Habib Ali al-Jufri: Hikmah Maulid Nabi di Tengah Kekacauan Zaman

16 December 2016

OLEH: HABIB ALI AL-JUFRI

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman di dalam Al-Quran surah Yunus ayat 58, “Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmat-Nya itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” Sedangkan di ayat 107 surah Al-Anbiya, Allah berfirman, “Dan tiadalah Kami mengutusmu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.”

Inilah ayat-ayat yang menjadi landasan kegembiraan umat Islam atas kelahiran Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Namun di tengah hingar bingar kegembiraan berupa perayaan kelahiran Nabi Muhammad di seluruh dunia (Maulid), saya bertanya kepada diri saya sendiri: bagaimana umat yang hatinya sedang penuh dengan kepedihan bisa betul-betul bergembira? Mulai dari Palestina, Suriah, Irak, Yaman, Mesir, Somalia, Burma, Afganistan, Sudan –dan terus meluas- penuh orang-orang menderita, jeritan para ibu terdengar menangisi anak-anak mereka yang gugur.

Apakah masih ada ruang di hati umat untuk bergembira memperingati Maulid di tengah tragedi semacam ini? Justru saya melihat adanya secercah cahaya di tengah-tengah kegelapan yang menyelubungi kita.

Rasulullah dilahirkan di masa penuh penganiayaan dan kebobrokan. Kelairannya menjadi tanda berakhirnya masa tersebut, ia membawa pesan-pesan yang sangat sesuai dengan kondisi umat manusia secara keseluruhan. Hal inilah yang saya kira sangat sesuai dengan apa yang menimpa kita hari ini dan bisa kita harapkan.

Perubahan sosial yang Rasulullah bawa terhadap jiwa manusia sangat menghantam diri saya. Yakni, ia sanggup mengubah pandangan bahwa manusia itu setara dalam kemanusiaan. Bagi lingkungan masyarakat Arab pra-Islam, tentu perubahan pandangan ini menjadi satu hal yang sangat fenomenal. Ada salah satu peristiwa dalam sejarah kehidupan Rasulullah yang betul-betul menggambarkan misi tersebut.

Suatu hari Rasulullah berjalan bersama para sahabatnya. Di jalan, beliau berpapasan dengan seorang wanita yang nampaknya sedang bermasalah. Wanita itu menghentikan langkah Rasulullah dan meminta bicara dengan beliau berdua saja. Rasulullah menyahut, “Silakan, wahai Ummu Fulan..” Wanita itu kemudian memilih satu jalan dimana mereka bisa berbincang. Ia sangat gembira hingga langkahnya pun terburu-buru.

Rasulullah mengikuti wanita itu, sedangkan para sahabat masih berdiri menyaksikan kejadian ini. Kemudian Rasulullah duduk di atas tanah, di hadapan wanita itu yang sedang menceritakan masalahnya, dengan gerakan-gerakan tangan untuk memperjelas maksud hal yang ia utarakan. Rasulullah kemudian bicara kepada wanita itu dengan lemah lembut dan iba, menjawab segala pertanyaannya, kemudian kembali menuju para sahabat, lalu melanjutkan perjalanan mereka.

Rasulullah memandang dunia ini dengan pandangan kasih sayang. Kasih sayangnya selaras dengan etika yang benar dalam lingkup berhubungan dengan masyarakat. Inilah kualitas kemanusiaan universal yang harus umat Islam –dan umat lainnya- capai.

Salah satu kebiasaan Rasulullah adalah berdiri di luar masjid setelah shalat Subuh dan menemui orang-orang miskin. Mereka biasanya membawa wadah air agar Rasulullah memberkahi air tersebut. Untuk menyenangkan mereka, Rasulullah tetap akan mencelupkan jari jemarinya ka wadah air itu, meskipun saat itu musim dingin parah melanda Madinah.

Ketika ada gadis budak Madinah datang kepadanya, meraih tangannya, mengajak dan memintanya menyelesaikan beberapa masalah, beliau menurut tanpa menghardik dan melepaskan tangannya. Ketika ia menemui seorang pria dan bicara dengannya, ia tidak akan berpaling duluan. Ketika mereka bersalaman, ia tidak akan melepas genggaman duluan. Ketika bersama orang banyak, tak pernah sekalipun ia menjulurkan lutut di depan orang yang duduk bersamanya.

Kita bisa mengetahui semua hal tentang Rasulullah ini sebab segala perbuatannya disaksikan oleh para sahabat, terutama pembantunya, Anas. Selama sepuluh tahun Anas melayani Rasulullah, ia menggambarkan, “Aku melayani Rasulullah selama sepuluh tahun dan ia tak pernah sekalipun menghinaku maupun memarahiku. Ia tak pernah memarahiku jika aku lambat mengerjakan perintahnya. Jika salah satu anggota keluarga memarahiku, ia akan berkata; biarkan saja, yang sudah ditakdirkan terjadi maka pasti terjadi. Ia juga tak pernah sekalipun memarahiku jika melakukan kesalahan dalam pekerjaan.”

Aisyah, istri Rasulullah, berkata tentangnya, “Tak ada satupun orang yang lebih baik akhlaknya dari Rasulullah. Kapanpun sahabat atau keluarganya memanggil, ia selalu menyahut, ‘labbaik.’” Bahkan di dalam Al-Quran, akhlaknya digambarkan sebagai ‘akhlak yang agung’.

Kegagalan kita dalam berhubungan, berbaur, dan berkomunikasi satu sama lain adalah faktor utama penyebab pergolakan masyarakat luas, baik di Timur maupun Barat. Dengan menyempurnakan sikap satu sama lain, kita bisa memperbaiki kondisi rusuh, kacau, dan penuh bencana yang kita lihat saat ini. Inilah ajaran universal yang diajarkan oleh Rasulullah, Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. [Zia]

*Sumber: Diterjemahkan oleh Santrijagad dari The Huffington Post dengan judul asli: 'The Prophet Muhammad’s Birthday: Are We Able to Rejoice?'
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang