Imam Darul Hijrah

1 April 2016

“Sungguh aku malu untuk membuang kotoranku di tempat yang mungkin Rasulullah SAW pernah menapakkan kaki beliau di atasnya atau duduk padanya.” Ucap Imam Malik suatu ketika. Rasulullah SAW telah wafat saat itu. Bila datang waktunya untuk buang hajat, ia selalu keluar dari Madinah atau akhir dari batas Masjid Nabawi saat ini.
 
Ia memang dikenal seorang yang memiliki adab yang baik, terutama kepada kekasihnya, Rasulullah SAW. Sebagaimana sang pecinta terhadap yang dicintanya. Bahkan ia pun tidak pernah menggunakan alas kaki di Madinah dan tidak pernah pula mengendarai hewan tunggangan di sekitarnya, untuk menjaga adab kepada Rasulullah SAW.
 
Lukisan Imam Malik bin Anas bin Malik
 
Ia hanya sekali berada di atas hewan tunggangan. Kala itu, Gubernur Ja’far –keponakan dari khalifah Abbasiyah, al-Mansur murid Imam Malik— meminta seluruh penduduk Madinah melakukan bai’at (janji setia) kepada khalifah. Namun, Imam Malik yang baru berusia 25 tahun, merasa tidak mungkin bagi penduduk Madinah yang tidak menyukai khalifah untuk melakukan bai’at. “Bai’at tanpa keikhlasan seperti tidak sahnya perceraian dengan paksaan.” Fatwa Imam Malik kala itu.
 
Gubernur Ja’far meminta Imam Malik tidak menyebarkan fatwanya itu, tetapi ditolak oleh Imam Malik. Ja’far merasa terhina dan mengutus pengawalnya untuk menghukum Imam Malik. Oleh para pengawal, Imam Malik dihukum dera 70 kali hingga berlumuran darah. Dengan kondisi badan terbalik, tak beralas kaki, dan kepala terbuka, Imam Malik diarak untuk dipermalukan di sepanjang jalan kota Madinah.
 
Mendengar kabar gurunya dipermalukan oleh keponakannya, Khalifah al-Mansur geram. Al-Manshur pun mengirim utusan guna menghukum Ja’far dan menyuruf Ja’far meminta maaf kepada Imam Malik. Setelahnya, Imam Malik dimohon al-Manshur untuk tinggal di Baghdad menjadi penasehat kekhalifahan. Namun, Imam Malik enggan. Ia memilih tetap di Madinah sebab ingin dekat dengan tempat yang Rasulullah dimakamkan. Dari itu kemudian, Imam Malik mendapat julukan Imam Darul Hijrah.
 
Raudhah, tempat dimana Imam Malik bermajelis. Di majelis itu, ia tidak hanya mengajarkan hadits, namun juga hari-hari Arab dan syair-syairnya. Bila ingin menyampaikan pelajaran tentang hari-hari Arab atau syair-syairnya, ia mengajarkan begitu saja. Akan tetapi apabila hendak mengajarkan ihwal hadits Rasulullah SAW atau dimintai suatu hadits Nabi, Imam Malik RA mandi terlebih dahulu, memakai wewangian dan mengenakan pakaian terbaik yang ia miliki, kemudian duduk dan mulai mengimlakan atau membacakan hadits-hadits berdasarkan periwayatannya.
 
Suatu hari Imam Malik menyampaikan hadits Nabi SAW, tiba-tiba tampak wajahnya berubah menjadi pucat dan memerah, keringat pun terlihat bercucuran di wajahnya. Akan tetapi ia tidak menghentikan pelajarannya menyampaikan hadits Rasulullah SAW hingga selesai.
 
Setelah usai menyampaikan hadits Nabi SAW, Imam Malik RA berkata kepada salah satu muridnya yang jaraknya paling dekat dari tempatnya duduk, “Coba lihat apa yang ada di balik bajuku ini.”
 
Murid itu pun dengan segera melihat punggung Imam Malik RA. Betapa terkejutnya si murid, karena ia mendapati seekor kalajengking telah menggigit punggung Imam Malik dengan tujuh belas gigitan di tempat yang berbeda. Murid-murid pun terperanjat menyaksikan kejadian itu. Mereka berkata, “Wahai Guru, mengapa engkau tidak memberi tahu kami ketika kalajengking itu baru menggigit Guru?”
 
“Sungguh aku teramat malu untuk memotong hadits Rasulullah SAW hanya karena sengatan kalajengking.” Jawab Imam Malik. [bq]
 
Sumber: Al-Kisah No. 23/12-25 November 2012 halaman 14-15
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang