Rasulullah Pengusaha atau Pekerja?

1 May 2016

OLEH: MUHAMMAD AL-FAYYADL

Selama sekian waktu lamanya, citra Rasulullah Muhammad, shallallahu ‘alaihi wasallam, dikoloni oleh aparat-aparat ideologis kapitalisme (cendekiawan liberal, motivator bisnis, ekonom-politik Islam) dengan citra pengusaha sukses dan pebisnis handal yang berdagang untuk meraih laba sebanyak-banyaknya. Maka mereka pun mengajarkan kepada pemuda-pemudi Muslim, “tirulah Rasulullah, jadilah pengusaha kaya dan sukses, hidup senang di dunia, masuk surga di akhirat”. Dengan kata lain, suatu sosok ideal bagi “homo economicus” ala Adam Smith, dalam versi Islam.

Citra yang sama sekali meleset.

Pertama, Rasulullah tidak memiliki modal harta, syarat bagi setiap pengusaha dan kapitalis. Keikutsertaan beliau—shallallahu ‘alaihi wasallam—ke Syam (Syria) semata untuk menemani dan membantu pamannya, Abu Thalib. Ketika itu beliau berusia 12 tahun, terlalu kecil untuk menjadi seorang niagawan. Sepulang dari Syam, beliau kembali ke pekerjaan utamanya, menggembalakan kambing. Bahkan kambing-kambing gembalannya pun bukan miliknya.

Perjalanannya kedua kalinya untuk memperdagangkan barang-barang dagangan Khadijah RA ke Syam juga bukan karena beliau memiliki modal. Semata karena keinginannya membantu Abu Thalib, yang miskin dan memiliki banyak putra, beliau mau membantu Khadijah.

Kedua, karena tidak memiliki modal, maka relasi kerja yang beliau jalani di periode yang singkat itu adalah relasi kerja berdasarkan upah. Maka beliau lebih tepat menyandang posisi pekerja, meskipun bukan pekerja dalam pengertian modern (buruh).

Dari menggembala kambing milik keluarga besar Abdul Muththalib dan warga Mekkah, beliau mendapatkan upah, yang akan beliau serahkan kepada pengasuhnya yang terkasih, Abu Thalib. Khadijah RA juga memberinya upah kira-kira empat ekor anak unta. “Upah” terbesar yang diberikan Khadijah kepadanya adalah mahar dan lamarannya untuk menikah — tapi itu tentu bukan upah yang dimaksud, semata balasan atas kebahagiaan yang telah beliau hadiahkan kepada Khadijah atas kejujuran dan pesona budi pekertinya.

Sebagai sesama pekerja, beliau dekat sekali dengan Maysarah, hamba Khadijah RA. Mungkin itu “solidaritas” sesama pekerja pertama yang tercatat dalam kehidupan Rasul. Selain dengan kawan-kawan kecil penggembalanya.

Tidak ada bukti historis yang menunjukkan bahwa beliau adalah seorang pengusaha atau pebisnis. Bagaimana mungkin disebut pengusaha ia yang hidup dengan etos kefakiran dan suatu saat berkata: “Kami adalah golongan yang hanya makan bila merasa lapar, dan bila makan tidak sampai kenyang”?

Dengan kata lain, keyakinan bahwa Rasulullah adalah seorang pengusaha adalah sebuah mitos. Mungkin saja suatu dusta. Dusta yang diciptakan oleh kapitalisme, semata-mata untuk menerima keberadaan sistem ini. Dan kita tahu suatu saat balasan apa yang akan diterima orang-orang yang berbuat dusta tentang Rasul. [Zq]

*Sumber: Dinding Facebook Muhammad Al-Fayyadl
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2016 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang