Pilih Mana: Jadi Juru Damai atau Provokator Kebencian?

18 October 2016

OLEH: RIJAL MUMAZZIQ Z.

Di akhir 2001, saat mengikuti tes kenaikan tingkat/sabuk dari merah muda (jambon) ke sabuk hijau dalam prosesi latihan PSHT Ranting Mojorejo, Jetis, Ponorogo, saya dan para siswa lain (termasuk Ustadz Dedi Dhiwany) dihajar habis-habisan oleh senior kami, para warga PSHT. Fisik rasanya remuk, dan kami hanya bisa misuh-misuh dalam hati akibat "penyiksaan" ini. Hahaha.

Beberapa hari usai digebuki, menjelang latihan rutin kami diajak ngobrol ringan oleh Mas Bashori, pelatih yang kami cintai karena rasa ngemongnya dan caranya mendidik jiwa kami.

"Bagaimana, sakit?"

"Ya, mas." kami menjawab serentak.

"Ketika kalian merasakan sakit karena pukulan dan tendangan, maka sudah seharusnya kalian berpikir bahwa jangan sembarangan mengumbar amarah, jangan sembrono memukul dan menendang, karena sebagaimana yang kalian rasakan kemarin lusa, ditendang dan dipukul itu sakit. Paham?!"

"Nggih, mas."

Mungkin karena cara mendidiknya yang baik dan penekanan aspek ruhani dan persaudaraan yang dinomorsatukan, nyaris tidak pernah dijumpai anak didik Mas Bashori yang terlibat bentrokan dengan perguruan lain, apalagi tawuran dengan warga kampung. Dua peristiwa yang sering terjadi, dan sesungguhnya sangat memalukan.

Apa yang saya rasakan: dipukul, ditendang, dan dipulasara sedemikian rupa diam-diam mengendap dalam jiwa bahwa kekerasan tidak bakal menyelesaikan masalah, bahkan riskan menimbulkan masalah baru. Saya menyukai para pejuang yang membela haknya maupun para jenderal muslim yang bertempur dengan heroik, tapi sejujurnya saya lebih banyak mengidolakan para juru damai. Mereka yang menyerukan perdamaian di tengah konflik, mereka yang berjuang tanpa kekerasan, dan mereka yang mengakkan panji-panji Islam dengan sedikit "meminggirkan" ayat-ayat perang (qital), sembari mengarusutamakan ayat-ayat cinta kasih. Sungguh-pun resiko yang mereka terima lebih besar dibanding dengan cita-cita yang mereka raih.

Di Pakistan, ramai dikisahkan seorang bodyguard yang membunuh bosnya akibat si majikan menghina Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam. Pemuda ini akhirnya digantung sebagai konsekwensi tindakannya. Jenazahnya dishalatkan jutaan kaum muslimin Pakistan. Banyak yang mengagumi tindakannya, lalu bertakbir di fesbuk mennyebarkan kabar pemakamannya. Namun, mungkin karena hati saya yang terlampau berkarat, saya malah tidak menyebarkan kabar ini di dinding fesbuk.

Di Pakistan pula, hati saya malah merinding menyaksikan prosesi pemakaman seorang bapak Pakistan di era pascakolonialisme, Maulana Abdussattar Edhi, 8 Juli 2016 silam. Dia adalah orang besar Pakistan pasca Iqbal, Maududi, Ali Jinah, dan Abdul Ghaffar "Badshah" Khan. Abdussattar adalah pejuang kemanusiaan. Dia mengasuh ratusan panti asuhan, memberdayakan kaum miskin, mendirikan ribuan klinik, merintis jaringan ambulan di hampir seluruh penjuru Pakistan, konsultasi keluarga berencana dan kehamilan, bantuan hukum, medis, dan keuangan gratis bagi tahanan dan orang cacat.

Bersama istrinya, Bilqis, dia berjuang memanusiakan manusia. Dana yang dia terima dari para donatur dikelola untuk kemaslahatan masyarakat tanpa memandang agama dan faksi ideologis. Bersama istri yang setengah abad mendampinginya, Abdussattar hanya tinggal di sebuah apartemen sederhana. Dia hidup bagai paria dengan topangan nurani sekuat permata. Pria dengan kopiah hitam ini benar-benar mempraktikkan isi Surah Al-Ma-un.

Hingga akhir hayatnya, dia masih sering memandikan jenazah orang terlantar dan menyopiri ambulan menjemput orang sakit. Sattar, pria berjanggut kelabu dengan senyum malu-malu itu, memilih berjuang menegakkan kalimatillah justru dengan menjunjung tinggi kemanusiaan. Dia disindir borjuis Pakistan dan diancam bunuh kelompok ekstremis Muslim (nggak usah heran, ekstremisme itu nggak punya agama. Dulu Gandhi yang Hindu taat malah gugur di tangan ekstremis Hindu, dan Indira Gandhi juga diberondong ekstremis Sikh, dan Yitzhak Rabin dibunuh ekstremis Yahudi).

Saya mengagumi Abdussattar seutuhnya, manusianya dan perjuangannya yang tanpa kekerasan. Kekerasan senantiasa menimbulkan ekses negatif pada suatu waktu, dan biasanya melahirkan kekerasan dalam jenis lainnya di satu waktu yang lain. Bagi saya perjuangan non-violence jauh lebih rumit dan kompleks, demikian pula upaya merajut persatuan antar berbagai kelompok. Gandhi di India, Burhanuddin Rabbani di Afganistan, & Ahmad Kadyrov di Chechnya, misalnya, harus mewakafkan nyawanya untuk persatuan bangsanya. Bahkan demi mempersatukan Indonesia, dulu Bung Karno puluhan kali mau dibunuh, dari penggranatan hingga aksi sniper, tapi berkali-kali lolos.

Persatuan itu mahal, kawan!

Di tanah air, mungkin hari ini dan beberapa bulan lagi bakal ada orang yang mengajak perang saudara. Jangan digubris. Ini orang sakit jiwa. Dia tak pernah belajar dari perang saudara di Lebanon selama hampir 30 tahun yang membuat kebangsaan mereka nyaris roboh, dan tak pernah berniat belajar dari Suriah yang hancur lebur. Atau tengoklah Libya, setelah "jihad" melawan Qaddafy, rakyat dapat apa?

Indonesia: fabiayyi ala-i rabbikuma tukadzdziban?
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang