Jika Allah Menghisabku Maka Akupun Akan Menghisab-Nya!

14 May 2016

Hari itu, Rasulullah sedang thawaf (mengitari Ka’bah) ketika mendengar seorang dusun (a’roby) berseru ‘Yaa Kariim!’ (Wahai Yang Mahamulia!).

Rasulullah mengikuti orang dusun itu tepat di belakangnya sambil menirukan, ‘Yaa Kariim!’. Si orang dusun menghadap rukun yamani dan berucap lagi, ‘Yaa Kariim!’, Rasulullah menirukan dari belakang, ‘Yaa Kariim!’.

Orang itu berbalik arah menghadap mizab (pancuran emas) dan berseru, ‘Yaa Kariim!’, lagi-lagi Rasulullah menguntit dan menirukan, ‘Yaa Kariim!’

Merasa tak nyaman, si orang dusun berbalik ke arah Baginda Nabi dan menghardik,

“Hei orang berwajah cerah! Jangan mengejekku hanya karena aku orang dusun! Kalau tidak karena wajahmu yang bercahaya, pasti sudah kuadukan kau kepada kekasihku Muhammad!”

Rasulullah tersenyum. Beliau menyahut,

“Apakah kau mengenal nabimu hei saudaraku orang dusun?”

“Tidak.”

“Apakah kau percaya kepadanya?”

“Tentu! Aku beriman kepada kenabiannya meski belum pernah kulihat rupanya. Aku membenarkan risalahnya meski ia belum pernah kujumpa.”

Mendengar itu, maka Rasulullah membuka jati diri,

“Akulah nabimu di dunia. Akulah penolongmu di akhirat.”

Tak ragu lagi, si orang dusun langsung memeluk Baginda Nabi, pancaran cahaya wajah lelaki di hadapannya itu jelas menunjukkan bahwa ia berkata jujur. Si orang dusun tersungkur memeluk kedua kaki Rasulullah.

“Bangun! Bangun saudaraku!” kata Baginda, “Jangan perlakukan aku sebagaimana orang-orang asing memperlakukan para raja mereka. Karena Allah mengutusku bukan sebagai orang jumawa ataupun seorang tiran. Namun Dia mengutusku dengan Kebenaran, sebagai pembawa kabar gembira dan penyampai peringatan.”

Orang dusun itu bangkit dan tertunduk malu. Seketika, datang Malaikat Jibril as. menghampiri Rasulullah, menyampaikan kabar,

“Wahai Muhammad, As-Salaam yaqra-uka as-salaam (Yang Mahadamai menyampaikan salam padamu). Dia menyampaikan juga; katakanlah kepada orang dusun itu agar tidak tertipu oleh kemuliaan Kami, karena kelak Kami tetap akan menghisabnya (mengadili, menimbang amal perbuatan).”

Rasulullah menyampaikan pesan itu kepada orang dusun yang tertunduk malu. Tak diduga, ia malah menjawab,

“Apakah benar Dia akan menghisabku Wahai Rasulullah?”

“Iya, insyaallah, Dia akan menghisabmu.”

“Demi keagungan dan keluhuran-Nya,” ucap si orang dusun, “jika Allah menghisabku maka akupun akan menghisab-Nya!”

“Dengan apa kau akan menghisab Tuhanmu, hei saudaraku orang dusun?” tanya Rasulullah, heran.

“Jika Ia menghisabku atas dosa-dosaku, maka akan kuhisab Dia atas ampunan-Nya,” jawab si orang dusun, “Jika Ia menghisabku atas kedurhakaanku, maka akan kuhisab Dia atas perkenan-Nya. Jika Ia menghisabku atas kekikiranku, maka akan kuhisab Dia atas kedermawanan-Nya!”

Rasulullah pun menangis. Hingga basah jenggot mulianya. Maka Jibril kembali menghampiri beliau,

“Wahai Muhammad, As-Salaam yaqra-uka as-salaam. Dia menyampaikan agar engkau meredakan tangismu. Karena sedu sedanmu menghebohkan penduduk ‘Arsy dari tasbih mereka,” ucap Jibril. Rasulullah menghela napas, Jibril melanjutkan,

“Sampaikan pada saudaramu orang dusun itu, tak usah menghisab Kami dan Kamipun takkan menghisabnya. Karena ia kerabatmu kelak di dalam surga.” [Zq]

*Sumber: Al-Yafi’i, dalam Raudhur Rayyakhin fi Khikayatis Shalikhin, 18 – 20
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang