Jutaan Massa dan Subyektivitas

6 December 2016

OLEH: ZIA UL HAQ

Bagi yang sejak awal sudah dongkol kepada Aksi Bela Islam 212 yang super damai itu, kerumunan massa sepanjang Monas - Bundaran HI - Thamrin tak berarti baginya. Ia takkan mengamini bahwa mereka datang dengan ilham rabbani, bahwa awan yang teduh dan gerimis yang turun adalah rahmat Ilahi. Ia takkan kagum dengan solidaritas umat Islam yang dengan sukarela saling memberi dan berbagi. Ia tak percaya jika persatuan antargerakan di atas panggung saat itu tulus, baginya itu hanya basa basi politis belaka.

Aksi Bela Islam Jilid III, 2/12/2016
Bagi yang sejak mula memvonis Syiah Bukan Islam dan benci betul terhadap golongan yang identik dengan warna hitam ini, tentu bakal tambah muak melihat dua puluh juta orang lebih berkumpul di Padang Karbala saat peringatan Arbain. Ia akan menafikan bahwa mereka yang berjalan kaki sepanjang makam hingga Karbala itu dituntun oleh semangat juang Imam Husain. Ia akan mencibir awan yang anehnya berderet dari Baghdad ke Karbala di atas jalur para peziarah. Ia akan mencemooh yel-yel anti Daesh (ISIS) dan anti Zionisme yang mereka teriakkan hanya sebagai topeng Taqiyah.

Ziarah Arbain di Karbala, Irak, 2016
Bagi yang keukeuh menolak bid'ah maupun infiltrasi agama ke dalam budaya dalam bentuk apapun, tentu takkan takjub dengan ribuan manusia yang berkumpul dalam satu tempat untuk memuji-muji Nabi. Hatinya tak bergetar melihat ribuan jamaah berkumpul di alun-alun memanggil-manggil nama Allah. Arak-arakan Sultan Brunei bersama rakyatnya dari alun-alun ke Masjid Raya untuk bermaulid baginya bukan suatu ghirah suci agama. Atau kumparan ratusan ribu muslim Sudan mengelu-elukan selembar jubah peninggalan Nabi bukan hal yang mengagimkan baginya.
Perayaan Maulid Nabi di Pakistan, 2014
Bagi yang anti ide penegakan khilafah dan syariat Islam secara formal, tentu hanya menganggap Parade Tauhid sebagai omong kosong. Ia menganggap gurauan ratusan baris umat Islam berkampanye menegakkan syariat yang bagi mereka suatu keharusan. Ia mengejek kibaran bendera syahadat hitam putih oleh para pemuda dengan wajah cerah itu sebagai simbol teroris, padahal itu adalah lambang kedamaian dan ketegasan Islam.
Arak-arakan Parade Tauhid
Bagi yang alergi dengan santri dan kaum Nahdliyyin, tentu bakal terus-terusan menyinyiri pemusatan massa tiap haul kiai besar mereka, tiap muktamar dan harlah mereka, serta tiap ada gelaran Hari Santri tiap tahunnya. Gegap gempita yang ditujukan sebagai syiar agama itu ia anggap hanya buang-buang biaya yang semestinya bisa dipakai sedekah dan sejenisnya.
Harlah NU ke-85 di GBK, Jakarta
Itu adalah beberapa contoh subyektivitas dalam keberagamaan kita, khususnya ketika melihat kumoulan massa, yang kemudian memunculkan standar ganda. Kalau aksi itu 'kami' yang lakukan, inilah ombak! Kalau aksi itu 'mereka' yang lakukan, itu hanya buih!

Contoh di atas masih dalam satu nama besar 'Islam' lho ya, belum lagi kalau kita perluas varian sampelnya. Misal, ambil contoh jutaan massa NAZI yang berkumpul menyesaki seantero Berlin dengan begitu rapi, jutaan baris rakyat Kim Jong Un yang membentuk formasi cantik, ratusan biksu di Thailand bermeditasi dengan keheningan yang menghanyutkan, atau betapa melodis nyanyian rohani ribuan jemaat Katolik di pelataran katedral Vatikan. Tentu akan makin terlihat subyektivitas itu beserta beragam penyangkalan dan kenyinyirannya.
Konsentrasi massa NAZi di Berlin, 1985
Begitu kira-kira. Kebalikan dari subyektivitas ini adalah obyektivitas. Artinya, kita tidak menilai suatu aksi massa dari sisi 'aku-kau', 'kami-kalian', dan 'kita-mereka'. Tapi lebih mengukur pada 'apa' dan 'bagaimana' aksi yang dilakukan.

Nah, ukuran obyektivitas ini -kukira- juga subyektif. Orang yang berminat pada hukum, ya bakal menggunakan kacamata yuridis. Yang berkecimpung di agama, pakai kacamata kitab sucinya. Yang berkutat di pelestarian lingkungan, bakal menggunakan neraca ekologi.

Lhah ternyata dalam Islam ada neraca obyektivitas yang dalam hemat saya kok begitu pas. Kiai Nawawi Banten berujar bahwa tujuan berislam ialah agar kita bisa harmonis dengan dua kutub, yakni kutub Sang Khalik dan kutub sesama makhluk. Itu dia neraca obyektivitasnya; harmoni dengan Khalik, dan harmoni dengan makhluk.

Kemudian penjabaran detilnya bisa kita timbang pada maqashid syariah itu. Yakni penjagaan terhadap agama, penjagaan terhadap kehidupan manusia, penjagaan terhadap keberlangsungan dan moral berketurunan, penjagaan terhadap kepemilikan harta benda, serta penjagaan terhadap nalar. Artinya, konsentrasi massa jika masih dalam koridor memperjuangkan lima hal itu, atau setidaknya tidak menerjang lima penjagaan itu, tentu patut diapresiasi dengan baik. Kalau sebaliknya, ya sebaliknya.

Kekhawatiran sebagian kalangan bahwa pada agenda 212 akan terjadi insiden, rusuh, dan semacamnya, ternyata tak terbukti. Meskipun memang kecurigaan itu beralasan karena beberapa tokoh penggagas aksi tersebut bersimpati terhadap Daesh di awal kemunculannya, bahkan berbaiat kepada khalifahnya.

Walau tuntutan yang disuarakan di Aksi 212 masih 'nggantung', banyak prestasi teknis yang tertoreh dalam aksi tempo hari itu, mulai dari militansi peserta, kerukunan, kerapian, hingga kebersihan lokasi.

Saya pribadi sering melihat kabar lintas globe yang melibatkan konsentrasi massa begitu banyak. Yang paling mirip Aksi 212 ini misalnya demonstrasi jutaan orang di Pakistan awal tahun lalu pimpinan Syaikh Tahir Ul Qadri menuntut boikot pemilu yang juga berlangsung aman dan tertib (meskipun dalam demo ke sekian berujung kisruh). Atau demonstrasi jutaan rakyat Checny yang terkonsentrasi di Grozny dengan orasi Habib Ali Aljufri sebagai bentuk protes atas kasus Charlie Hebdo, juga berlangsung aman.
Demo Pakistan Awami Tahreek, Januari 2013
Massa protes atas penghinaan terhadap Nabi Muhammad di Grozny, Checny
Maka Aksi Bela Islam III 212 kemarin pantaslah kita acungi full jempol secara teknis. Dari neraca obyektivitas di atas pun kita tak menemukan masalah, justru banyak hal positif yang perlu kita belajar dari aksi tersebut. Jutaan peserta itu saya yakin orang-orang yang tulus, yang siap membela keyakinannya kapanpun sekaligus tidak mudah diprovokasi untuk saling bantai sesama anak bangsa.

Namun sayangnya, untuk sementara ini kayaknya pintu kritik masih tertutup. Bila ada satu dua orang yang membuka mulut untuk mengkritik, dia akan langsung disumpal dengan berbagai stempel; munafik, lemah iman, antek liberal, tukang nyinyir, dan seterusnya. Maka tak pelak, untuk saat ini yang bisa mengkritik hanyalah peserta aksi sendiri, otokritik. Itu pun kalau merasa ada yang bisa dikritik, kecuali kalau sudah merasa sempurna segala sisinya.

Mari kita lanjutkan aksi bela Islam ini dalam kehidupan kita masing-masing. Bersamaan dengan aksi membela sesama manusia yang terlemahkan kezaliman, serta membela alam lingkungan yang menjadi tanggung jawab kekhalifahan.

MAY THE FORCE (Quwwatu al-Qawiyy) BE WITH YOU

Krapyak, Selasa Kliwon, 6 Mulud 1438

*Penulis adalah pemred santrijagad.org
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2017 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang