Syaikh M. Yasin al-Faddani; Wajah Nasionalisme Sanad ad-Dunya

6 March 2016

Syaikh Yasin al-Faddani, meski terlahir dan wafat di Makkah, dalam tubuh beliau mengalir darah bangsa Indonesia. Ayah beliau, Syaikh Isa al-Fadani, berasal dari kota Minang yang kemudian hijrah ke kota suci Makkah. Kata “al-Fadani” di penghujung nama Syaikh Yasin menunjukkan bahwa ia masih menisbahkan diri sebagai orang Padang.
Yang sangat menarik dari sosok besar Syaikh Yasin adalah kesederhanaannya. Walaupun seorang ulama besar yang amat terkenal bahkan di saentero dunia Islam, ia tidak segan-segan untuk keluar masuk pasar, memikul dan menenteng sayur-mayur untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Selama bertahun-tahun beliau aktif mengajar dan memberi kuliah di Masjidil Haram dan Darul Ulum Ad-Diniyyah, Makkah terutama pada mata kuliah ilmu hadits.
Syaikh M. Yasin al-Faddani bin Syaikh Isa al-Faddani
Pada sekitar tahun 1934 terjadi konflik yang terkait nasionalisme, salah satu pengajar di Shaulatiyyah telah menyinggung beberapa pelajar Asia Tenggara, terutama dari Indonesia. Madrasah Shaulatiyyah merupakan tempatnya mengajar pada saat itu.
Madrasah Shaulatiyyah cukup terkenal di Makkah. Madrasah itu didirikan oleh seorang tokoh wanita dari India, Shaula an-Nisa’, pada tahun 1874. Sebab itu, madrasah itu disebut Shaulatiyyah. Pengelolaan madrasah itu diserahkan kepada seorang ulama militan yang dikenal karena polemik-polemiknya melawan para misionaris Kristen di India, yaitu Rahmatullah ibn Khalil al-‘Utsmani. Banyak pelajar Indonesia yang menjadi murid madrasah itu, termasuk Syaikh Yasin.
Kejadian lebih jelasnya, pada suatu hari, seorang guru di madrasah itu merobek Koran berbahasa Indonesia yang dibaca oleh sejumlah mahasiswa asal Indonseia. Guru itu juga mengejek aspirasi nasionalis orang-orang Indonesia dengan mengatakan bahwa bangsa bodoh yang memakai bahasa seperti itu tak akan bisa meraih kemerdekaan.
Kejadian ini disaksikan langsung oleh Syaikh Yasin, dan tentu saja membuatnya marah dan memutuskan untuk keluar dari madrasah itu. Tak lama setelah kejadian itu, Syaikh Yasin mengemukakan ide untuk mendirikan Madrasah Darul Ulum di Makkah, yang kemudian didirikan oleh Sayyid Muhsin bin al-Musawwa, salah seorang guru Syaikh Yasin. Ia kemudian terlibat dalam usaha-usaha untuk mendirikan madrasah terpisah guna menampung mahasiswa asal Indonesia. Maka berdirilah Madrasah Darul Ulum ad-Diniyyah pada 1934.
Banyak pelajar Shaulatiyyah yang berbondong-bondong pindah ke Madrasah Darul Ulum, termasuk Syaikh Yasin selaku pengajar, padahal Madrasah tersebut belum lama didirikan. Syaikh Yasin sendiri beberapa waktu kemudian menjabat wakil direktur Madrasah Darul Ulum Makkah, disela-sela waktunya mengajar di berbagai tempat, terutama Masjidil Haram.
Materi-materi yang disampaikan Syaikh Yasin mendapat sambutan yang luar biasa, terutama dari para pelajar asal Asia Tenggara. Syaikh Yasin juga dikenal sebagai sosok ulama yang memiliki sanad yang luar biasa banyaknya. Karenanya, beliau pun digelari Musnid ad-Dnnya, Pemilik Sanad Terbanyak di dunia.
Peristiwa di Shaulatiyyah tersebut memperlihatkan sosok Syaikh Yasin bukan saja seorang alim, tetapi juga seorang nasionalis yang memiliki kecintaan pada tanah air.
Pada tahun tersebut, yakni 1934, di Indonesia sendiri sedang gencar-gencarnya gerakan nasionalis yang memperjuangkan kemerdekaan. Bahkan sudah mencapai tahap kematangan. Syaikh Yasin, di Kota Suci, merintis madrasah yang mencetak banyak ulama dari Indonesia.
Ada sekitar 120 santri Jawa (istilah “Jawa” saat itu mencakup seluruh kawasan Indonesia, Melayu, bahkan juga Thailand Selatan) yang pindah ke madrasah baru itu, termasuk Syaikh Yasin sendiri. Belakangan, Syaikh Yasin menjadi mudir atau direktur madrasah tersebut hingga ia wafat pada 1990.
Semasa masih hidup, banyak jama’ah haji Indonesia yang selalu menyempatkan mampir di madrasah itu. Syaikh Yasin juga memelihara hubungan baik dengan sejumlah Kiai di Indonesia, bahkan menuliskan semacam kumpulan manaqib sejumlah kiai di tanah air. Syaikh Yasin sempat juga hadir dalam muktamar NU ke-26 di Semarang pada 1979. Pada kesempatan itulah ia menyempatkan diri untuk berkunjung ke sejumlah pesantren di Tanah Air. Karyanya yang dikenal di kalangan pesantren adalah al-Fawa’id al-Janiyyah, yang berisi ulasan-ulasan mengenai kaidah fiqh. [bq]
Sumber: al-Kisah No.23/12-25 November 2012 Halaman 138-140.
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang