Ayo Suburkan Taman Baca Masyarakat!

15 May 2016

OLEH: ZIA UL HAQ

Dari sekitar 250 juta jiwa penduduk, hanya sekira 250 ribu yang gemar baca. Itu berarti hanya ada 0,001 % dari seluruh penduduk Indonesia, atau; hanya ada 1 kepala yang gandrung pada buku dari 1000 orang di sekitarnya. Duh, betapa terkucilnya mereka. Hehe.

Mungkin Anda bertanya-tanya, apa yang membuat 0,001% populasi Indonesia itu betah berlama-lama mengeja aksara sambil duduk hening berpangku buku? Katanya sih, ketika mereka membaca lalu merenungkan, kemudian menemukan pemahaman-pemahaman baru, euforianya bikin serasa lupa hutang, penyakit, dan problem hidup. Rasanya jauh lebih nge-fly daripada narkoba. Begitu.

Atau minimal karena mengetahui hal-hal baru, mereka jadi ketagihan dan terus penasaran dengan bacaan-bacaan. Buktinya, banyak orang yang betah berjam-jam online; entah facebook-an, nge-twit, surfing, baca berita online, ataupun ngaskus karena tertarik dengan berita-berita dan wacana-wacana baru. Sama saja sebenarnya.

Hanya saja karena akses online lebih mudah, maka banyak yang betah. Sedangkan akses terhadap buku masih saja sulit, makanya banyak yang jadi malas baca buku. Mulai dari perpustakaan sekolah yang sumpek, perpustakaan daerah yang horor, hingga keterbatasan toko buku atau taman baca di daerah-daerah.

Mendingnya, menurut informasi dari Menteri Pendidikan kita, Pak Anies Baswedan, sudah ada sekitar 6.000 taman baca di seluruh Indonesia yang bisa jadi media literasi masyarakat. Namun tentu saja angka ini belum setara dengan jumlah desa di seluruh Indonesia. Itupun kalau dianggap bahwa satu desa cukup satu taman baca.

Memang apa pentingnya sih masyarakat membaca? Kalau Anda pernah membaca buku, apapun, tentu Anda paham jawabannya. Tak perlulah kita bahas di sini. Hehe.

Bayangkan saja kalau di tiap satu desa ada satu taman baca atau perpustakaan yang relatif lengkap, nyaman, dan atraktif berkegiatan. Betapa berkilaunya desa itu. Selain menjadi ruang pustaka yang menyediakan buku-buku bacaan bagi masyarakat, juga menjadi ruang ngobrol bagi anak-anak muda, dan menjadi ruang bermain sambil berkreasi bagi anak-anak sekitar. Maka perpustakaan desa kemudian tidak hanya menyediakan wawasan, tetapi juga memfasilitasi pemberdayaan, juga sebagai arena pendidikan informal.

Banyak sudah taman baca yang tumbuh, termasuk salah satunya di kampung halaman penulis, Taman Baca Masyarakat yang diinisiasi dan dikelola oleh teman-teman Komunitas Tiga Surau. Taman baca ini mampu menjadi magnet bagi anak-anak sekitar Desa Tuwel Kec. Bojong Kab. Tegal untuk belajar bersama tiap malam, bahkan menjadi salah satu rujukan literasi bagi anak-anak sekolah menengah di wilayah kecamatan Bojong. Komunitas inipun berhasil memfasilitasi para pemuda untuk berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan insidental masyarakat.

Memang betul bahwa tak cukup keberadaan taman baca yang pasif. Ia harus aktif, bahkan atraktif, agar minat baca masyarakat meningkat. Sehingga pada skala waktu dan ruang tertentu, keberadaan taman baca bisa memberikan manfaat.

Model taman baca inilah yang kemudian menginspirasi Komunitas Santrijagad (sohibul-web ini) untuk juga menyediakan ruang baca bagi masyarakat. Komunitas yang awalnya berupa gerombolan diskusi liar ini memilih Yomani sebagai lahan untuk membuka taman bacanya, yang kemudian disebut; Perpustakaan Santrijagad. Tepatnya di barat jalan Yomani-Guci KM.1, Yamansari, Lebaksiu, Tegal. Dua ratus meter ke arah selatan dari pertigaan Yomani, kanan jalan.

Perpustakaan Santrijagad memang masih sangat minim koleksi buku. Baru sekitar 500-an buku, padahal untuk kelas taman baca minimal 5000-an judul bacaan. Pengelola masih tebar pesona sana-sini agar bisa menambah koleksinya. Ya termasuk dengan artikel yang Anda baca ini, hehe.

Karena posisinya terletak dekat sekolah, maka tempat ini jadi ampiran pas buat adik-adik yang lagi ngaso. Ada beberapa sekolah dan pesantren di sekitar lokasi. Di situ juga tersedia minuman-minuman ringan sebagai kanca baca. Buku-buku yang tersedia pun beragam genre, ada buku-buku pelajaran, agama, sastra, sains, keterampilan praktis, maupun majalah-majalah.

Tempat ini juga menjadi sekretariat Komunitas Santrijagad yang sebulan sekali menggelar diskusi dalam beragam tema, khususnya dalam pengembangan program beasiswa Santri Foundation. Juga menjadi kantor bagi pengembangan bisnis anggota komunitas yang baru mulai merangkak. Selain berupaya menambah koleksi buku, Perpustakaan Santrijagad juga diproyeksikan agar bisa turut berpartisipasi dalam bidang edukasi masyarakat sekitar. Beberapa kegiatan yang difasilitasi, selain diskusi komunitas, adalah keterlibatan dengan BPUN (Badan Persiapan Ujian Nasional) di wilayah kabupaten Tegal, pelatihan baca kitab salaf, hingga kursus arsitektur intensif.

Perpustakaan Santrijagad
Bagi Anda yang ingin bersedakah buku, baik dalam bentuk ‘mentah’ ataupun ‘matang’, atau sekedar sambung silaturrahim, silakan mampir di Perpustakaan Santrijagad, Jl. Raya Yomani-Guci KM 1, Desa Yamansari, Kec. Lebaksiu, Kab. Tegal, Jawa Tengah, 52461, kontak (Telp/SMS/WA): 089667242182.

Salam literasi!
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang