IQRO' ala Paulo Freire dan Sorogan ala Pesantren

8 April 2016

OLEH: ZIA UL HAQ

Pendidikan harus menjadi arena pembebasan manusia sehingga mengantar orang menemukan dirinya sendiri, untuk kemudian menghadapi realitas sekitarnya dengan kritis dan mengubah dunia secara kreatif." [Paulo Freire, Brasil 1921-1997]

Bukan suatu kebetulan jika ayat yang pertama kali diwahyukan kepada Baginda Muhammad adalah "Bacalah!" (إقرأ) bukan "Dengarlah!" (إسمع) atau semacamnya. Meskipun sama-sama kata perintah (fi'il amr), lafadz "Iqro'" menyiratkan kesan dan pesan khusus, yakni keaktifan si manusia sendiri, karena membaca merupakan aksi aktif, bukan pasif.

Sudah jelas ayat ini menekankan pentingnya pendidikan, namun lebih dari itu, ayat ini juga menyiratkan pendidikan macam apa yang cocok untuk makhluk berakal seperti manusia ini.

Seseorang yang mau menggunakan daya bacanya terhadap fenomena sekitar alias ayat kauniyah secara jernih pun pada akhirnya akan menyimpulkan hal yang sama. Paulo Freire adalah salah satunya.

Pada masa kebangkitan aliran filsafat empirisme di Inggris, filsuf John Locke mengemukakan konsep Tabula Rasa atau “wadah kosong”, sebagai ilustrasi sistem pengetahuan manusia. Pengetahuan manusia diandaikan sebagai wadah yang awalnya kosong, dan akhirnya menjadi pengetahuan utuh setelah diisi oleh beragam realitas empirik. Namun dengan demikian kemanusiaan terberangus. Potensi individu terabaikan karena semua diandaikan berangkat dari satu garis yang sama; wadah kosong.

Sedangkan Freire memperkenalkan metode pendidikan yang disebut dengan Pendidikan Dialogis. Otoritas guru yang selalu satu arah diberangus dengan konsep “guru sekaligus murid” dan “murid sekaligus guru”. Dialog ini berusaha secara revolusioner mengubah konsep relasi berjarak antara guru dan murid dalam struktur pendidikan formal sejak jaman Yunani Kuno.

Karena itulah unsur dialog sangat penting bagi Freire. Terdapat suatu dinamika dialektis antara pendidik dengan peserta didik. Penekanannya adalah dengan menyadarkan pendidik maupun peserta didik agar dapat berani bertindak dan mengubah situasi mereka.

Menurut Freire, kebiasaan “patuh” (atau dalam bahasa lainnya “adaptif” seperti yang menjadi tujuan pendidikan konservatif) mendorong manusia untuk menyesuaikan diri dengan realitas, bukan untuk berintegrasi.

Integrasi merupakan tindakan khas dari jiwa demokratis yang fleksibel, menuntut kemampun untuk berpikir dengan kritis. Lawannya adalah “adaptasi”, yakni hanya menyesuaikan diri terhadap kebiasaan yang dipaksakan, dengan demikian membentuk suatu kerangka berpikir yang otoriter serta tidak kritis.
  
Dalam tradisi pemahaman teks di pesantren pun ada metode serupa. Ada model pengajianbandongan, yakni mendengarkan keterangan seorang kiai kata demi kata dari sebuah kitab. Ada pula metode sorogan, yakni santri dituntut untuk membaca kitab tersebut di hadapan kiai secara langsung, sambil disimak dan dikoreksi oleh sang guru.

Semasa belia dahulu, salah seorang guruku, Mas Solah (yang kebetulan adalah kakak sepupuku), menerapkan dua metode tersebut sekaligus dalam satu kesempatan setiap malam. Awalnya, beliau membaca satu bab dari sebuah kitab sambil menerangkan isinya, dan aku terus menyimak sambil menulis arti setiap kata secara gandul.

Selanjutnya, aku disuruh membaca hasil kajian bab sebelumnya dengan metode tradisional ala Jawi (utawi iki iku), lalu disuruh menjelaskan ide utama apa yang kubaca dengan Bahasa Indonesia yang baik, sambil sesekali beliau sela dengan koreksi, baik tentang gramatika bahasa maupun kesan makna yang kupahami, sambil melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang memancing dialog.

Metode seperti ini, interaksi antara guru murid kurasa sangat efektif dalam merangsang pemahaman sekaligus mentalitas. Karena biasanya, akan muncul pemahaman-pemahaman baru setiap kali terjadi tanya jawab, dialog, dan tukar pengalaman. Memang, metode efektif ala pesantren seperti ini hanya bisa dijalankan dalam konsep 'kelas' yang eksklusif, seperti yang sudah dilakukan sekolah-sekolah unggulan zaman sekarang.

Intinya, berpijak pada ayat qauliyah yang diwahyukan pertama kali serta penafsiran ayat kauniyah yang digagas Paulo Freire tersebut, pendidikan tidak boleh mencerabut peserta didik dari akar sosialnya sehingga menjadikannya buta dan tuli terhadap realita yang ada.

Seorang peserta didik dibimbing untuk membaca (إقرأ), itu berarti menuntut dia untuk berbicara, tidak hanya mendengarkan. Tentunya dengan dasar kebebasan atas dasar keimanan (باسم ربك الذي خلق), dan sebagai upaya mengenalkan dirinya tentang siapa dia dengan segala sisi kemanusiaannya (خلق الإنسان من علق). Wallahu A'lam.
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang