Jangan Buka Luka Lama!

16 May 2016

OLEH: AHMAD TSAURI

Orang pesantren meyakini bahwa PKI merupakan bahaya laten, sebab mereka bertemu bahkan diasuh oleh para kiai yang lahir antara 1930-1949, di tahun 1948, 1965, di antaranya sudah dewasa. Bagi para kiai, keganasan PKI bukan katanya, tapi mereka saksi mata, sebagian menjadi korban, bahkan berhadap-hadapan. Misalnya Gus Maksum Lirboyo, yang juga lebih banyak tinggal di Kanigoro Kediri sering menyuarakan keganasan PKI karena beliau terlibat langsung membela kiai dari keganasan PKI.


Sayang, karena menganggap tragedi sejarah yang dikobarkan PKI seperti terangnya matahari di siang hari, kalangan pesantren sebagai NU kecil atau PBNU sebagai wadah pesantren besar tidak mendokumentasikan melalui buku atau publikasi lain. Baru pada 2013, Pak Mun'im DZ menerbitkan sebuah buku dengan judul Benturan NU dan PKI 1948-1965.

Sebaliknya mereka yang pikirannya diasuh di kampus melalui buku-buku 'kiri', baik dalam maupun luar negeri, membaca peristiwa 1948/1965 dari sudut pandang mantan tahanan politik PKI. Mereka cenderung simpatik dengan PKI. Menganggap PKI korban dan negara harus meminta maaf.

Betul PKI 'diselesaikan' oleh Soeharto tanpa pengadilan, tapi apakah pembantaian kiai di Madiun, Kanigoro dan daerah lainnya oleh PKI juga melalui pengadilan? Ini bukan soal balas dendam. Sama sekali bukan. Ketika negara membuka upaya rekonsiliasi, mbok ya sudah kita berpikir ke depan. Mau adil dari sudut pandang mana? Dari sudut pandang mantan Tapol PKI atau dari sudut pandang para kiai-santri yang jadi korban PKI? Saya kira ini akan membuka luka baru dan menambah beban negara.

Benar adanya ada anggota PKI yang religius, ikut tarekat, tidak ateis tapi itu hanya pengecualian saja. Seperti tidak semua orang Belanda pada masa penjajahan adalah penjajah seperti juga tidak semua perwira tinggi Jepang anti upaya kemerdekaan RI. Seperti ditulis Bung Karno, di antaranya juga ada yang membantu, melindungi dan memberi fasilitas untuk mewujudkan Indonesia merdeka.

Jadi sudahlah. Yang sekolah ya sekolah, nyangkul lanjut nyangkul, yang jualan ya jualan, yang ngantor ya ngantor, tidak usah menghiraukan keriuhan 'paranormal', yang dengan mantra tertentu ingin 'mumi komunis' bangkit kembali. [Zq]
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang