisi
 
Di atas adalah sedikit cerita perjalanan Salman al-Farisi sebelum bertemu Nabi. Darinya dapat diketahui bahwa Salman al-Farisi, dalam dirinya, terdapat gejolak batin yang besar. Hingga ia harus berpindah-pindah dalam keyakinannya. Meninggalkan kenikmatan berupa kekayaan demi kedamaian batin, merupakan tanda bahwa tidak ada yang lebih berharga ketimbang batin yang tenang, damai.
 
Modal itulah yang kemudian digunakan Salman untuk berkhidmat penuh kepada Nabi Muhammad SAW. Bahkan Salman al-Farisi, oleh Nabi Muhammad SAW disebut sebagai ahli bait beliau. Sahabat Ali bin Abi Thalib menjuluki Salman al-Farisi dengan julukan Lukmanu al-Hakim. Ini sebab Salman al-Farisi memiliki sifat bijaksana. Dalam perang Khandaq atau perang parit, Salman al-Farisi lah yang kali pertama memberikan gagasan untuk membuat parit di tempat-tempat terbuka di sekeliling Madinah.
 
Kebijaksanaan Salman al-Farisi pernah dirasakan oleh Abu Darda’. Sahabat Anshar di Madinah.
Kisah itu bermula ketika Salman al-Farisi merasa dirinya sudah waktunya untuk menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi salehah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja, bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat.
 
Namun meski sudah tinggal di Madinah dalam kurun waktu beberapa tahun, Salman al-Farisi belum mengenal adat istiadat, rasa bahasa dan rupa-rupa yang lainnya. Terlebih lagi, wanita itu adalah pribumi Madinah. Sedangkan Salman al-Farisi, hanya seorang pendatang. Maka, disampaikanlah gelagak hatinya itu kepada Abu Darda’, sahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya.
Abu Darda’ begitu gembira mendengar niat Salman untuk mengkhitbah wanita Anshar. Singkat cerita, keduanya pun beriringan menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah wanita yang shalehah lagi bertakwa.
 
“Saya ini adalah Abu Darda’, dan ini adalah saudara saya, Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah, sampai-sampai beliau menyebutnya ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk di persuntingnya,” fasih Abu Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.
 
“Adalah kehormatan bagi kami,” ucap tuan rumah, “Menerima Anda berdua, sahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang sahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi, hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.
 
“Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata, sang ibu yang bicara mewakili puterinya. “Tetapi karena Anda berdua yang datang maka dengan mengharap ridha Allah, saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abu Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”
 
“Allahu Akbar!” Seru Salman mendengar keputusan dari Ibu wanita yang akan dipinangnya.
“Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abu Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!” [bq]
 
Sumber: Mata AirEdisi 2009 Tahun 2009 halaman 12. Dan al-Kisah No.05/25 Feb.-9 Mar. 2008 halaman 84-86

Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang