Syaikhah Bahiyyah, Ulama Wanita Buta dari Maroko Itu Telah Wafat

26 May 2016

SANTRIJAGAD – Ulama besar wanita ini lahir pada 1908 atau 1326 H di kota Meknas, Maroko. Syaikhah Bahiyyah bintu Hasyim al-Quthbiyyah al-Filaliyah menjadi salah satu pembesar ulama yang sangat langka di zaman ini. Ia menghapal Al-Qur’an pada usia 14 tahun di bawah asuhan al-Qadi Muhammad bin Ahmad al-Ismaili al-Alawi, serta mengaji berbagai ilmu agama kepada para ulama di tana kelahirannya. Pada usia 18 tahun, ia menunaikan ibadah haji sambil mengaji kepada para ulama Tanah Hijaz.
Syaikhah Bahiyyah
Pada tahun 1955 atau 1374 hijriah, Syaikhah Bahiyyah merantau ke Tunisia untuk mengaji selama 5 tahun di kampus ternama; Zaitunah. Ia menjadi satu-satunya mahasiswi (perempuan) di sana pada saat itu. Di sana, ia menjadi murid dari salah satu ulama besar abad 20, Syaikhul Islam At-Thair Ibnu Asyur (w. 1973/1393H). Seusai lulus, ia diminta untuk tinggal namun menolak dan memilih pulang ke negerinya.

Semasa hidup, Syaikhah Bahiyyah mengabdikan dirinya bagi ilmu agama, baik untuk belajar maupun mengajar. Banyak sudah ulama besar yang ia datangi untuk belajar. Ia mengaji tafsir Shahih Bukhari kepada al-Haj Muhammad al-Susi, mengaji Shahih Bukhari kepada al-Haj Ibnu Isa al-Khalti, mengaji Shahih Muslim dan Ushul Fiqh kepada Syaikh Al-Zahirani, mengaji Ajurumiyyah kepada Ahmad bin Siddiq al-Meknasi, mengaji Alfiyyah Ibnu Malik dan Risalah Ibnu Abi Zaid kepada Mawlaya As-Syarif Ibnu Ali al-Alawi, mengaji ulumul hadits kepada As-Sayyid Abdul Hadi Al-Mannuni, mengaji tafsir kepada Al-Mukhtar Al-Sintisi, serta ilmu-ilmu agama lainnya kepada Abdul Hafiz al-Fasi al-Fihri. Di Tunisia, ia mengaji balaghah dan tafsir kepada At-Tahir Ibnu Asyur maupun putranya, mengaji ulumul hadits kepada Ibnu Khawjah, mengaji sejarah kepada Muhammad al-‘Aziz, serta ilmu-ilmu lain kepada Muhammad al-Khidr Husain. Guru terbesarnya yakni At-Tahir Ibnu Asyur dan ‘Allamah Muhammad Taqiyuddin al-Hilali (w.1987/1407H).

Hal yang mengagumkan adalah, meskipun Syaikhah Bahiyyah adalah seorang tunanetra (buta), namun tak menyurutkan langkahnya dalam pengabdian keilmuannya. Ia hapal Qur’an, Shaih Bukhari, dan Muwatta, serta banyak kitab lainnya. Ia bahkan memiliki satu jilid mushaf Al-Qur’an dalam aksara Braille dengan qiraat Imam Warsy yang ia tulis dengan tangan sendiri. Subhanallah!
Mushaf tulisan Syaikhah Bahiyyah
Syaikhah Bahiyyah hidup dalam keadaan relatif miskin, jauh dari ketenaran, sampai akhirnya beberapa tahun belakang dikuak kebesarannya oleh dua ulama ternama, yakni Syaikh Hasan Ali al-Kattani dan Syaikh Muhammad Daniel Muhajir. Sejak saat itu, banyak peziarah datang mengunjungi beliau untuk mengaji dan terkesima dengan kekuatan hapalannya meskipun sudah berusia 108 tahun.

Di masa sepuhnya, Syaikhah Bahiyyah senantiasa khalwat, zikir, berpuasa dan shalat di Masjid Agung Meknas. Setiap orang yang ingin sowan kepada beliau, harus ke masjid untuk bertemu. Di akhir hayat, beliau jatuh sakit dan tak mampu ke masjid lagi, namun rumahnya senantiasa terbuka bagi para tamu dan santri. Beliau kerap mengijazahkan sanad kepada para santri dengan cap jempol, bukan tanda tangan, sebab buta.
Ijazah yang ditandai cap jempol Syaikhah Bahiyyah
Berdasarkan penuturan keluarga, semasa akhir hayat bibir beliau selalu mengucap nama Allah, shalawat kepada Nabi, ayat-ayat Quran dan hadits, serta nasehat-nasehat. Beliau wafat pada hari Senin, 23 Mei 2016 pada usia 108 tahun (atau 111 tahun menurut kalender hijriah). Semoga Allah merahmati jiwa beliau. [Zia]

*Sumber: IlmFeed
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang