Persaudaraan Universal Sesama Manusia, Tak Hanya Sesama Muslim

13 April 2016

OLEH: DATO' MUHAMMAD AFIFI AL-AKITI

“Tidaklah sempurna iman seorang di antara kalian sehingga ia menyukai suatu hal ada pada saudaranya sebagaimana bila hal tersebut ada pada dirinya sendiri,” demikian sabda Rasulullah saw. sebagaimana diriwayatkan dalam shahihain dengan jalur Anas bin Malik ra.
Dato' Syaikh Dr. Muhammad Afifi al-Akiti

La yu'minu ahadukum hatta yuhibba li-akhihi ma yuhibbu li-nafsihi

Menurut Imam Abu Zaid al-Qayrawani, penulis ar-Risalah dalam mazhab Maliki, sebagaimana dinyatakan juga oleh Imam Nawawi di dalam kitabnya, al-Minhaj, bahwa hadits ini merupakan salah satu dari empat hadits yang disebut sebagai ‘Kumpulan Adab Terpuji’. Adapun tiga hadits lainnya adalah berkaitan tentang; sedikit bicara, memikirkan urusan sendiri, dan jangan marah.

Menurut banyak ulama terdahulu dan sekarang, hadits di atas merupakan salah satu prinsip inti dari jalan kehidupan dalam agama kita. Perlu digarisbawahi bahwa para ulama sepakat tentang lafal ‘iman’ di dalam matan hadits tersebut bermakna ‘kesempurnaan iman’, bukan semata-mata ‘beriman’. Maksudnya, lafal ‘laa yu-minu akhadukum’ bukan berarti ‘tidaklah beriman kalian’ sehingga kemudian menjadikan kita mudah menghakimi kafir terhadap orang yang jahat kepada saudaranya. Namun lafal itu berarti; ‘tidak sempurna keimanan kalian’.

Imam An-Nawawi dan Ibnu al-‘Imad merupakan para ulama yang memahami redaksi ‘saudara’ dalam hadits ini mencakup persaudaraan kemanusiaan. Bukan sekedar persaudaraan sesama umat Islam sebagaimana pemahaman para ulama yang lain. Bahkan Imam Najmuddin al-Tufi, seorang ahli tafsir dan mujtahid bermazhab Hanbali, menggunakan istilah ‘mahabbatul insan’ dalam menafsiri hadits tentang persaudaraan ini, artinya; cinta kasih sesama manusia.

Pengaruh dari mahabbah (cinta) dan ukhuwwah (persaudaraan), baik dalam lingkup luas (kemanusiaan) maupun sempit (sesama muslim), ialah suatu rasa senang bila hal yang baik dialami oleh saudara kita sebagaimana bila hal tersebut kita alami sendiri. Begitu pula sebaliknya. Kita akan merasakan apa yang saudara kita rasakan, entah itu senang ataupun susah. Bagi saudara-saudara sesama muslim, kita harapkan tetapnya iman dan Islam. Sedangkan bagi yang non-muslim, kita harapkan hidayah menuju iman. Sebagaimana dijelaskan Imam An-Nawawi di dalam syarahnya. Tentu saja dorongan cinta ini tak lain adalah demi kesejahteraan di akhirat kelak.

Imam al-Ghazali menyebutkan sikap ini sebagai prinsip utama ‘sukun’ atau berdamai dengan segala ciptaan Tuhan, berupa adab yang baik terhadap orang-orang sekitar siapapun mereka. Sedangkan puncak dari adab yang baik, menurut beliau, adalah; “Jangan sampai engkau membebani orang-orang untuk menuruti kesenanganmu, tapi upayakan agar engkau bisa menyenangkan mereka selama bukan dalam hal yang menyalahi syari’at.”

Cakupan hadits di atas, sebagaimana telah disebutkan, tidak hanya sebatas sesama muslim, tapi juga manusia secara keseluruhan. Untuk menegaskan, ada hadits lain yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari jalur Ibnu ‘Umar, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Seorang hamba tidak akan sampai kepada hakikat keimanan sehingga ia menyukai suatu hal terhadap manusia, sebagaimana ia menyukai hal tersebut bagi dirinya sendiri berupa kebaikan.”

La yablughu 'abdun haqiqata l-imani hatta yuhibba li-n-nasi ma yuhibbu li-nafsihi mina l-khayri

Coba renungkan. Hadits ini memuat tiga kata kunci penting yang harus kita pahami betul-betul, yakni; hakikat, manusia, dan kebaikan. Masyaallah! Tiga kata kunci ini akan menuntun kita agar tidak menjadi golongan orang-orang yang berpikiran sempit (qasirin), maupun orang-orang yang memahami Qur’an dan Hadits hanya sebatas lahiriah teks secara terburu-buru. Semoga kita dilindungi Allah dari sifat semacam itu. Amin.

Oxford, 8 Ramadhan 1425

*Sumber: The Meaning Of Universal Brotherhood, penerjemah: Zia.
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2016 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang