Utsman Ibn Affan dan Sumur

16 April 2016

OLEH : IRHAM SYA'RONI

“Bolehkah saya beli sumur Anda?” ucap seorang lelaki kaya raya nan dermawan kepada seorang Yahudi, pemilik Sumur Raumah.
Si Yahudi menolak tawaran lelaki kaya raya itu.
“Kalau aku menjualnya, tentu aku tidak akan punya penghasilan lagi dari berjualan air sumur itu,” dalih si Yahudi.
Memang, sumur itu setiap hari selalu penuh sesak oleh umat Islam yang membeli air bersih dari sumur itu. Karena airnya memang jernih dan bersih untuk diminum. Bahkan, ada yang mengatakan rasanya mirip zamzam, walaupun tentunya tidaklah sama.
“Hmmm, bagaimana kalau aku membeli setengahnya saja?” tawar lelaki kaya raya itu.
“Setengahnya? Maksudmu?”
“Ya, aku beli setengahnya sebesar 20.000 Dirham. Sehari, sumur ini menjadi milikku. Sehari kemudian, menjadi milikmu. Begitu seterusnya silih berganti setiap hari.”
Kali ini pikiran si Yahudi mulai goyah. Dia tampak tertarik dengan tawaran lelaki kaya raya itu.
“Tawaran yang sangat menguntungkan!” batin si Yahudi. “Selain mendapat uang kontan 20.000 Dirham, aku tetap bisa meraup keuntungan dari berjualan air sumur ini dua hari sekali.”
Selepas membayarnya, lelaki kaya raya itu lalu berseru kepada kaum muslimin Madinah.
“Saudara-saudaraku, hari ini Sumur Raumah menjadi milikku. Silakan ambil air dari sumur itu untuk kebutuhan kalian selama dua hari, karena esok hari sumur itu bukan lagi milikku.”
Kaum muslimin lalu berbondong-bondong menuju sumur itu. Mereka penuhi setiap bejana untuk mencukupi kebutuhan dalam dua hari.
Lepas sehari, Sumur Raumah kembali menjadi milik si Yahudi. Tetapi, tidak seperti hari-hari biasanya. Kali ini tak seorang pun yang datang ke sumurnya untuk membeli air. Selalu begitu setiap jatah si Yahudi memiliki sumur itu. Sepi tanpa pembeli.
“Utsman,” sapa si Yahudi kepada lelaki kaya raya, relasi bisnisnya itu. Dialah Utsman bin Affan, sahabat Kanjeng Nabi yang kesohor akan kekayaannya, kedermawanannya, dan kepiawaiannya berbisnis.
“Setelah aku pikir-pikir ulang, sebaiknya aku jual saja seluruh hak atas Sumur Raumah kepadamu,” lanjut si Yahudi.
Utsman tersenyum, lalu menyerahkan 20.000 Dirham untuk membelinya. Selepas itu, Utsman mengumumkan kepada khalayak bahwa sumur itu dia wakafkan untuk siapa saja yang membutuhkan. Sejak itu sumur Raumah dimanfaatkan oleh siapa saja, termasuk Yahudi si pemilik lamanya.
Setelah beberapa waktu kemudian, tumbuhlah di sekitar sumur itu beberapa pohon kurma. Pada masa Daulah Utsmaniyah, pohon itu terus berkembang. Begitu pula pada masa pemerintahan Kerajaan Arab Saudi, pohon itu semakin berkembang hingga mencapai 1500 pohon, bahkan lebih.
Oleh Departemen Pertanian Arab Saudi, hasil perkebunan kurma itu dijual ke pasar-pasar. Setengah dari keuntungannya disalurkan untuk anak-anak yatim dan fakir miskin. Setengahnya lagi ditabung di bank dalam bentuk rekening khusus atas nama Utsman bin Affan.
Begitu seterusnya hingga rekening abadi atas nama Utsman bin Affan semakin bertambah. Dari rekening itulah anak-anak yatim dan fakir miskin di Arab Saudi tercukupi. Bahkan, dari rekening abadi itu pula berdirilah hotel megah, juga atas nama Ustman bin Affan. Diperkirakan omsetnya per tahun adalah 150 M. (150 M, lho... Bukan 150 juta)
Terus, akan dikemanakan omset sefantastik itu?
Tetap ditasharrufkan seperti sebelumnya, yaitu untuk anak-anak yatim, fakir miskin, dan sebagiannya lagi masuk ke rekening abadi atas Utsman bin Affan.
***
Sayangnya, setahun lalu saat Mbah Sabdo berziarah ke sana, sang TL (Tour Leader) tidak sempat membawanya mengunjungi wakaf abadi sang Khalifah Ketiga itu. Semoga pada kesempatan lain Mbah Sabdo bisa mengunjunginya.
***
Pukul 23.09 WIB, lamat-lamat aku dengar Mbah Sabdo merapalkan doa yang biasa dibaca oleh malaikat untuk orang-orang yang semisal dengan Ustman bin Affan.
اَللّهُمَّ اَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا
“Ya Allah, berilah ganti kepada orang yang suka memberi.” (HR. Muslim)
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2016 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang