Sembilan Puluh Persen Lebih Kandungan Quran dan Hadits adalah Akhlak

5 January 2017

OLEH: SYAIKH ALI JUM'AH, MUFTI AGUNG MESIR

Saya hendak menyampaikan kepada Anda tentang statistik ajaran di dalam Quran dan Sunnah. Di dalam Quran, ada 6000-an ayat, tepatnya sejumlah 6236 ayat menurut qiraat Imam Hafsh. Dari ribuan ayat tersebut, 300-an ayat di antaranya berbicara tentang perkara hukum (fikih), yakni sekitar 5% dari seluruh ayat Quran.


Sedangkan di ranah hadits, kita punya sekitar 60.000 hadits dalam berbagai tingkatan kekuatan riwayatnya, mulai dari yang dha’if hingga yang sahih. Dari puluhan ribu hadits itu, 2000 di antaranya berbicara perkara fikih. Artinya, sekitar 3% hadits Rasulullah yang tercatat saat ini berbicara masalah hukum.

Lalu pertanyaannya; sisa ayat Quran yang 95% dan hadits yang 97% itu berbicara tentang apa? Ternyata sisanya berbicara tentang akhlak! Dan segala hal yang berkaitan dengan akhlak serta etika, dalam kacamata syariah, sangat erat kaitannya dengan tauhid.

Artinya, 97% ajaran agama kita berbicara masalah akhlak dan perilaku yang sangat terhubung dengan iman. Puncak keimanan dan tauhid adalah keesaan Tuhan, dan puncak dari nilai-nilai moral dan akhlak adalah kasih sayang. Hal ini ditandai di setiap permulaan membaca Al-Quran, kita selalu membaca; Bismillaahirrahmanirrahim; dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Dalam kalimat basmalah ini, konsep tentang kasih sayang disebutkan dua kali (Ar-Rahman dan Ar-Rahim).

Allah Ta’ala memiliki berbagai sifat-sifat keagungan (jalal) dan keindahan (jamal). Sangat bisa jika Allah berkehendak memulai setiap surat dalam Quran dengan dua sifat yang berbeda, misal; dengan Nama Allah, Yang Maha Berkuasa dan Maha Pengasih, atau yang lainnya. Tapi tidak, Allah memulai semuanya dengan dua sifat yang menunjukkan kasih sayang, yakni Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Melambangkan bahwa hubungan seorang hamba dengan Tuhannya berada di antara kepungan kasih sayang dan kasih sayang.

Ada sebuah hadits yang diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam, bahwasanya beliau bersabda, “Orang yang mengasihi akan dikasihi oleh Yang Maha Pengasih. Mahaluhur Ia. Sayangilah mereka yang ada di bumi, maka engkau akan disayangi mereka yang di Langit.” (HR. Thabrani). Di dalam hadits ini, Rasulullah memerintahkan kita untuk mengasihi penduduk bumi. Maka jelas bahwa kasih sayang menjadi dasar bagi etika dan akhlak di dalam Islam, serta apa yang terwujud dari konsep akhlak ini adalah sifat dan sikap cinta kasih.

Hadits tentang kasih sayang ini adalah hadits yang pertama kali dipelajari oleh seorang santri dari guru-gurunya. Hal ini menjadi tradisi dari generasi ke generasi, maka seakan-akan hadits ini menjadi hadits pertama bagi umat Islam.

Jadi, sekarang kita paham. Bahwa inilah pesan utama Quran kita, inilah jalan yang ditempuh Nabi kita, dan inilah ajaran agama kita. Saat kita menyampaikan Islam kepada orang lain (bukan muslim), maka yang kita harus sampaikan adalah tentang akhlak, yang mana akhlak tersebut terpaut dengan keimanan Islam. Sebab, akhlak inilah landasan dimana agama kita berdiri, dan akhlak inilah pijakan dasar bagi hubungan kita dengan orang lain. Maka sampaikanlah kepada mereka tentang 95% kandungan Quran dan 97% kandungan hadits dalam ajaran agama kita ini.

Hal tersebut yang melandasi kami beberapa waktu lalu menulis dokumen kesepahaman antaragama di Amman, Yordania, yakni berupa A Common Word (Kalimatun Sawa’). Yakni berlandaskan pada ajaran tentang mencintai Allah dan mencintai tetangga. Kita harus selalu ingat bahwa inilah ajaran dasar agama kita. Inilah langkah yang tepat untuk meluruskan kesalahpahaman orang terhadap Islam. Pemahaman ini akan memperjelas siapa diri kita sebenarnya, dan bagaimana posisi kita di tengah masyarakat dunia.

Hari ini kita bicara tentang ‘jalan tengah’, moderat, atau di dalam Quran disebut ‘wasathiyyah’ dengan makna yang sangat halus. Allah berfirman,

“…Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), sebagai ummatan wasathan, agar kamu menjadi saksi (syuhada) atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi (syahid) atas (perbuatan) kamu.” (Al-Baqarah:143)

Beberapa ulama menyatakan bahwa istilah ‘wasath’ di dalam ayat ini diibaratkan seperti puncak suatu gunung, tepat berada di tengah-tengah. Dimana setelah kita mendaki kemudian turun, dimana kita bisa melihat semua orang dan semua orang pun bisa melihat kita.

Istilah lain yang digunakan ialah kata ‘syuhada’, bentu jamak dari ‘syahiid’ yang berarti ‘saksi’. Maknanya; orang yang disaksikan dan menyaksikan. Kata ini menunjukkan adanya interaksi antara kita dengan orang lain. Dan di akhir ayat, disebutkan bahwa Rasulullah adalah saksi atas kita. Artinya, beliaulah teladan sempurna bagi kita dalam urusan ini. Teladan dalam menjadi saksi maupun disaksikan dalam peradaban umat manusia. Dari ayat ini, kita memahami bahwa umat Islam adalah umat yang tidak menutup diri terhadap pihak lain, umat yang sangat terbuka.

Keterbukaan umat Islam inilah yang perlu disampaikan kepada sesama muslim maupun non muslim. Siapapun yang menolak konsep keterbukaan Islam ini, dan menutup pintu Islam bagi orang lain, adalah orang yang tak memahami Islam. Sebab kita menyadari bahwa manusia tercipta dalam keberbedaan. Tak bisa disangkal bahwa Allah telah menciptakan perbedaan di antara manusia. Di sinilah kemudian Allah dan Rasulullah memerintahkan kita untuk berdakwah. “Sampaikanlah dariku walau satu ayat,” begitu sabda beliau.

Ketika umat Islam berkembang di wilayah Timur Tengah, kemudian masuk ke Mesir, pada 100 tahun pertama populasi muslim hanya 5% dari keseluruhan penduduknya. Setelah 250 tahun, angkanya meningkat menjadi 25% sebab bertumbuhnya keluarga dan pernikahan. Lalu setelah 450 tahun, menjadi 75%, dan setelah 750 tahun prosentase muslim menjadi 94-97%. Kaum muslimin tidak memasuki wilayah ini dengan membantai. Mereka tidak menjajah daerah-daerah itu. Mereka tidak merampas sumber daya alamnya untuk kemudian diserahkan ke Hijaz sebagai ibukota kaum muslimin pada saat itu. Tidak. Mereka juga tidak mengotori sejarah peradabannya dengan rasisme. Pada saat itu, tidak ada suatu bangsapun selain kaum muslimin yang menjadikan (bekas) budak sebagai pejabat pemerintahnya.

Saat itu umat Islam disegani oleh peradaban dunia sebab akhlak dan kemajuannya, namun kini lihat keadaan kita di tengah umat manusia. Tak lain adalah karena kita lupa terhadap 95% kandungan ajaran agama Islam. Maka suatu kewajiban bagi kita untuk kembali meneladani Rasulullah dalam hal akhlak. Sebagaimana Allah firmankan bahwa, “Sungguh engkau (Muhammad) benar-benar berakhlak agung.

Dalam hal akhlak di tengah peradaban umat manusia ini, kita harus memperhatikan sabda Rasulullah, “Malaikat Jibril terus menerus mengingatkanku tentang tetanggaku, sampai-sampai aku mengira bahwa tetanggaku akan mewarisiku.

Langkah perbaikan akhlak ini harus kita mulai dari diri sendiri. Yakni kita harus mulai memperbaiki perilaku kita pribadi, kemudian mendakwahkannya kepada orang lain, baik muslim maupun non muslim, melalui perilaku dan ucapan. Sebagaimana Rasulullah sabdakan, “Apakah engkau akan melihat kesalahan kecil seseorang yang ada di hadapanmu, sementara kau melupakan kesalahan besar dirimu sendiri?

Imam Fakhruddin ar-Razi mengatakan bahwa semua penduduk di seluruh dunia ini adalah umat Nabi Muhammad. Baik mereka yang sudah menerima dakwah, maupun mereka yang sedang dalam proses mendapat dakwah. Semuanya berhak memahami bahwa ajaran Islam adalah tentang akhlak. Dan iniliah tugas kita untuk mendakwahkan hal tersebut dengan teladan serta penyampaian. Kita mengatakan hal ini bukan karena merespon kondisi dunia yang kacau sekarang, tetapi karena memang beginilah ajaran agama Islam, dan karena kita betul-betul memahaminya. [Zia]

*Diterjemahkan oleh Santrijagad dari transkrip ceramah Syaikh Ali Jum’ah di Churchill College, Universitas Cambridge pada 12 Oktober 2008 yang diprakarsai oleh Radical Middle Way dan Cambridge University Islamic Society.
Share on :
Comments
0 Comments

No comments:

Post a Comment

 
Copyright © 2013-2016 Santrijagad
Didukung Oleh: Santri Foundation | Motto: Mengakar dan Merindang