Ngaji Pasanan Mbah Maimun: Jenis-jenis Sabar

25 June 2016

OLEH: KH. MAIMUN ZUBAIR

Ada berbagai jenis sabar. Pertama, sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah. Sabar dalam hal ini membuahkan hasil berupa melanggengkan ketaatan dan mengokohkannya.

وأمر أهلك بالصلاة واصطبر عليها

Kedua, sabar terhadap putusan hukum Allah.

واصبر لحكم ربك

Ketiga, sabar dari melakukan kemaksiatan. Sabar dari hal ini merupakan lantaran dan wasilah untuk meninggalkan kemaksiatan.

إنه من يتق ويصبر فإن الله لا يضيع أجر المحسنين

Keempat, sabar atas cobaan dan bala yang menimpa. Sabar atas hal ini membuahkan hasil berupa tunduk kepada keputusan Allah.

واصبر على ما أصابك * والصابرين على ما أصابهم

Kelima, sabar atas cobaan yang berjumlah lima yang disebut Allah dalam satu ayat (al-Baqoroh: 155). Yaitu: rasa takut, kelaparan, kurangnya harta, jiwa maupun buah-buahan.

ولنبلونكم بشيئ من الخوف والجوع ونقص من الأموال والأنفس والثمرات وبشر الصابرين.

Keenam, sabar atas ucapan-ucapan yang menyakitkan. Hal ini akan membuahkan hasil berupa melatih hati untuk menahan marah dan tetap berbuat baik kepada orang yang menyakiti, walaupun berkuasa untuk membalas perbutaannya.

واصبر على ما يقولون * ولتسمعن من الذين أوتوا الكتاب من قبلكم ومن الذين أشركوا أذى كثيرا وإن تصبروا وتتقوا فإن ذلك من عزم الأمور

Ketujuh, sabar karena kehilangan kekasih. Kadar balasan baik atas sabar karena kehilangan kekasih menurut kadar cinta kita kepadanya. Semakin cinta kepadanya, maka pahala atas sabar karena kehilangannya semakin besar.

قال بل سولت لكم أنفسكم أمرا فصبر جميل والله المستعان على ما تصفون.

Kedelapan, sabar karena kehilangan penglihatan. Allah berfirman dalam hadist qudsi: “Barang siapa aku coba dengan (kehilangan) kedua penglihatannya yang tercinta kemudian ia sabar, maka baginya surga.”

من ابتليته بحبيبتيه فصبر فله الجنة

Kesembilan sabar dari sebagian perkara yang diperbolehkan (mubah). Al-Qur'an mencontohkan bahwa menikah dengan budak perempuan itu diperbolehkan bagi orang yang takut terjerumus zina, akan tetapi dia tidak mempunyai biaya menikah dengan perempuan merdeka. Akan tetapi dia sabar dengan tidak menikah dengan budak itu lebih baik dari pada menikah dengan budak, sebab anak-anak hasil dari pernikahan dengan budak pun akan berstatus menjadi budak. Sebab dengan tidak adanya menikah dengan budak akan menyelamatkan anak-anaknya dari perbudakan.

ذلك لمن خشي العنت منكم وأن تصبروا خير لكم.

Kesepuluh, sabar atas kekalahan dalam hal materi. Dunia tidaklah mempunyai harga bagi orang yang berpangkat al-‘arif (orang yang mengenal Allah dan mengetahui hinanya dunia). Tidak ada satu detikpun melihat kepada dunia, sehingga ia tidak sampai dikatakan sabar karena kehilangan dunia, bahkan ia menganggap suatu kenikmatan dan anugrah yang besar saat kehilangan dunia. Ia bersyukur saat kehilangan materi. Akan tetapi orang yang sudah berpangkat al-‘arif pun terkadang tertimpa suatu lupa, sehingga sifat watak aslinya sebagai manusia menjadikan hatinya sedikit goncang saat tertimpa cobaan berupa kehilangan. Dalam keadaan seperti ini, maka al-‘arif pun perlu menghadapi cobaan yang menimpa dengan sabar.

قال صلى الله عليه وسلم للأنصار: إنكم ستلقون بعدي أثرة فاصبروا حتى تلقوا الله ورسوله فإني على الحوض.

Balasan atas sabar tergantung pada sebesar apa perkara yang disabari. Sabar atas ketaatan yang paling utama tentu berpangkat paling tinggi. Sabar atas cobaan besar yang menimpa tentu berada pada pangkat yang tinggi pula. Begitu pun sabar dari maksiat, akan mempunyai balasan sebagaimana besar kecilnya sabar dari maksiat yang ditinggalkan. [Zq]

*Artikel ini merupakan kutipan pengajian bakda tarawih bersama KH Maimun Zubair di Musholla al-Anwar, Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang Rembang, Rabu Wage 3 Romadlon 1437H/ 8 Juni 2016M. Ditulis oleh Kanthongumur, disunting oleh Santrijagad.
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang