Manajemen Makan dalam Islam

14 May 2016

OLEH: MINDYA RINA

Islam adalah rahmatan lil’alamin, itulah ungkapan yang paling tepat untuk menggambarkan nilai-nilai ajarannya. Islam mengatur segala hal dengan baik dan bijaksana, mulai dari urusan yang sederhana sampai pada urusan yang kompleks. Semua hal diatur sedemikian rupa sehingga memberikan manfaat yang luar biasa pada awal dan akhirnya.

Replika dapur rumah Rasulullah saw.
Salah satu urusan yang sepintas tampak sederhana tapi mampu membawa pengaruh besar dalam kehidupan manusia, yaitu urusan makan, sehingga dibutuhkan manajemen yang tepat untuk mengaturnya. Artikel ini akan membahas pentingnya menajemen waktu, pola, dan menu makan sehat sesuai yang dicontohkan Rasulullah saw dimana telah terbukti kemutakhirannya secara ilmiah dalam bidang kedokteran.

Dalam berbagai aktivitas dan pola kehidupannya, Rasullullah saw memang sudah dipersiapkan dan “dirancang” oleh Allah SWT untuk menjadi suri teladan (uswah hasanah) terbaik bagi semua manusia di muka bumi ini. Teladan ini mencakup semua pola kehidupan termasuk di dalamnya adalah pengaturan waktu, pola, dan menu makan. Memang urusan makan sepintas tampak sederhana tapi Rasulullah saw menaruh perhatian besar pada urusan yang satu ini. Beliau terbukti memiliki tubuh yang sehat, kuat, kekar, dan bugar sehingga Beliau hanya mengalami dua kali sakit sepanjang hidupnya. Pertama, ketika diracuni oleh wanita Yahudi. Kedua, pada saat menjelang wafatnya.

Umat Islam patut berbahagia berada di dalam naungan rahmat ini yang mengajarkan semua tentang hikmah. Hal ini telah membuat orang-orang di luar Islam merasa kagum, terkesan, dan bertanya-tanya tentang rahasianya. Keadaan ini terkisah ketika Romawi mengirimkan bantuan dokter ke Madinah. Akan tetapi,selama setahun, dokter-dokter tersebut mengalami kesulitan menemukan orang-orang sakit. Mereka bertanya kepada Rasulullah saw tentang rahasia kaum muslimin menjaga kesehatan sehingga jarang sekali sakit.

Kemudian, Rasulullah saw bersabda: “Kami adalah kaum yang tidak makan kecuali jika sudah betul-betul lapar dan apabila makan, kami berhenti sebelum kenyang.” (Al-Hadist).

Dalam sabdanya, beliau menambahkan; “Tidaklah anak cucu Adam mengisi wadah yang lebih buruk dari perutnya. Sebenarnya beberapa suap saja sudah cukup untuk menegakkan tulang rusuknya. Kalaupun dia harus mengisinya, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk napasnya.” (HR. Turmudzi, Ibnu Majah, dan Muslim).

Selain hadis di atas, dipertegas pula secara langsung dalam Al-Quran Surat Al-A’raf : 31 yang menjelaskan bahwa budaya makan berlebih-lebihan sangat dibenci Allah swt. Artinya:

Hai anak Adam, pakailah pakaian kalian yang indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, serta janganlah kalian berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” (Al-A’raf: 31)

Hadis dan ayat Al-Quran di atas telah menghimpun beberapa aturan kesehatan dan merangkumnya secara apik bahwa kunci kesehatan kaum muslimin adalah tidak berlebih-lebihan dalam urusan makan, yaitu dengan porsi sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum, dan sepertiganya lagi untuk nafas. Jika lambung kita penuh dengan makanan, kerja tubuh kita akan terbebani dan terpicu untuk meningkatkan kerja.

Secara fisiologis, semakin besar daya kerja yang dilakukan, maka semakin besar pula energi pembakar yang diperlukan. Sember energi pembakar tersebut adalah oksigen yang didapatkan dari proses bernafas. Dengan demikian, seseorang akan menambah respiratory rate (kecepatan bernafas) sehingga sering kali membuat orang merasa cepat lelah dan mengantuk. Efek lebih lanjutnya yaitu tidak produktif dalam bekerja dan munculnya keinginan kuat untuk tidur dan malas gerak. Hal ini akan menjadi pintu gerbang datangnya penyakit, seperti diabetes, jantung, tinggi kolestrol, dll.

Tidak diragukan lagi bahwa makan dengan porsi dan gizi seimbang merupakan asuransi kesehatan terbaik bagi kaum muslimin. Namun parahnya, dapat kita bandingkan dengan kondisi saat ini dimana banyak sekali kaum muslimin yang terjangkit penyakit mengerikan. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar sebenarnya faktor apa yang menyebabkan munculnya beragam penyakit aneh tersebut. Setelah ditelusuri, ternyata waktu, pola, dan menu makan merekalah yang menjadi pemicu terbesar timbulnya penyakit aneh saat ini.

Sudah menjadi kewajiban kaum muslimin untuk menjaga pola dan menu makan sebagaimana yang telah dicontohkan Rasulullah saw karena Islam mengajarkan umatnya untuk menjadi kaum yang kuat. Rasulullah saw telah menjadi bukti tentang pentingnya mengatur waktu, pola, dan menu makan tersebut. Aktivitas-aktivitas Rasulullah sangatlah sarat dengan upaya-upaya besar membangun peradaban Islam. Sudah tentu upaya-upaya tersebut harus didukung dengan stamina yang prima. Ternyata, faktor desisif penujang fisik prima Rasulullah adalah kecerdasan beliau mengatur waktu, pola, dan menu makan.

Waktu, pola, dan menu makan sering kali dikaitkan erat dengan pengobatan (curing) karena makanan berhubungan dengan proses penyampaian nutrisi dan metabolisme dalam tubuh. Ada dua metode pengobatan yang dikenal dalam bidang kedokteran, yaitu:

a. Metode Pencegahan (preventif/ Ath Thib Al Wiqo’i);

yaitu metode pengobatan yang dilakukan sebelum terjangkit penyakit. Metode inilah yang paling mudah dan murah untuk dilaksanakan. Salah satunya adalah dengan cara melakukan manajemen waktu, pola, dan menu makan.

b. Metode kuratif (Ath Thib Al ‘Ilaji);

yaitu metode yang dilakukan setelah terjangkit suatu penyakit. Dari kedua meode di atas, yang paling efektif, tepat, dan penting untuk dilakukan adalah metode preventif. Mungkin sudah tidak asing lagi di telinga kita pepatah yang menyatakan bahwa “mencegah lebih baik dari pada mengobati”.

Dengan melakukan manajemen terhadap waktu, pola, dan menu makan sesuai tuntutan Rasulullah saw ini, berarti kita telah melakukan metode preventif yang tepat dalam pencegahan penyakit. Prof. Dr. Musthofa Romadhon telah memberikan gambar terkait pola hidup sehat Rasulullah saw berdasarkan beberapa riwayat tepercaya.

Berikut merupakan cara Rasulullah saw dalam mengatur hidup sehatnya melalui manajemen waktu, pola, dan menu makan beliau;

1. Asupan pertama Rasulullah adalah udara segar di sepertiga malam terakhir.

Beliau melaksanakan qiyamul lail sebelum adzan subuh berkumandang. Para ahli kesehatan mengatakan bahwa udara di sepertiga malam terakhir mengandung oksigen segar dan belum terkontaminasi dengan polusi sehingga akan memberikan manfaat besar ketika proses metabolisme makanan dalam tubuh. Asupan ini sangat berpengaruh terhadap vitalitas tubuh seseorang dan berfungsi sebagai sumber energi terbaik untuk aktivitas hariannya. Dapat kita bandingkan dengan seseorang yang telat bagun tidur, tentu dia akan mudah terserang penyakit malas sehingga aktivitasnya tidak optimal.

2. Rasulullah saw sangat telaten menjaga kesehatan mulut dan giginya.

Ini sebab mulut dan gigi merupakan pintu gerbang pertama yang dilewati oleh makanan. Apabila mulut dan gigi tidak dijaga kebersihannya, maka secara langsung makanan yang masuk ke dalam lambung akan terkontaminasi. Untuk itu, Rasulullah memeberikan perhatian besar pada kebersihan mulut dan giginya. Rasulullah saw biasa menggunakan Siwak untuk membersihkan mulut dan giginya. Siwak sangat bermanfaat untuk menjaga kebersihan gusi dan gigi karena mengandung flour alami. Sedangkan pasta gigi yang banyak beredar di masyarakat saat ini adalah flour sintetik yang masih berbahaya bagi kesehatan. Saat ini Siwak sudah tersedia dalam bentukpasta sehingga praktis dan mudah digunakan.

3. Rasulullah saw membuka makannya di pagi hari dengan segelas air dingin yang dicampur dengan sesendok madu asli.
Campuran ini memiliki khasiat yang sangat baik. Seperti yang sudah kita ketahui bahwa madu merupakan as-syifaa (obat) bagi berbagai penyakit. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh ahli kesehatan, madu berkhasiat untuk membersihkan lambung, mengaktifkan usus-usu, dan mengobati sembelit, wasir, dan peradanagan. Madu juga mengandung mikronutrisi sangat dibutuhkan oleh tubuh.

4. Ketika masuk waktu Dhuha (pagi menjelang siang), Rasulullah saw selalu mengonsumsi tujuh buah butir kurma ajwa’ (matang).

Rasulullah saw pernah bersabda, “Barang siapa yang makan tujuh butir kurma, maka akan terlindung dari racun”. Khasiat ketujuh kurma ini terbukti mampu menghalau racun dalam tubuh. Ketika wanita Yahudi meracuni makanan Rasulullah dalam percobaan pembunuhan di Perang Khaibar, Rasulullah saw selamat (hanya mengalami sakit) karena racun tersebut dapat dinetralisir oleh zat-zat anti toksik yang dikandung oleh buah kurma. Sementara itu, Bisyir ibnu al Barra’, salah seorang sahabat yangikut memakan makanan yang sama, akhirnya meninggal dunia. Kemudian Rasulullah saw mengatakan bahwa kurma adalah rahasianya.

5. Kemudian menjelang sore hari, Rasulullah saw mengonsumsi campuran cuka, roti, dan minyak zaitun.

Campuran ini sangat berguna sekali untuk mencegah osteoporosis, kepikunan di hari tua, melancarkan sembelit, menghancurkan kolesterol, melancarkan proses pencernaan, mencegah kanker, dan menjaga suhu tubuh di musim dingin.

6. Pada malam hari, menu utama makan malam Rasulullah adalah sayur-sayuran.

Secara umum, sayuran memiliki kandungan zat dan fungsi yang dapat menguatkan daya tahan tubuh dan melindunginya dari serangan penyakit. Kemudian Rasulullah saw tidak langsung tidur setelah makan malam. Beliau melakukan aktivitas terlebih dahulu agar makanan yang beliau makan dapat tercerna dengan baik di dalam lambungnya. Aktivitas yang biasa beliau lakukan yaitu melaksanakan shalat sebelum tidur. Ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw. berikut. “Cairkan makanan kalian dengan berdzikir kepada Allah SWT dan shalat, serta janganlah kalian langsung tidur setelah makan, karena dapat membuat hati menjadi keras.” (HR Abu Nu’aim dari Asyah r.a.)

Pola makan Rasulullah saw ternyata sangat sesuai dengan irama biologis tubuh, yaitu sesuai dengan siklus percernaan makanan yang telah ditetapkan oleh para dokter atau yang biasa disebut circadian rhytme (irama biologis). Ini menjadi bukti bahwa sumber ilmu kedokteran terkait asupan gizi berasal dari nilai-nilai Islam. Jadi, jelaslah sudah bahwa Islam itu ilmiah. Untuk segala hal, termasuk urusan makan yang sepintas terkesan sangat sederhana, harus menjadi perhatian penting karena pengaruhnya juga sangat besar bagi kehidupan manusia.

Inti dari manajemen waktu, pola, dan menu makan itu sendiri, yaitu tidak berlebihan (isrof) ketika makan dan minum. Artinya, konsumsinya harus diatur dengan porsi sepertiga untuk makan, sepertiga untuk minum, dan sepertiga sisanya untuk bernafas. Untuk itu, manajemen waktu, pola, dan menu makan sangat perlu dilakukan untuk mencapai ke-tawazun-an nilai gizi. Semoga kita dapat mengubah pola menejemen makan kita sebelumnya, karena kita tergantung pada apa yang dimakan dan bagaimanacara memakannya. Wallahu a’lam bishowab. [Zq]

*Penulis adalah mahasiswi Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia. Sumber tulisan dari Kompasiana dengan judul "Manajemen Waktu, Pola, dan Menu Makan: Antara Kedokteran dan Islam"
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2016 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang