Keberkahan Jubah Rasulullah

12 May 2016

Oleh : Abdullah el-Aidid

Diriwayatkan bahwasanya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pernah suatu hari diberikan hadiah oleh salah seorang sebuah (عَبَاءَةْ) atau Jubah yg sangat indah.

Kemudian, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam menyuruh Sayyidatuna Aisyah untuk menyimpannya. Tak lama setelah itu datanglah seseorang yang mengetuk pintu rumah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dan rupanya orang yang mengetuk-ngetuk itu adalah seorang peminta-minta atau pengemis.

Maka, pengemis itu meminta kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam sedekah. Maka ketika itu, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam bertanya kepada Sayyidatuna Aisyah, “Ya Aisyah adakah yang bisa disedekahkan? Gandum ada tidak?” Lalu Sayyidatuna Aisyah pun berkata, “Ya Rasulullah, walau dzarrah ma wajadda li-dzaalik/ Ya Rasulullah, meski sebiji pun tak ada gandum dirumahmu ini.”. Kemudian, Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengatakan lagi kepada Sayyidatuna Aisyah, “Coba Aisyah perlihatkan jubah yang baru dihadiahkan tadi.” Maka Sayyidatuna Aisyah menghaturkan jubah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam tersebut. Dan Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pun melipatnya, dimasukkan ke dalam tempatnya yang semula tadi, lalu jubah itu
diberikan kepada pengemis tersebut. Masya Allah.

Maka kemudian, pengemis tersebut pun merasa bangga sekali. (Bahagianya bukan main). Dan pengemis itu bersegera menuju ke pasar, lalu ia mengatakan (sambil berteriak-teriak), “Man-yasytari ‘abaa‘atan Rasulillah? (Wahai, penduduk pasar) Siapa yang ingin membeli jubanya Rasulullah?” Maka seketika itu orang-orang yang ada dipasar berkumpul menemui pengemis tadi dan menanyakan, “Berapa harganya?. Kemudian, jubah itu pun ditawar-tawar oleh penduduk pasar, bahkan para Sahabat Nabi pun berkeinginan untuk memiliki jubah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam tersebut.

Hingga kabar itu terdengar oleh seorg saudagar kaya yang buta matanya (A‘ma).medengar berita ini orang yang buta tadi mengatakan kepada pelayannya, “Idzhab wa-hdhur al-‘abaa’ah mahmaa ghalaa tsamanuha? Berangkat engkau ke orang itu dan engkau hadirkan jubah itu di hadapanku, dan beli-lah meski hargnya semahal apa pun?” Langsung kau beli dg harga yg tinggi 300 ribu dirham yg org lain ga bakal sanggup mengejarnya (Kata orang buta tadi, “Engkau harus beli pokoknya,meskipun ruhmu yang engkau tebus tetap harus kau beli, sebab ini jubahnya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam) Dan orang yang buta tadi mengatakan lagi kepada pelayannya tersebut, “Wahai budakku, kalau engkau berhasil mendapatkannya maka engkau pun akan aku merdekakan di jalan Allah.”

Singkat cerita, budak orang yang buta tadi pun berangkat menemui penjual jubahnya Rasulullah, lalu budak itu mengatakan kepada si penjual tersebut, “Ini aku punya majikan mau beli jubahya Rasulullah, berapa pun harganya pasti aku akan beli.” Maka ditawar-tawar dan akhirnya jubah tersebut dapat dibeli oleh budaknya orang yang buta tadi. Dan setelah itu, jubah tersebut dihadirkan kepada majikannya yang buta, maka kemudian majikannya yang buta itu memegang jubah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam yang ada di hadapannya sambil seraya mengatakan, “Ya Rabb, bi haqqi Rasulillah shallallâhu ‘alaihi wa sallam wa barakati ‘abaa’atihi-thaahirah baina yadayya a‘id ilayya bashari? Ya Allah, kembalikanlah pandanganku ini dengan kemulian jubahnya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam sambil mengusap-usap jubahnya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam ke matanya yang buta itu. Maka tidak lama (SUBHANALLAH) orang yang buta tadi itu bisa melihat kembali seperti semula, bahkan matanya lebih terang daripada sebelumnya. Kemudian orang yang tadinya buta itu, sambil membawa jubahnya pergi ke rumah Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dengan penuh rasa bangga, bahagia. (Sebab matanya ini bisa melihat lagi setelah sekian tahun lamanya buta). Dan ia pun berkata kepada Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam, “Ya Rasulullah, qad ‘aada bashari wa ilaikal-‘aba’ah hadiyah minni? Wahai Rasulullah, mataku sudah kembali lagi seperti semula dan engkau aku kasih jubah ini lagi?” Jadi, jubahnya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam dikembalikan lagi. (ALLAHUMMA SHALLI ‘ALAIH …). Lalu oleh orang yang tadinya buta itu mengisahkan bagaimana kronologisnya dan kenapa jubah itu pun bisa kembali lagi ke tangannya Rasulullah saw. Ketika dikisahkan kenapa jubah itu bisa kembali lagi ke tangannya Rasulullah, lalu Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam pun tersenyum sampai gigi gerahamnya terlihat. (Hal ini menandakan betapa bangga dan bahagianya Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam).
setelah itu Rasulullah shallallâhu ‘alaihi wa sallam mengatakan kepada Sayyidatuna Aisyah, “Perhatikanlah wahai Aisyah jubah yang aku punya ini. Ia bisa mengkayakan orang yang miskin (Faqir), ia bisa menyembuhkan orang yang sakit (buta), ia pun bisa memerdekakan budak dan kemudian kembali lagi kepada kita.” (SUBHANALLAH) Ini semua tidak lain melainkan berkahnya Rasulillah shallallâhu ‘alaihi wa sallam.
اَللَّهُمَّ صَلِّي عَلَىسَيّدنَامُحَمَّدٍوَعَلَىآلۓِسَيّدنَا مُحَمَّدٍ
(Kisah ini diriwayatkan ada dalam kitab “Adabul-Mufrad Lil-Imam al-Bukhari” dan juga banyak diriwayatkan seperti oleh Imam Suyuthi, Imam Abu Bakar al-Baqilani )
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang