Buah Kesabaran Menjomblo Karena Allah

4 May 2016

OLEH: AS'AD SYAMSUL ARIFIN

Meskipun usianya sudah semakin dewasa, namun Najmuddin Ayub Sultan Tikrit belum menikah juga. Banyak sudah yang menanyakan hal itu kepadanya termasuk saudara laki-lakinya yang bernama Asaduddin Syirkuh.

“Kenapa engkau belum menikah juga wahai saudaraku?”

“Aku belum menemukan wanita yang pantas untukku,” jawab Najmuddin.

“Maukah engkau aku lamarkan seorang gadis untukmu?”

“Siapa?”

“Salah seorang anak gadis Sultan Saljuk atau anak gadis dari perdana mentri.” Kata sudaranya.

“Mereka tidak cocok untukku.” Jawab Najmuddin.

Sudara laki-laki Najmuddin heran akan jawaban itu, ia lalu bertanya; “Kalau begitu, gadis seperti apa yang engkau inginkan sebenarnya?”

“Aku menginginkan gadis sholihah yang bersedia menggenggam tanganku lalu menuntunku menuju surga, ia melahirkan untukku seorang anak laki-laki yang ia mau mendidiknya hingga remaja, kemudian anak itu akan menjadi penunggang kuda yang akan membawa kaum muslimin kembali ke Baitil Maqdis di Palestina.” Jawab Najmuddin dengan mantab.

Karena sudah tahu akan karakter dan keteguhannya, Asaduddin tidak heran dengan jawaban saudara laki-lakinya itu. Ia lalu berkata; “Terus di mana engkau akan mendapatkan gadis yang semacam itu??”

“Barangsiapa yang mengikhlaskan niatnya karena Allah, maka Allah Ta’ala akan menganugrahkan apa yang ia niatkan.” Jawab Najmuddin.

Suatu hari Najmuddin pergi ke salah satu masjid di kota Tikrit, ia ingin berbincang-bincang dengan seorang syaikh di masjid tersebut. Pada saat ia sedang asik ngobrol, tiba-tiba datang seorang gadis muda menghampiri dan meminta izin untuk berbicara dengan syaikh itu dari balik tabir.

Syaikh itu lalu meminta izin pada Najmuddin untuk berbicara sebentar dengan gadis muda tadi. Najmuddin mendengar pembicaraan gadis dan syaikh tersebut.

“Kenapa kamu menolak lamaran laki-laki yang aku suruh datang ke rumahmu?” Tanya syaikh itu.

“Wahai syaikh, ia memang pemuda yang sangat baik, ganteng dan memiliki kedudukan yang tinggi….tetapi menurutku, pemuda itu tidak cocok denganku.” Kata gadis itu.

“Trus pemuda yang seperti apa yang engkau inginkan?”

“Duhai guruku, aku menginginkan seorang pemuda yang ia bersedia menggenggam tanganku lalu menuntunku ke surga, aku melahirkan keturunan darinya seorang laki-laki yang kelak bisa menunggang kuda dan mengembalikan kaum muslimin ke Bait al-Muqaddas di Palestina.” Jawab gadis itu.

Allahu Akbar….itu adalah ucapan yang sama, yang dulu pernah diucapkan oleh Najmuddin saat ditanya oleh saudaranya.

Dahulu Najmuddin pernah menolak ketika akan dilamarkan anak gadis Sultan Saljuk dan anak gadis perdana mentri, gadis itu pun sama, ia juga menolak ketika dilamar seorang pemuda ganteng, kaya raya dan punya kedudukan.

Keduanya memiliki keinginan yang sama, menginginkan seseorang yang bersedia menggenggam tangannya untuk menuju surga. Dan sama-sama menginginkan seorang anak yang kelak menjadi satria penunggang kuda, yang akan mengembalikan kaum muslimin ke Bait al-Muqaddas di Palestina.

Najmuddin segera berdiri lalu berkata kepada syaikh tadi; “Aku ingin menikahi gadis ini.”

“Ia adalah gadis dari keluarga faqir wahai Najmuddin.” Kata syaikh tersebut.

“Ini adalah gadis yang aku impikan selama ini….!!” Kata Najmuddin dengan matab.

Akhirnya menikahlah Najmuddin dengan gadis tersebut. Berkat keikhlasan niatnya, Allah menganugrahkan kepada mereka berdua seorang anak laki-laki yang dikemudian hari tumbuh menjadi kesatria penunggang kuda yang mengembalikan kaum muslimin ke Bait al-Maqdis di Palistina.

Kesatria penunggang kuda itu adalah Sholahuddin al-Ayubi rahimahullah.

*Sumber: Catatan Facebook As'ad Syamsul Arifin
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang