Kibarut-tabi’in, Sayyidina Uwais al-Qarni

1 April 2016

“Ya Allah, jangan pernah Engkau menimpakan siksa-Mu kepadaku atas orang-orang yang tidur dalam keadaan lapar dari umat penghulu kami, Nabi Muhammad SAW.” Doa Sayyidina Uwais al-Qarni tatkala sedang mengais sisa-sisa makanan dari tempat sampah. Tiba-tiba datang seekor anjing yang menggonggong di hadapannya, “Wahai anjing, janganlah engkau menyakitiku. Bukankah aku pun tidak menyakitimu? Karena aku pun hanya makan apa yang pantas untukku dan engkau pun makan apa yang pantas untuk makananmu. Dan sesungguhnya bila aku kelak dapat melewati Shirath dan masuk ke dalam surga, aku lebih baik darimu. Namun jika aku tergelincir dari shirath dan jatuh ke dalam neraka, engkau lebih baik dariku.” Ucap Sayyidina Uwais kepada anjing itu.
 
Ilustrasi Sayyidina Uwais al-Qarni
 
Penampilannya yang selalu sangat lusuh membuat orang-orang lain ketika memandangnya tidak berkenan memperhatikannya. Dia selalu luput dari perhatian orang-orang. Hingga akhirnya, Rasulullah SAW mendapatkan kabar dari langit tentang dirinya.
 
Suatu ketika tatkala Sayyidina Umar dan Sayyidina Ali bersama Rasulullah SAW, kabar itu disabdakan Rasul ke keduanya, “Uwais… tahukah engkau tentang Uwais?” tanya Rasul kepada keduanya. Bagi dua orang sahabat itu, tentu Rasul dan Allah lah yang lebih tahu tentang Uwais al-Qarni. Sebab itu keduanya terdiam.
 
“Ia adalah seorang yang majhul (tidak dikenal) di bumi, namun termasyhur di langit. Ia diuji dengan penyakit sopak lalu ia memohon kesembuhan kepada Allah sehingga Allah menyembuhkannya, kecuali tersisa seukuran dirham di bawah pundaknya. Uwais memohon kepada Allah agar membiarkan yang tersisa itu agar ia selalu mengingat nikmat Allah bila melihatnya. Ia serahkan dirinya hanya untuk menggembalakan kambing-kambing milik ibunya demi berbuat bakti kepadanya.” Lanjut Rasul bersabda.
 
“Wahai Umar dan Ali, bila kalian berdua bertemu dengannya, pintalah kepadanya untuk memohonkan ampun bagi kalian, niscaya Allah akan mengampuni kalian berdua.” Rasulullah SAW menutup sabdanya saat itu.
 
Kabar itu ternyata membuat Sayyidina Umar bin Khathab ingin bertemu dengan Uwais. Keinginannya itu lama-lama berubah menjadi rindu. Hingga menjadi teramat rindu. Seperti Rindu seorang kekasih. Meski belum pernah bertemu.
 
Kebanyakan rindu, kangen, muncul setelah pertemuan. Namun, Sayyidina Umar mendapatkan nikmat rindu dari hanya sebatas mendengar kabar. Ia menyimpan rindunya dalam waktu yang tidak singkat. Bahkan hingga di akhir-akhir masa kekhalifahannya, ia belum juga mendapati Uwais yang dirindukannya.
 
Waktu itu, musim haji. Di akhir-akhir masa kekhalifahan Sayyidina Umar. Orang-orang berduyun-duyun datang ke mekah untuk menunaikan rukun islam ke lima itu. Dan ketika Sayyidina Umar melihat ada orang-orang berkumpul di padang ‘Arafah, ia mendekati mereka.
 
”Semua jama’ah haji diharapkan untuk duduk, kecuali yang berasal dari Yaman.” Perintah Sayyidina Umar. Maka seluruhnya duduk kecuali yang berasal dari Yaman.
 
“Yang dari Yaman diharap duduk, kecuali yang berasal dari Murad.” Murad merupakan Kabilah Sayyidina Uwais. Maka mereka pun semuanya duduk kecuali beberapa jamah yang berasal dari kabilah Murad.
 
“Yang dari Murad diharap duduk, kecuali yang berasal dari Qarn.” Qarn bagian dari kabilah Murad, yang darinya Sayyidina Uwais berasal. Setelah semua yang berasal dari Murad duduk, tinggallah seorang tua berdiri di antara mereka.
 
“Apakah di tempat kalian ada seseorang yang bernama Uwais?” tanya Sayyidina Umar.
 
“Wahai Amirul Mu’minin, sungguh kami tidak mengetahui seseorang yang bernama Uwais, yang patut untuk kami perkenalkan kepada engkau, kecuali seorang laki-laki yang sedikit gila, yang kami berikan empat dirham kepadanya untuk menjaga unta-unta kami.” Jawab orang tua itu.
 
“Kegilaan itu ada padamu, bukan padanya.” Perkataan Sayyidina Umar membuat orang tua itu kebingungan. Sayyidina Umar pun mengajak Sayyidina Ali beranjak dari tempat itu untuk menemui Sayyidina Uwais di tempat yang ditunjuk orang tua tadi.
 
Di bawah sebuah pohon di sekitar Arafah, di samping unta-unta yang sedang digembalakan, keduanya menemukan Sayyidina Uwais sedang mengerjakan Shalat. Lantas keduanya mengucapkan salam. Tampak oleh keduanya, Sayyidina Uwais meringankan sholatnya.
 
“Wa’alaykumsalam warahmatullahi wabarakatuh, ya Amirul Mu’minin” jawab Sayyidina Uwais selepas merampungkan sholatnya. Perbincangan pun terjadi di ketiganya. Seperti pernah berjumpa sebelumnya. Meski belum, ketiganya sudah saling mengenal tanpa pertemuan. Perbincangan orang-orang yang ditawan rindu.
 
“Setelah haji, ke mana engkau akan pergi?” tanya Sayyidina Umar
 
“Aku akan pergi ke Irak.”
 
“Kalau begitu, tunggulah sebentar. Aku akan pergi ke Baitul Mal untuk mengambil uang sekadarnya dan pakaian untukmu.”
 
“Wahai Amirul Mu’minin, sesungguhnya aku memiliki empat dirham yang diberikan oleh rombongan haji sebagai upah menggembalakan unta mereka, dan aku tidak tahu apakah aku masih hidup sampai aku menginfakkannya ataukah aku sudah tidak bernyawa sebelum menginfakkannya?” jawab Sayyidina Uwais.
 
“Wahai Amirul Mu’minin sesungguhnya pada tubuhku ini pun ada pakaian yang aku kenakan, dan aku tidak tahu pula apakah aku masih hidup sampai pakaian ini rusak atau aku sudah mati sebelumnya rusak.” Lanjut Sayyidina Uwais.
 
“Wahai Amirul Mu’minin, sesungguhnya di hadapan kita terdapat tanjakan yang tinggi menjulang, yang tidak akan mampu melewatinya kecuali orang-orang yang sedikit bebannya.”
 
Mendengar itu, Sayyidina Umar pun tiba-tiba memukulkan tongkat komandonya ke tanah seraya berkata, “Andaikan saja, ada seseorang yang mau mengambil tongkat komando ini dan apa yang ada padanya. Sungguh aku sangat menginginkan keluar dari dunia dengan beban yang ringan, tidak milikku dan tidak pula atasku.”
 
“Haruskah aku menuliskan sesuatu kepada Gubernur Irak agar ia dapat memberikan pelayanan yang baik untukmu?” Sambung Sayyidina Umar.
 
Sayyidina Uwais pun menjawab, “Wahai Amirul Mu’minin, aku ingin menjadi bagian dari orang-orang yang lusuh dan berdebu.”
 
Setelah perbincangan itu, tidak ada lagi kabar tentang Sayyidina Uwais. Sayyidina Umar tetap memegang tongkat komandonya hingga usai kekhalifahannya. Sayyidina Uwais tetap pergi ke Irak masih dengan kelusuhannya. Hingga suatu ketika Haram bin Hayyan RA menjumpai Sayyidina Uwais di tepi sungai Furat. Di tepi sungai itu, Sayyidina Uwais menurunkan kakinya ke bibir sungai.
 
“Uwais bin Amir al-Qarni?” tanya Haram bin Hayyan selepas menguluk salam.
 
“Benar, wahai Haram bin Hayyan.” Jawab Sayyidina Uwais selepas menjawab salam.
Haram bin Hayyan terkagetkan sebab Sayyidina Uwais ternyata mengenal dirinya. Keduanya baru kali itu berjumpa. “Wahai Haram, siapa yang ma’rifah kepada Allah, ia mengetahui segala sesuatu.” Jawab Sayyidina Uwais ketika Haram menanyakan bagaimana Sayyidina Uwais bisa mengenalnya.
 
“Izinkan aku ikut bersamamu.” Pinta Haram bin Hayyan setelah menerima nasihat yang ia pinta dari Sayyidina Uwais.
 
“Jangan, InsyaAllah kita akan bertemu di telaga Rasulullah SAW.” jawab Sayyidina Uwais melarang.
Seusai pertemuan itu, Haram bin Hayyan mengenal Sayyidina Uwais sebagai orang yang senantiasa menghindar untuk dikenali oleh manusia. Dan itu benar, sampai suatu ketika Sayyidina Uwais ditemukan syahid terbunuh di medan perang di antara barisan pasukan Amirul Mu’minin, Imam Ali bin Abi Thalib RA.” [bq]
 
Sumber: al-Kisah No. 23/12-25 November 2012 halaman 15-18.

Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang