Lembaga Gus Dur

4 May 2016

Oleh : KH. MUSTOFA BISRI

Tidak seperti umumnya organisasi lain, Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) boleh dikatakan lahir hanyalah mewadahi yang sudah ada. Sebelum jam’iyah NU lahir pada 1926, sudah ada komunitas atau jama’ah yang terdiri atas ulama dan para pengikut mereka. Itulah masyarakat pesantren. Struktur organisasi NU pun—berbeda dengan struktur umumya organisasi—lebih mirip dengan pesantren.Sementara di pesantren ada kiai sebagai pemimpin, pengendali, pengarah, dan seterusnya, di NU ada Syuriah.
 

Di pesantren, yang biasa melaksanakan kebkajakan kiai adalah lurah pondok atau pengurus pesantren atau gus (anak kiai).Mereka iilah yang di NU—setidaknya di awal-awal berdirinya—diwakili oleh lembaga Tanfidziyah. Sedangkan para santri, alumni pesantren, dan masyarakat santri adalah anggota pendukung jam’iyah NU ini. Karena keunikan inilah, sampai sekarang pun banyak pengamat yang tidak bisa menerjemahkan secara tepat istilah syuriah sebagai pasangan dari tanfidziyah. Maka tidak terlalu salah bila ada yang mengatakan pesantren adalah NU kecil dan NU adalah pesantren besar. Seperti diketahui, pendiri “organisasi pesantren” yang berbasis di desa-desa ini adalah Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari dan santri-santri seniornya yang dipelopori K.H. Abdul Wahab Hasbullah dan K.H. Bisri Sansuri. Para kiai dan pembantunya menjadi motor organisasi. Dan sampai sekarang, ketika NU sudah mulai “modern” dan banyak tokohnya yang berpindah ke kota, basis kekuatan NU masih tetap di pedesaan dengan kiai sebagai pemimpinnya. Tetapi tentu saja tak ada di dunia ini suatu makhluk yang tidak berubah, tak terkecuali kiai dan pesantren dan—pada gilirannya—NU.

Berbicara tentang perubahan yang terjadi dalam masyarakat pesantren atau NU itu, kita tentu tak bisa melewatkan seorang tokoh pesantren paling populer abad ini: Gus Dur. Lahir dengan Abdurrahmana Ad-Dakhil (tafa’ul dengan tokoh Dinasti Omayyah yang menaklukkan Andalusia) pada 4 Agustus 1940, secara nasab, Gus Dur memang tak tertandingi. Baik dari jalur ayah maupun ibu.presiden keempat RI ini adalah cucu tokoh NU pertama. Ayahnya, K.H. A.Wahid Hasyim, adalah salah satu “pembaru” NU dan pahlawan nasional, putra K.H. M. Hasyim Asy’ari, yang juga pahlawan nasional dan pendiri NU. Ibunya, Nyai Sholehah, adalah putri K.H. Bisri Sansuri, yang juga termasuk pendiri NU.Mereka semua adalah pejuang nasional yang diakui tidak hanya di kalangan NU.

Jadi, kalau gus merupakan panggilan atau gelar anak kiai, Gus Dur boleh dikatakan adalah gusnya gus. Ini saja, di kalangan pesantren dan NU, sudah merupakan suatu keistimewaan yang membuatnya dianggap—menurut istilah pers—tokoh karismatis yang sangat dihormati. Apalagi Gus Dur memiliki banyak keistimewaan lain yang sulit dicari duanya, seperti kecerdasan yang luar biasa serta bacaannya dan pergaulannya yang luas. Maka tidak aneh bila di pedesaan banyak yang menyebutnya wali dan di perkotaan banyak yang menyebutnya genius. Seandainya Tuhan tidak mengurangi potensi kekuatan hamba-Nya yang satu ini dengan mengurangi kemampuan fisiknya, entah apa jadinya. Mungkin akan lebih hebat pengaruh buruk bagi dirinya maupun bagi yang lainnya.Sekarang saja, sisa-sisa pengaruh keistimewaan-keistimewaan masih sangat dirasakan. Bila nama besar Bung Karno tempo doeloe—terutama di luar negeri melebihi Indonesia atau katakanlah Indonesia adalah Bung Karno dan Bung Karno adalah Indonesia, ada saatnya nama besar Gus Dur melebihi NU atau katakanlah NU adalah Gus Dur dan Gus Dur adalah NU. Dalam maqam yang seperti itu, Gus Dur terlalu besar di NU dan pasti jauh lebih besar di Partai Kebangkitan Bangsa yang disebut-sebut sebagai partai yang kelahiranya difasilitasi NU. Karena terlalu besar, Gus Dur tidak menyisakan ruang untuk yang lain, di NU, apalagi di PKB. Itulah sebabnya, Matori Abdul Djalil, yang pada mulanya mampu sedikit berkiprah di PKB, menjadi tak berfungsi saat Gus Dur menjadi Ketua Dewan Syura PKB. (Bahkan mungkin karena Gus Dur dipandang terlalu besar itulah banyak kiai yang tidak setuju ketika dulu Amien Rais dan kawan-kawan mendorongnya untuk menjadi presiden.

Pendek kata, Gus Dur sudah menjadi lembaga tersendiri yang agak repot bila masuk ke lembaga lain. Dan Gus Dur sebagai lembaga ini ternyata merupakan peluang yang bisa dimanfaatkan oleh mereka yag tidak punya akses ke lembaga lain. Mereka yang tidak punya akses ke NU, misalnya, bisa masuk lewat Gus Dur. Yang tidak punya akses ke PKB bisa melewati Gus Dur. Bahkan dukundukun yang kepingin laku dan tidak cukup mu’tabar di kalangan masyarakat bisa melalui Gus Dur. Maka gonjang-ganjing yang terjadi di PKB saat ini, yang membuat para kiai—yang setiap hari menjadi tumpuan keluhan umat bawah—termasuk Rais Am PBNU yang menjadi imam mereka, ikut repot, sebenarnya lebih bermula pada Gus Dur dan hanya bisa dihentikan oleh Gus Dur. Sebab, PKB pada hakikatnya adalah Gus Dur. Lebih dari itu, di PKB, hanya Gus Dur dan para kiai yang masih bisa diharapkan dapat mengerti dan menghormati umat di bawah yang diwakili para kiai di luar PKB. Seandainya bukan karena mencintai dan menghormati Gus Dur dan umat di bawah, mungkin para kiai tidak akan repot-repot mengurusi persoalan itu dan keadaan tidak semakin ruwet dan membingungkan seperti sekarang ini. Wallahualam. ( Akhmad Syofwandi)

*Sumber : Buku Membuka Pintu Langit. Hal. 114—117.
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang