Prie GS: Sekolah Umum atau Pesantren, Saya Akan Memilih Pesantren.

8 May 2016

OLEH: PRIE G. S.

Saat telepon dari Gus Yusuf, pengasuh Pondok Pesantren Tegalrejo itu datang, saya baru usai sowan KH Hasyim Muzadi di pesantren Al Hikam, Depok. Sedang sakit sebenarnya beliau. Masih lemah dan pucat, geraknya masih serba lambat dan hampir saja kami membatalkan acara syuting televisi yang telah kami jadwalkan.


Tak tega sebenarnya melihat beliau harus bersabar menunggu centang-perenang persiapan syuting yang memakan waktu itu. Saya sebagai pemandu acara, adalah pihak paling langsung menerima reaksi dari berbagai narasumber setiap mereka tak berkenan atas segala sesuatu. Tetapi sejauh itu, reaksi Kiai Hasyim sangat stabil. Ketika acara berlangsung, logika keilmuannya megalir deras. Humor sesekali nyelip di fatwanya yang pelan. Cadangan kata-katanya mengalir dan kaya. Tugas saya akhirnya hanya membuka, menutup dan sedikit sekali menyela, itupun hanya untuk kepantasan. Narasinya padat dan selaan pertanyaan hanya akan mengganggu aliran.

Di hadapan Sang Kiai meriung para santri muda. Seluruhnya adalah penghafal Quran. Setiap Kia Hasyim mengutip ayat dan agak tersendat ingatan, para santri itu refleks menyambarnya. ‘’Yang harus hafal mereka, bukan saya,’’ kata Kiai Hasyim yang disambut tawa santri-santrinya. Saya hanya melempar satu kata di setiap tema, misalnya: Haru, dan Kiai Hasyim akan membedahkan secara luas dan dalam. Ramadhan mendatang aneka narasi itu bisa Anda simak sendiri di televisi. Di balik kesehatannya yang masih payah, Sang Kiai melayani kami sampai tujuh episode. Saya tanyakan kepadanya: ‘’Bagaimana para kiai sepuh rata-rata memilki energi yang memukau?’’ ‘’Karena nyantri,’’ jawabnya.

Sementara telepon Gus Yusuf itu hendak mengabarkan tentang heboh di pesantrennya Tegalrejo saat Presdien Jokowi berkunjung relatif medadak. Pangkalnya bermula kuis yang dilempar Presiden untuk para santri dengan hadiah sepeda gunung. Tiga ‘’menteri’’ di kabinet sekarang yang dihafal santri yang maju itu ternyata adalah: pertama, Megawati (tentu audiens tergelak), kedua Prabowo (tambah tergelak) dan ketiga Ahok (makin tergelak). Maaf kalau urutannya terbalik. Jawaban ini memiliki kandungan humor yang rumit, karena nilai apa saja nyaris lengkap tersedia. Gus Yusuf merasakan kemudian, bahwa yang terjadi di luaran bukan hanya gelak tawa melainkan juga sinisme pada dunia santri. Dan pandangan pribadi saya soal ini ialah:

Sejarah pendidikan hingga saat ini, pendidikan paling modern sekalipun, ternyata adalah sistem yang belum usai dan terus mengalami koreksi. Maka tak ada pendidikan yang tak memiliki kekurangan, tak terkecuali pesantren. Tetapi jika di dunia ini hanya harus ada satu saja pilihan dari dua pilihan: sekolah umum atau pesantren, saya akan memilih pesantren. Saya tidak dilahirkan dari budaya pesantren, dan kekaguman saya pada dunia santri sangat terlambat, dan baru akhir-akhir ini.

Bagi saya, tak mendesak bagi santri-santri, apalagi semuda penjawab kuis itu, untuk hafal nama-nama menteri. Saya pun tak hafal. Dan target para menteri mestinya memang bekerja, bukan agar orang menghafal namanya. Setahu saya, di pesantren Tegalrejo, santri dilarang memiliki HP dalam kurun waktu tertentu. Ini sungguh sebuah tirakat berat. Sebuah tirakat demi menuju ilmu tertentu walau sejenak mereka harus tertinggal oleh ilmu yang lain, yang menurut mereka sekunder kedudukannya. Jadi, jika seseorang sedang menuju primer dan risikonya harus tertinggal di soal-soal sekunder, bagi saya itu sungguh kabar gembira. Ini adalah zaman ketika yang skunder bisa diprimerkan dan yang primer diskunderkan. Santri adalah dunia yang harus teguh pada soal-soal primer.

*Penulis adalah budayawan, sumber tulisan: artikel berjudul "Jokowi dan Santri" di laman Facebook Prie GS - Refleksi -
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang