Ketika Fatayat-Muslimat Bisa Mandiri dan Berdaya di Desa

18 October 2016

OLEH: ZIA UL HAQ

Di desa Tuwel, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal, ada 19 majlis ta'lim ibu-ibu Fatayat-Muslimat NU dengan jumlah anggota 1.137 wanita. Setiap majlis ta'lim menggelar pengajian tiap pekan. Selapan sekali, semua majelis ta'lim menggelar pengajian bersama di masjid Tuwel. Pengajian ini ditata di bawah naungan para asatidz Bustanul Khairat asuhan 'amminal mukarrom KH. Ali Ghufran.

Dalam setiap pertemuan ada iuran anggota. Dalam satu periode, pemasukan bisa sampai 70 juta rupiah. Ibu-ibu ini paham betul bahwa organisasi takkan berjalan tanpa kemandirian dana sebagai penyokongnya.
Ibu-ibu Fatayat-Muslimat NU dalam
Karnaval Muharram Desa Tuwel

Setiap bulan Sura, Fatayat-Muslimat desa Tuwel menghelat gawe, berupa pengajian umum dengan berbagai rangkaian acara, tentunya termasuk laporan organisasi. Pada Suranan tahun ini digelar berbagai acara syi'ar. Mulai dari pawai obor anak-anak madrasah semalam, pawai ta'aruf Fatayat Muslimat pagi harinya, sunat massal, santunan fuqoro, dan pengajian umum hingga Dzuhur.

Momen pengajian ini juga dihadiri Fatayat-Muslimat sekecamatan Bojong. Di sini, pengurus majlis ta'lim menyampaikan laporan organisasi secara rinci. Dalam momen ini pula, camat kecamatan Bojong mensosialisasikan program Dana Desa dari pemerintah pusat, di kecamatan ini sudah empat desa yang terkucur lunas. Beliau juga mendorong agar kucuran dana ini bisa dimanfaatkan serta diawasi betul oleh ibu-ibu Fatayat-Muslimat.

Hal ini juga ditegaskan oleh wakil bupati Tegal, Hj. Umi Azizah, warga Tuwel yang merupakan ketua umum Muslimat NU Kabupaten Tegal. Beliau merasa bungah karena semakin hari Fatayat-Muslimat semakin terasa manfaatnya secara nyata bagi lingkungan sekitar. Hal ini tak lepas dari kreativitas dan kepekaan sosial ibu-ibu anggotanya. Beliau berharap agar gerakan ibu-ibu ini bisa memanfaatkan Dana Desa secara serius, apalagi kecamatan Bojong terhitung wilayah miskin di kabupaten ini, diukur dari tingkat pendidikan yang rendah, produktivitas pertanian yang menurun, maupun tingkat perceraian tinggi sebab pernikahan dini.

Memang harus diakui bahwa ibu-ibu Fatayat-Muslimat NU desa Tuwel ini begitu cerdas dalam memanfaatkan modal. Iuran 65 ribu per anggota per tahun yang mencapai puluhan juta itu dialokasikan untuk memberdayakan anggota. Ada berbagai pelatihan yang diadakan, produksi jajanan khas desa, pengelolaan 2 PAUD dan 6 TK Masyithoh, hingga beasiswa rutin bagi anak-anak tak mampu.

Dan pada momen Suranan ini, ada sunat masal gratis dan santunan sebesar 30 juta rupiah bagi fuqara dan orang-orang sepuh. Saat kemarin ikut bantu Ibu ngisi amplop di rumah, kulihat jumlah santunan ada empat ratus amplop lengkap dengan data nama-nama mustahiqnya.
Belum lagi kalau nanti suntikan Dana Desa bisa dimanfaatkan lebih optimal. Tentu bisa memakmurkan desa-desa dalam segala sisi, baik pendidikan, ekonomi, dan sosial.

Oiya, satu lagi. Semua itu diurus penuh oleh kaum Hawa secara mandiri, profesional, dan transparan. Kaum Adam sangat mendukung dan mengapresiasi kegiatan para muslimah ini. Karena kami percaya, bahwa pemberdayaan dengan gelondongan dana kolektif semacam ini, ibu-ibulah 'jago'-nya!

*Penulis adalah warga desa Tuwel, kecamatan Bojong, Tegal, Jawa Tengah.
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang