Wanita Salehah Bagai Gagak Putih

3 May 2016

Al-Imam al-Ghazali memisalkan gadis jelita dan salehah bagaikan 'gagak putih'. Ia jarang ada dan tak bisa diburu, hanya kesalehan pulalah yang bisa mempertemukanmu dengan gadis semacam itu. Mungkin kisah ini adalah salah satu contohnya.

White Crow karya perupa asal New Mexico, Sol Luckman

Shah Syuja' memiliki seorang anak perempuan yang cantik jelita. Raja-raja dari Kerman silih berganti melamar putrinya itu. Namun Shah Syuja' meminta waktu tiga hari untuk memutuskan, ia tak mau salah menikahkan putrinya.

Dalam tiga hari itu dia berkeliling dari masjid ke masjid. Ketika sampai di suatu masjid, ia melihat seorang darwis sedang khusyu bermunajat. Ia menunggu sang darwis menyelesaikan ritualnya, lalu dihampirinya dan ditanyakan;

"Mas, Sampean sudah berkeluarga?"

"Belum, Pak."

"Nah! Sampean mau nggak nikah sama seorang gadis yang hobinya nderes Quran?"

"Woalah! Mana ada yang mau menikahkan gadis seperti itu sama saya ini. Lagian, saya ini kismin, cuma punya duit tiga dirham doang, Pak."

"Oke, akan saya nikahkan anak saya sama Sampean!"

"Lhoh!?"

"Beneran! Biar duit Sampean yang satu dirham buat beli roti, satu dirham buat beli minyak wangi, satu dirham sisanya disimpan aja. Gimana?"

Si darwis itu pun setuju. Ini adalah kehendak Tuhan yang tak bisa dia tolak, pikirnya. Akhirnya, menjelang pernikahan, si anak diantar oleh ayahnye menuju rumah si darwis. Begitu masuk ke ruang tamu, gadis itu melihat sekerat roti kering di samping mangkuk berisi air. Ia pun bertanya;

"Roti siapa ini?"

"Rotiku," jawab si darwis miskin, calon suaminya, "Itu roti kemaren, Dik.. Aku sisakan kemaren buat dimakan hari ini."

Si gadis terkejut. Ia pun memutuskan untuk pulang dan mengatakan kepada ayahnya tidak mau menikah dengan pemuda darwis itu.

"Ya sudahlah.. Pak Syuja', anak gadis Sampean mana mau hidup bersama saya dengan segala kemiskinan ini, saya tahu, ia tak akan kuat.." ucap si darwis dengan nada datar.

"Eh, bukan itu alasanku!" potong gadis itu.

"Lalu kenapa?"

"Bukan karena kau miskin aku menolakmu. Tapi karena lemahnya keyakinanmu kepada Tuhanlah yang membuatku menjauh."

"Maksudmu, Dik?"

"Kau menyimpan roti kemarin untuk dimakan hari ini, kau tidak mempercayakan rejekimu untuk esok kepada Tuhan. Ada yang rusak di dalam keyakinanmu. Aku juga heran dengan ayahku, selama bertahun-tahun ia menahanku dan berjanji akan menikahkanku dingan pria bertakwa, eh hari ini malah menyerahkanku kepada pria yang tidak mempercayakan rezeki hariannya kepada Tuhan."

Dua lelaki itu terpana mendengar penjelasan si gadis. Si darwis memberanikan diri bertanya;

"Kalau kau anggap ini dosa, Dik. Lalu adakah penghapus bagi dosa ini?"

"Ya, ada," jawabnya, "Sisakan di rumah ini satu saja dari dua hal: roti kering itu ataukah aku."

Kisah ini 'hanya' suatu kejadian di masa lalu. Dan variabel keyakinan kepada jatah rezeki dari Tuhan tentunya berbeda di zaman sekarang. Namun satu hal yang akan selalu relevan adalah: bagaimana pertimbangan gagak putih tentang dimana dia akan menambatkan hatinya; bukan keadaan lahir melainkan kemapanan batin. [Zq]

*Sumber: Dr. Tahir Ul Qadri, 'Spiritualism and Magnetism' halaman 90-91, Minhaj Ul Qur'an Publication Lahore, Pakistan. Diterjemahkan oleh: Zia Ul Haq.
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang