Islam Bertanggungjawab Atas Keterbelakangan Umat ?

1 April 2016

 OLEH : PROF. DR. MAHMOUD HAMDI ZAQZOUQ

Fakta-fakta sejarah yang tidak dapat  disangkal sesungguhnya telah menjelaskan kepada kita, bahwa dalam tempo relatif singkat, Islam telah mampu membangun suatu peradaban gemilang yang bertahan paling lama dalam catatan sejarah. Bukti-bukti kegemilangan peradaban islam telah mewariskan kepada dunia berbagai kemajuan dalam beragam disiplin ilmu pengetahuan. Literature-literatur dan naskah-naskah Arab-islam bernilai tinggi masih yang masih tersimpan di berbagai perpustakaan dunia menunjukkan capaian peradaban umat islam yang mengagungkan. Khazanah peninggalan arsitektur dan bangunan Islam yang ada di berbagai wilayah yang pernah menjadi bagian dari wilayah kekuasaan Islam, juga menjadi bukti kegemilangan peradaban Islam dalam bidang seni bangunan dan arsitektur. 


Bahkan di Eropa, sisa-sisa peradaban Islam yang masih bertaha di Andalusia, menjadi saksi kejayaan umat Islam di wilayah itu. Yang tak kalah pentingnya, orang-orang eropa berhutang budi kepada peradaban Islam saat mereka melakukan penerjemahan besar-besaran atas berbagai karya ilmuwan Muslim pada abad ke-12 dan ke-13, yang mengantarkan mereka ke masa renaissance dan peradaban modern sekarang.

Dalam al-Qur’an terdapat beragam ayat yang menyitir tentang pentingnya ilmu pengetahuan dan tingginya kedudukan para intelektual  ( ‘ulama ). Al-Qur’an juga seringkali menganjurkan manusia untuk mengamati dan mempelajari fenomena alam serta membangun dan memakmurkan bumi. Lima ayat pertama yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad saw., jelas-jelas menegaskan tentang pentingnya membaca dan berfikir untuk mendapatkan ilmu pengetahuan.

Teks-teks dasar Islam yang sangat berlimpah tentang pentingnya pendayagunaan akal pikiran dan pengembangan ilmu pengetahuan, memang telah menggugah kesadaran umat Islam sejak kali pertama Islam datang. Oleh karenanya, keterbukaan dan kepeloporan umat Islam dalam peradaban yang bersifat menyeluruh-yang mencakup aspek materiil dan spiritual, jasad dan ruh-adalah sesuatu yang telah dianggap taken for granted dan tidak membutuhkan bukti dan argumentasi.

Dari uraian diatas dapatlah dikatan, bahwa jika dewasa ini umat Islam berada pada fase keterbelakangan, maka hal itu bukanlah kesalahan islam. Ajaran-ajaran Islam yang luhur, justru menentang segala bentuk kebodohan dan keterbelakangan. Tetapi ketika umat Islam tidak memahami dan mengamalkan ajaran agamanya, maka mereka pun tertinggal dalam peradaban. Almarhum Malik ben Nabi, seorang cendekiawan Muslim aljazair pernah mengatakan, “ Sesungguhnya keterbelakangan umat Islam dewasa ini tidak disebabkan oleh Islam. Sebaliknya, semua itu merupakan sanksi yang layak mereka terima, karena meninggalkan Islam, bukan berpegang teguh pada ajarannya.

Islam, dengan demikian, akan selalu terbuka terhadap dan mendorong kepada, capaian-capaian peradaban yang sejalan dengan kemaslahatan umat manusia. Oleh karena itu, ketika banyak cendekiawan yang mengkaji dan mempelajari sebab-sebab kemunduran umat Islam dewasa ini, mereka tidak mendapati Islam sebagai salah satu factor penyebab kemunduran itu. Akan tetapi mereka mendapati beberapa factor eksternal yang utamanya adalah damapak negative dari Imperialisme dan kolonialisme yang telah melumpuhkan gerak dinamis umat Islam. Suatu hal yang pada gilirannya-di samping factor-faktor internal-membuat umat islam melalaikan dan mengabaikan nilai-nilai Islam yang sejatinya dapat menjadi etos dinamis dalam hidup dan kehidupan.
Sesungguhnya, menilai islam melalui realitas umat Islam kontemporer yang memprihatinkan seperti  sekarang ini, merupakan hal yang tidak tepat. Kemunduran dan keterbelakangan umat Islam dewasa ini adalah suatu fase yang harus dilalui umat Islam akibat kelalaiannya, tetapi tidak berarti keterbelakangan umat menjadi kondisi final yang terus berlaku sampai akhir zaman. Dengan demikian, tidaklah tepat bila islam dianggap bertanggungjawab atas, dan menjadi penyebab dari, keterbelakangan umat islam. Hal yang sama juga berlaku pada yang lain, Kristen misalnya, yang tidak dapat dikatakan bertanggungjawab atas kemunduran umatnya di Amerika Latin.

Menyangkut hubungan Islam dan capaian peradaban, kejujuran dan amanah ilmiah sesungguhnya menuntut sebuah kajian yang objektif dan tidak tendensius terhadap prinsip-prinsip ajaran islam. Objektivitas memang sangat diperlukan untuk menangkal berbagai presuposisi dan tuduhan yang sebenarnya tidak ada kaitannya dengan ajaran islam yang memerangi kebodohan dan keterbelakangan di satu sisi, dan memandang positif capaian-capaian peradaban yang berpihak pada kemaslahatan dan kebaikan umat manusia di sisi lain. ( Akhmad Syofwandi)

*Sumber: Buku Islam di Hujat Islam Menjawab; Tanggapan atas Tuduhan dan Kesalahpahaman. Terjemah dari kitab Haqa'iq Islamiyyah fi Muwajahat Hamalat at-Tasykik.
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang